Kamis, 09 Juli 2015

Makna Filosofis Tari Cublak-cublak Suweng

Penari Cublak-cublak Suweng Sanggar Edi Peni Pacitan

Cublak cublak suweng
Suwenge ting gelèntèr
Mambu ketundhung gudèl
Pak empong lera-léré
Sapa ngguyu ndelikkaké
Sir sir pong dhelé kopong
Sir sir pong dhelé kopong


Demikianlah lirik lagu Cublak-cublak Suweng yang populer di kalangan anak-anak Jawa Timur dan Jawa Tengah.Meskipun kepopulerannya mulai tergeser oleh lirik-lirik lagu girllband atau kpop, namun lagu ini masih cukup dikenal di kalangan anak-anak. Penyanyi cilik, Joshua sempat menjadikannya single lagu yang semakin mentasbihkannya menjadi penyanyi cilik kala itu.

Lirik lagu ini jika kita dalami memiliki nilai filosofis yang begitu dalam. Lagu dan permainan bocah ini memberikan pelajaran kepada kita tentang pencarian harta dalam kehidupan ini. Kata suweng yang terdapat pada kalimat pertama berarti "anting" atau secara global kita artikan sebagai perhiasan, kalimat pertama ini bisa kita artikan sebagai upaya untuk menebak di manakah letak harta itu disimpan. Suwenge ting gelèntèr berarti anting tersebut ada di mana-mana. Kalimat ini menunjukkan bahwa sebenarnya harta tersebut dapat berada dan disimpan di mana saja. 

Kalimat ketiga menggunakan kata gudèl (anak kerbau). Penggunaan kata 'anak kerbau' bersifat kontradiktif dengan kata Pak Gempo  yang digunakan pada kalimat selanjutnya. Tentu ada  makna yang sebenarnya ingin disampaikan oleh si pencipta lagu. Kedua kalimat ini bisa menjadi sebuah majas ironi, karena pada kalimat ketiga ditunjukkan bahwa anak-anak (ditunjukkan dengn penggunaan gudèl) dapat mencium/mengetahui keberadaan harta tersebut, sehingga seharusnya Pak Gempo (penggambaran orang dewasa) juga harus dengan mudah mengetahuinya.

Sopo ngguyu ndhelekake berarti siapa yang menyembunyikan akan tertawa. Mungkin bukan tertawa saja, namun yang jelas kata tertawa menunjukkan bahwa seseorang yang menyembunyikan akan berekspresi yang berbeda dari orang lain yang tidak menyembunyikan harta tersebut. Sir sir pong dhelé kopong mengisyaratkan bahwa dalam pencarian harta diperlukan kekosongan/kesucian hati nurani (dhelé kopong, merujuk pada kedelai yang kosong).

Begitulah para leluhur kita memberikan pelajaran yang begitu dalam dalam sebuah hal yang nampaknya sangat dasar dan sepele. Bahwa setiap manusia secara fitrahnya menginginkan memiliki harta yang Tuhan sediakan di seluruh penjuru dunia. Versi lain dari lagu ini bisa kita lihat sebagai berikut,

Cublak cublak suweng
Suwenge ting gelèntèr
Mambu ketundhung gudèl
Nganggo kepudung solek
Sapa gelem ndelikkaké
Sir sir pong delé bodong
Sir sir pong delé bodong

Versi ini terkait dialek yang berkembang di masyarakat. Terkadang kita jumpai lagu cublak-cublak suweng dengan versi yang berbeda dengan kedua versi tersebut.

Penari Cublak-cublak Suweng Sanggar Edi Peni Pacitan

Siswi-siswi SD Negeri Wiyoro I dibawah bimbingan Sanggar Edi Peni Pacitan mencoba membawakan sebuah tarian anak dengan iiringi oleh lagu Cublak-cublak Suweng. Tiga belas bocah perempuan didapuk sebagai penarinya. Dengan membawa pithi sebagai properti, tari Cublak-cublakk Suweng menampilkan keceriaan anak-anak dalam bermain dan melangsungkan dolanan bocah. Kostum cerah pink-biru menambah keceriaan tarian yang ditularkan kepada penonton. [PK]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar