Selasa, 30 Juni 2015

Reog Ponorogo, Sebuah Kisah Cinta

Atraksi Dadak Merak, Jathil dan Bujang Ganong dalam kesenian Reog Ponorogo (Foto: https://www.flickr.com/photos/37552908@N08/4730171113) 

Titik awal dari sebuah karya seni berpijak pada ide yang terjabarkan dalam torehan-torehan karya atasnya. Banyak hal yang dapat dijadikan ide besar dalam pengolahan sebuah karya, salah satunya adalah cinta. Telah banyak lagu tertulis atas nama cinta, telah banyak puisi terlahir dari rahim cinta, pun terlah banyak tarian indah terwujud dari indahnya cinta. Salah satu karya termahsyur dalam dunia tari atas nama cinta adalah Reog.

Kesenian yang menjadi icon kabupaten Ponorogo ini sarat makna, dan masih dalam berputar dalam garis edar cinta.Percintaan dari Raja Klana Sewandana kepada Putri Raja Kerajaan Kediri, percintaan lintas kerajaan yang akan terkenang abadi.

Sebagaimana telah dibahas pada postingan terdahulu, warok dan bujang ganong merupakan fragmen dari kisah percintaan ini. Raja Klana Sewandana, Pasukan berkuda (jathilan) dan Dadak merak merupakan karakter lain yang ada dalam kisah ini.

Klana Sewandana (Foto: http://flickrhivemind.net/)

Ada banyak versi terkait Reog Ponorogo. Versi resmi yang membahas alur cerita Reog adalah keinginan Raja Ponorogo untuk mempersunting putri dari Raja Kediri. Dalam perjalanan menuju Kediri, Raja Klana Sewandana yang didampingi oleh Patih Pujangga Anon (Bujang Ganong) dicegat oleh Raja Singabarong. Selanjutnya terjadilah pertarungan antara Kerajaan Ponorogo dan Kerajaan Kediri. Pertempuran ini melibatkan ilmu hitam yang sangat mematikan, sehingga tidak jarang terjadi kerasukan dalam pementasan Reog.

Banyak pihak yang meyakini bahwa Reog merupakan warisan budaya adiluhung yang lahir dari adanya aliran kepercayaan yang berkembang turun-temurun. Banyak kisah yang mengikuti kisah ini, terkait ritual-ritual yang harus dijalani oleh semua bagian dari pementasan ini. Namun, terlepas dari hal tersebut Reog merupakan hasil kreasi manusia yang sangat luar biasa sehingga mampu berakar kuat di masyarakat dan menjulang tinggi hingga dikenal di dunia mancanegara.

Sebuah pementasan Reog Ponorogo (Foto: beritahu.org)

Versi lain dari kisah Reog berpijak dari kecintaan Ki Ageng Kutu terhadap Kerajaan Majapahit. Ki Ageng Kutu merupakan seorang abdi kerajaan pada masa Bhre Kertabhumi, Raja Majapahit terakhir yang berkuasa pada abad ke-15. Beliau merasa bahwa Majapahit tidak lagi berjalan dengan sistem yang telah ada, karena adanya pengaruh dari Tiongkok. Karena kecintaannya terhadap kerajaan, Ki Ageng Kutu menciptakan sebuah perguruan kanuragan. Selanjutnya, Ki Ageng Kutu membuat pesan politik yang berisi sindiran terhadap pemerintahan. Dipakailah Reog dalam melancarkan sindiran tersebut.

Lahir dari sebuah rasa cinta, Reog juga menumbuhkan kecintaan masyarakat kepada negara, terutama budaya. Hal ini pernah terjadi saat adanya kontroversi yang muncul karena Reog muncul dalam iklan pariwisata Malaysia. Kontrovesi mereda sejak penetapan Reog sebagai kesenian asli Indonesia dengan dikeluarkannya surat nomor 026377 tertanggal 11 Februari 2004 oleh Menkumham RI tentang hak cipta Reog Ponorogo. Setelahnya pihak Malaysia juga memberikan keterangan terhadap iklan tersebut. [PK]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar