Selasa, 13 Oktober 2015
Sabtu, 26 September 2015
Panjidoran
![]() |
| Penampilan Penari Panjidoran Sanggar Edi Peni di MTF 2006 |
Tari Panjirodan merupakan taria
kreasi Raff Dance Company. Salah satu ciri tarian ini adalah adanya akulturasi
dengan kesenian Islam, karena masuknya musik hadrah sebagai pengiring tarian.
Hadrah merupakan musik yang menyenandungkan tentang keagungan Tuhan serta tugas
Nabi Muhammad sebagai penyeru kepada umat manusia. Sanggar Edi Peni Pacitan
membawakan tari Panjidoran ini pada tahun 2005-2006. Tari Panjidoran
mengantarkan Sanggar Edi Peni Pacitan untuk tampil di Majapahit Travel Fair
(MTF) 2006 di Surabaya.
Di Kulon Progo, DI Yogyakarta,
berkembang kesenian Panjidor yang mungkin menjadi induk dari tari Panjidoran
ini. Kesenian Panjidor di Kulon Progo juga dikenal dengan nama Panjidur.
Kesenian ini merupakan seni komunal yang memadukan tari dan musik. Penarinya
umumnya adalah laki-laki yang berdandan ala prajurit atau militer, sedangkan
musiknya adalah tetabuhan hadrah yang rampak.
![]() |
| Penampilan Penari Panjidoran Sanggar Edi Peni di MTF 2006 |
Dalam kesenian Panjidor di Kulon
Progo, dua tokoh sentral yang diperankan adalah Umarmaya dan Umarmadi. Keduanya
merupakan tokoh yang diambil dari Babad Menak. Umarmaya adalah raja, sedangkan
Umarmadi adalah patih di kerajaan Menak. Umarmadi umumnya ditampilkan sebagai
tokoh yang jenaka berperut buncit.
![]() |
| Penampilan Penari Panjidoran Sanggar Edi Peni di MTF 2006 |
Konon, kesenian Panjidor diadopsi
dari kisah heroik dari tanah Persia yang mengisahkan Wong Agung Jayeng Rana
(Amir Hamzah) dalam menyebarkan agama Islam. Kesenian Panjidor sendiri mulai
berkembang pasca kemerdekaan dan masih lestari hingga saat ini. Jika
ditampilkan dalam jalinan cerita yang utuh, kesenian Panjidor memakan waktu
pentas semalam suntuk. [PK]
Selasa, 15 September 2015
Nostalgia dengan Rury Tiara Facitania
Rury Tiara Facitania, dari namanya saja kita sudah bisa menebak bahwa sang orang tua begitu ngefans dengan Pacitan, sehingga nama Pacitan disematkan di akhir nama putrinya. Rury, demikian wanita cantik kelahiran 3 Oktober 1988 ini dipanggil. Ibu dari Damar Wongso Lesono ini adalah penari utama dalam pagelaran tari kolosal Pacitan Bumi Kaloka di Istana Negara tahun 2014 silam. Artikel ini mengetengahkan obrolan bersama Rury, wanita yang sempat dijuluki Dewi Sekartaji karena kepiawaiannya dalam memerankan tokoh tersebut dalam tarian.
Rury dan Sanggar Edi Peni
Rury, sosok wanita cantik yang doyan thiwul dan jenang piteng memang tak bisa dilepaskan dengan Sanggar Edi Peni. Ibu muda yang saat ini berdomisili di Bekasi, Jawa Barat ini merupakann bagian dari perjalanan Sanggar Edi Peni, sebagaimana Sanggar Edi Peni yang juga menjadi sebagian teman dari perjalanan hidup Rury. Rury Tiara Facitania kecil mulai bergabung dengan Sanggar Edi Peni saat masih duduk di kelas 2 Sekolah Dasar.
"Saat itu saya baru pindah dari Wonogiri ke SDN Hadiluwuh I, lalu langsung ikut les tari ke Sanggar Edi Peni.", kenangnya.
Rury menjadi bagian Sanggar Edi Peni selama stay di Lorok. Selepas SD, Rury melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 3 Ngadirojo. Di sekolah ini, ekstrakurikuler tari dibina oleh Sanggar Edi Peni, sehingga kebersamaan itu masih terus terjalin, bahkan hingga saat Rury mengenyam bangku pendidikan di SMA Negeri 1 Ngadirojo.
"Selepas SMA saya pergi ke Bekasi untuk kuliah. Setelah itu sudah tidak nari bareng lagi dengan Sanggar Edi Peni.", tutur Rury.
![]() |
| Penampilan Rury (tengah) dalam tari Galuh Pambuka saat SMA |
Banyak Kenangan
Setiap kebersamaan pasti akan
menggoreskan kenangan. Kenangan inilah yang akan mendewasakan, kenangan inilah
yang akan menimbulkan kerinduan. Lebih dari 10 tahun menjadi anggota aktif
Sanggar Edi Peni Pacitan, Rury merasakan sangat banyak kenangan. Belajar dan
pentas tari sudah pasti menjadi bagian dari kenangan yang tergoreskan, namun
ada hal lain yang terpatri dalam sanubari Rury.
“Sanggar Edi Peni itu keluarga.
Pak Ito dan Bu Peni sudah seperti orang tua sendiri.”, kenangnya.
Rasa kekeluargaan inilah yang
menjadi sumber kerinduan. Senda gurau, canda dan saling ejek antar teman saat
bersama kadang terlitas dan mengundang rasa kangen datang.
![]() |
| Rury bersama penari Sanggar Edi Peni Pacitan dalam Pementasan di TMII Jakarta |
Sosok Mandiri
Jika Rury punya kenangan tentang Sanggar Edi Peni, maka Sanggar Edi Peni juga punya kenangan tentang wanita yang menekuni belajar ilmu komunikasi di Universitas Bina Sarana Informatika. Adalah Mama Peni, sapaan anak-anak sanggar kepada Ibu Adi Peni memberikan kesan atas Rury. Beliau menggambarkan Rury sebagai anak yang tidak hanya mengandalkan bakat, namun terus menempa diri menjadi yang lebih baik.
Ibu Adi Peni melanjutkan bahwa darah seni yang mengalir dari Sang Ayah terus diasah. Meskipun harus belajar sendirian, Rury siap dan melaksanakan dengan sepenuh hati.
"Rury tidak pernah bergantung kepada temannya. Dia mandiri dan gigih berusaha.", pungkas Ibu Adi Peni.
![]() |
| Kebersamaan Mama Peni, Rury dan Penari Sanggar Edi Peni Pacitan |
Hidup adalah Perjuangan
“Hidup adalah perjuangan.”, quote inilah yang mengawali perbincangan
bersama Rury tentang pelajaran hidup yang ia pelajari saat di Sanggar Edi Peni.
Ia berkisah tentang kondisi finansialnya yang tidak berkelimpahan, sehingga
mengharuskannya menunda membeli beberapa barang yang ia inginkan. Di sini ia
mulai belajar untuk menyisihkan uang hasil tanggapan
untuk ditabung dan dibelikan barang yang ia inginkan. Ia juga menuturkan bahwa
kepiawaiannya menari bisa mengantarkannya menikmati bangku kuliah.
“Sebenarnya ingin kuliah tari di
Malang, tapi kondisi ekonomi tidak memungkinkan. Alhamdulillah, Allah
memberikan kemudahan dengan takdir-Nya yang lain.”, kenangnya.
Rury akhirnya mengambil beasiswa
di jurusan Public Relation di Bina
Sarana Informatika. Beasiswa ini ia dapatkan dengan prestasinya dalam bidang
tari bersama Sanggar Edi Peni, salah satunya sebagai penari Galuh Pambuka yang
menyabet Juara I dalam Festival Tari Jawa Timur tahun 2002. Sambil kuliah, Rury
aktif menari bersama Sanggar Anjungan Jawa Tengah TMII Jakarta.
Senin, 14 September 2015
Tari Galuh Pambuka
![]() |
| Tari Galuh Pambuka Sanggar Edi Peni Pacitan |
Setiap tuan rumah senantiasa berupaya untuk menyambut tamu dengan sebaik-baiknya. Dalam ajaran Islam, memuliakan tetamu juga diajarkan sebagai sebuah kegiatan yang akan membawa berkah. Cara menghargai dan memuliakan tetamu menjadi sebuah hal yang bergantung dengan adat dan kebiasaan yang berkembang pada lingkup keluarga dan masyarakat di mana dia tinggal.
Tari Galuh Pambuka merupakan tarian penyambutan yang berfungsi sebagai salah satu cara untuk menyenangkan tamu yang berkunjung dari sebuah instansi atau daerah lain. Tarian ini umumnya ditarikan pada saat tamu penting datang dalam sebuah acara sebagai rangkaian acara penyambutan. Tari Galuh Pambuka merupakan karya dari Bapak Arif Rofiq, seorang koreografer kawakan serta pimpinan Raff Dance Company.
Tari Galuh Pambuka ditarikan oleh sekelompok gadis dengan gerakan indah untuk memukai para tamu yang datang. Jumlah penari disesuikan dengan kebutuhan, misalkan luar area panggung dan tentunya pertimbangan stok penari dari penampil. Penari Galuh Pambuka akan membawa sebuah properti yang berupa seperti nampan kecil dengan berisi bunga atau sejenisnya untuk dilemparkan di panggung sebagai salam pembuka.
Tari Galuh Pambuka merupakan tarian kreasi yang diciptakan sebagai kado dari Raff Dance Company untuk hari jadi Kota Surabaya. Oleh karena itu, dalam lirik musik pengiringnya beberapa kali diceritakan tentang Surabaya sebagai Kota Pahlawan dan tentang kontribusi perjuangan arek-arek Surabaya dalam kemerdekaan bangsa.
Sanggar Edi Peni Pacitan telah beberapa kali menampilkan tari Galuh Pambuka dalam pementasan, baik untuk pagelaran maupun dalam ajang perlombaan. Sanggar Tari Edi Peni Pacitan pernah menggandeng SMA Negeri 1 Ngadirojo pada saat lomba dengan menyajikan tari Galuh Pambuka ini, dan hasilnya tim penari sanggar Edi Peni keluar sebagai yang terbaik dari semua penampil lomba. [PK]
Minggu, 06 September 2015
Geger Gunung Slurung
![]() |
| Peta Kecamatan Sudimoro Pacitan (Foto: Seputar Sudimoro) |
Peristiwa Geger
Gunung Slurung terjadi pada tahun 1930 saat pemerintah Kolonial Belanda
mengadakan program Cacah Jiwa (Sensus Penduduk). Peristiwa ini terjadi di desa Klepu kecamatan Sudimoro kabupaten Pacitan. Peristiwa tersebut berawal
dari missunderstanding Kromomedjo
akan maksud dari program yang dicanangkan pemerintah Belanda tersebut.Konon, ada peringatan atas peristiwa ini yang dikenal dengan upacara Gembluk Kromomedjo.
Daerah Klepu, pada saat itu, adalah
daerah yang sangat terisolasi dari peradaban yang telah tercipta. Sebagian
besar penduduknya hanya bergantung dari alam di sekitarnya untuk memenuhi
kebutuhan sehari-hari. Tidak ada fasilitas pendidikan yang memadai, karena
sekolah hanya ada di pusat kota atau paling dekat di pusat kawedanan. Adanya barrier ini menyebabkan hampir seluruh
penduduk Klepu tuna aksara.
Tahun 1930 pemerintah Belanda melaksanakan program
Cacah Jiwa (dalam dialek bahasa Jawa: cacah
jiwo) untuk mengetahui data statistik penduduk Indonesia, yang waktu itu
masih disebut Hindia Belanda. Pemerintah Belanda menggandeng pemerintah daerah,
yaitu bupati dan wedana (jabatan setingkat lebih tinggi dari camat) untuk
menggerakkan masyarakat dalam menyukseskan program ini.
Adalah Kromomedjo, salah satu penduduk Klepu yang
memiliki ilmu kanuragan dan sifat keras kepala. Kromomedjo memahami program
“cacah jiwa” ini sebagai sebuah program yang akan menyakiti masyarakat, yaitu
dengan “mencacah jiwa” dari setiap penduduk. Kromomedjo seketika menyatakan
sikap penentangannya terhadap program pemerintah Belanda ini. Mendengar hal
tersebut, beberapa petugas lapangan berusaha untuk menjelaskan makna cacah jiwa
yang sebenarnya, namun karena sifat keras kepala yang dimilikinya, Kromomedjo
tetap bersikeras dengan pemahamannya tersebut.
Pada hari yang ditentukan, Kromomedjo berhasil
mengajak sebagian penduduk untuk turut bersembunyi agar tidak menjadi sasaran
program cacah jiwa. Petugas akhirnya
melaporkan penolakan program ini kepada bupati Pacitan, yang kala itu dijabat
oleh R. Adipati Harjo Tjokronegoro II.
Mendengar laporan tersebut, Bapak bupati turun tangan dan menuju ke tempat
persembunyian Kromomedjo dan pengikutnya. Sesampai di tempat persebunyiaannya,
Adipati Harjo Tjokronegoro II mengajak Kromomedjo untuk berbicara secara
baik-baik. Kromomedjo tetap bersikeras untuk menentang program cacah jiwa
tersebut. Tak hanya dengan kata-kata, Kromomedjo juga menentang dengan jalan
mengacungkan keris Condong Campur ke arah bupati hingga berhasil mengenai dan
melukai Bupati.
Melihat kejadian tersebut, para tentara yang mengiring
bupati terpercik amarahnya sehingga memberondongkan peluru ke arah Kromomedjo.
Tindakan ini menyebabkan beberapa orang pengikutnya tewas, termasuk kedua
saudara Kromomedjo. Kromomedjo sendiri tetap berdiri tegak karena kebal
terhadap senjata api. Akhirnya, Kromomedjo dapat diringkus dan dieksekusi
setelah tentara mengetahui titik kelemahan Kromomedjo.
Peristiwa tragis di Gunung Slurung inilah yang
diiperingati dalam perayaan upacara adat Gembluk Kromomedjo. Dalam perayaan
ini, diharapkan agar generasi penerus bangsa menjadi generasi yang cerdas
sehingga tidak mudah terpancing amarah karena kesalahfahaman. Dengan modal
kecerdasan, seseorang juga dapat melakukan tabayyun
(cross check) atas informasi yang
diterimanya. [PK]
Kamis, 03 September 2015
Wisata Budaya di Kabupaten Pacitan
![]() |
| Peta Budaya Kabupaten Pacitan |
Pacitan adalah sebuah kabupaten di bagian barat daya provinsi Jawa Timur. Pacitan sempat dikenal dengan tagline 'Kota 1001' Goa, namun tahun 2013 lalu, Pemerintah Kabupaten Pacitan kembali menciptakan tagline yang dirasa lebih nyentrik yaitu 'Pacita Paradise of Java'. Dengan tagline ini diharapkan menggenjot pendapatan daerah khususnya di bidang pariwisata.
Usaha ini bukan tanpa dasar, Pacitan adalah salah satu wilayah yang dianugrahi Tuhan dengan begitu banyak keindahan, mulai pantai, goa dan perbukitan yang menjulang. Pantai Klayar adalah pantai yang paling hits belakangan ini, hingga mengundang maestro campursari, Didi Kempot, untuk menciptakan lagu berlatar pantai di kecamatan paling barat ini. Obyek wisata goa yang sempat menjadi andalan masih mengedepankan gua gong dan gua tabuhan sebagai primadona. Obyek wisata lain seperti pendakian Gunung Limo, penelusuran Sungai Maron, pemandian air hangat atau wisata edukasi penangkaran penyu bisa menjadi pilihan.
Obyek wisata bukan hanya karena keindahan yang diciptakan Tuhan, namun juga dapat berupa aktivitas manusia yang membudaya. Tradisi-tradisi yang terus dijaga perlu disaksikan, lebih jauh perlu ditelisik lebih mendalam. Salah satu tradisi yang masih terus dijaga eksistensinya adalah upacara adat. Upacara adat menjadi upaya manusia untuk menyatu dengan alam sebagai anugrah Sang Pencipta.
Ceprotan adalah upacara adat di Kabupaten Pacitan yang menjadi salah satu primadona. Upacara yang berlatar puji syukur atas kemakmuran desa Sekar, kecamatan Donorojo terus dilestarikan. Upacara lain yang tak kalah tenar adalah Jangkrik Genggong di kecamatan Ngadirojo. Berlokasi di pesisir samudra, aroma mistis nampak dari upacara ini. Bahkan, beberapa karya seni juga berpijak dari upacara yang digelar sekali dalam setahun ini. Beberapa upacara lain adalah Baritan, Mantu Kucing, Badut Sinampurno, Methik Pari dan Jemblung Somopuro.
Tak hanya itu, Pacitan juga masih menyimpan aset wisata lain. Sebut saja Wayang Beber yang menjadi khas dan sempat diabadikan dalam sebuah buku. Selain itu, beberapa cerita rakyat masih berhubungan dengan terciptanya kesenian di wilayah setempat. Edisi mendatang, kami akan coba ketengahkan wisata-wisata budaya lain di Kabupaten Pacitan. Enjoy Pacitan!! [PK]
Rabu, 02 September 2015
Inspirasi Seni dari Upacara Adat Jangkrik Genggong
![]() |
| Upacara Adat Jangkrik Genggong di Tawang kabupaten Pacitan |
![]() |
| Upacara Adat Jangkrik Genggong di Tawang kabupaten Pacitan |
Manusia merupakan makhluk Tuhan Yang Maha Esa dengan kemampuan cipta, rasa dan karsa. Kemampuan ini menjadikan menusia mampu mendayagunakan apapun di sekelilingnya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Pun dalam bidang seni, salah satu bagian dari kehidupan manusia yang tercipta untuk memenuhi kebutuhan batiniah akan ketenteraman dan keindahan. Seni dilahirkan oleh manusia dan akan ditinggalkan sebagai sebuah kebudayan dari satu peradaban.
![]() |
| Upacara Adat Jangkrik Genggong di Tawang kabupaten Pacitan |
![]() |
| Penampilan Sendratari Jangkrik Genggong Sanggar Edi Peni di TMII Jakarta |
Upacara Jangkrik Genggong yang melegenda di daerah Tawang, desa Sidomulyo Pacitan juga menjadi sumber inspirasi seni. Beberapa seniman telah melahirkan beberapa karya yang bersumber pada upacara adat ini, termasuk sanggar Edi Peni. Beberapa karya telah lahir berpijak dari cerita rakyat yang berlatar belakang mistis di pesisir selatan Jawa ini.
![]() |
| Penampilan Sendratari Jangkrik Genggong Sanggar Edi Peni di HUT Pacitan |
Jangkrik Genggong pertama kali diangkat ke dalam sendratari tahun 2003 oleh sanggar Edi Peni. Pada tahun tersebut, sendratari Jangkrik Genggong ditampilkan dalam puncak peringatan Hari Jadi Kabupaten Pacitan tahun 2003. Selanjutnya, sendratari Jangkrik Genggong garapan Sanggar Edi Peni menjadi wakil kabupaten Pacitan dalam Lomba Seni Pertunjukkan di Suarabaya. Dalam ajang tersebut, sendratari Jangkrik Genggong masuk dalam jajaran 10 Penyaji Terbaik. Masih di tahun 2003, sendratari Jangkrik Genggong berkesempatan untuk tampil di anjungan Jawa Timur Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Turun full team, sendratari tersebut menceritakan secara utuh dari kemagisan acara di pesisir Laut Tawang, Sidomulyo tersebut.
![]() |
| Sosok Wonocaki dan Rogobahu (Penampilan Sendratari Jangkrik Genggong Sanggar Edi Peni di TMII Jakarta) |
![]() |
| Penampilan Sendratari Jangkrik Genggong Sanggar Edi Peni di TMII Jakarta |
Sukses dengan tema besar kisah Jangkrik Genggong, Sanggar Edi Peni mencoba menyajikan legenda tersebut dalam fragmen-fragmen tari yang tak kalah menarik. Sebelas tahun pasca pementasan perdana sendratari Jangkrik Genggong, lahirlah tari Gadhung Mlathi. Tarian ini menggambarkan sosok centil yang suka jahil dan merasuki warga yang memakai baju dengan warna-warna yang ia senangi. Gadhung Mlathi akan merasuk dan ngedan. Pada puncaknya, Gadhung Mlathi minta diadakan tayuban lengkap dengan sesaji yang ada. Kisah lengkap tentang tari Gadhung Mlathi bisa dilihat di sini.
![]() |
| Tari Gadhung Mlathi yang bersumber dari Legenda Jangkrik Genggong |
Tahun ini, tercipta tiga buah tari yang bersumber dari upacara adat Jangkrik Genggong. Tari Topeng Sumur Gedhe adalah tari yang pertama. Tarian ini mnceritakan sosok penunggu pepunden Sumur Gedhe, yaitu Gadhung Mlathi. Karakter tariannya memang serupa dari tari Gadhung Mlathi, namun perbedaannya, tarian ini menggunakan properti topeng dalam penampilannya. Topeng dibuat sedemikian rupa hingga menggambarkan sosok Gadhung Mlathi yang cantik, jahil dan enerjik. Artikel lengkap tentang tari Topeng Sumur Gedhe bisa dilihat di sini.
![]() |
| Tari Topeng Sumur Gedhe yang bersumber dari Legenda Jangkrik Genggong |
Karya kedua tahun 2015 ini adalah Tari Topeng Wonocaki. Berbeda dengan Gadhung Mlathi yang berkarakter sebagai perempuan, Wonocaki adalah sosok gagah penguasa pepunden Teren. Wonocaki diceritakan sebagai sosok yang berwibawa dan cinta terhadap tanah air. Kecintaannya kepada tanah air digambarkan dengan sikap yang gagah dan siap sedia dalam membela Ibu Pertiwi. Jika Anda tertarik untuk membaca lebih jauh, deskripsi karya tari Topeng Wonocaki ada di dalam tautan berikut.
![]() |
| Tari Topeng Wonocaki yang bersumber dari Legenda Jangkrik Genggong |
![]() |
| Sendratari Genggongan Mangslup yang bersumber dari Legenda Jangkrik Genggong |
Sosok Wonocaki, sang penguasa pepunden Teren kembali dijadikan sebagai inspirasi tarian,yaitu sendratari Genggongan Mangslup. Tarian ini menunjukkan kewibawaan Wonocaki dalam mengatasi huru-hura yang disebabkan Gadhung Mlathi sedang menggila. Dikisahkan dalam sendratari ini, Gadhung Mlathi sedang gundhah gulana dan menginginkan adanya tayuban, namun tidak disetujui oleh Rogo Bahu. Karena keinginannya tidak dituruti, Gadhung Mlathi mangslup (merasuk) ke dalam raga manusia dan menyebabkan kekacauan. Wonocaki ditugaskan untuk mengatasi kekacauan itu. Kisah lebih lengkap bisa Anda baca dengan mengunjungi tautan berikut. [PK]
Selasa, 01 September 2015
Upacara Adat Jangkrik Genggong
![]() |
| Upacara adat Jangkrik Genggong di Tawang Pacitan (Foto: Doc. Pacitan) |
Jangkrik Genggong merupakan
upacara adat di dusun Tawang desa Sidomulyo kecamatan Ngadirojo kabupaten
Pacitan. Upacara adat ini dilaksanakan sekali dalam setahun, yaitu tiap hari
Selasa Kliwon (Anggara Kasih) bulan Selo (Longkang/Dzulqo’dah). Penamaan Jangkrik Genggong diambil dari gendhing
tayub klangenan (kesukaan) dari
Wonocaki, salah satu sosok yang dipercaya warga setempat sebagai danyang punden (makhluk halus penunggu
tempat yang dikeramatkan).
Pelaksanaan upacara adat Jangkrik
Genggong dilengkapi dengan sesaji yang berupa krawon kemadhuk, bothok iwak
pajung (kakap merah), dan tlethong
jaran putih (kotoran kuda putih). Sesaji yang ada nantinya akan dibawa
untuk prosesi doa oleh sesepuh adat daerah setempat. Konon, iwak pajung akan melimpah di laut setempat
sesaat sebelum acara Jangkrik Genggong dilaksanakan. Setelah prosesi acara,
umumnya nelayan akan panen ikan dalam skala yang lebih besar dari biasanya.
Sebagian masyarakat percaya bahwa seorang anak laki-laki yang siap untuk melaut
kali pertama harus mengikuti acara Jangkrik Genggong terlebih dahulu.
![]() |
| Upacara adat Jangkrik Genggong di Tawang Pacitan (Foto: Doc. Pacitan) |
Cerita rakyat Jangkrik Genggong
dilatarbelakangi oleh adanya beberapa pepunden
di daerah Tawang, Sidomulyo. Setiap pepunden
tersebut memiliki sosok penguasa (dalam bahasa Jawa disebut seng mbahurekso) masiing-masing,
misalnya Rogo Bahu menguasai Glandhang Plawangan, Gadhung Mlathi menguasai
Sumur Gedhe, Mangku Negara menguasai Sumur Pinggir dan Wonocaki menguasai
Teren. Masing-masing sosok penguasa tersebut akan merasa nyaman jika masyarakat
setempat melaksanakan agenda tahunan bersih desa dan dilanjutkan dengan
tayuban. Setiap sosok penguasa memiliki gendhing klangenan masing-masing sesuai dengan karakter dan selera sosok seng mbahurekso tersebut.
Upacara adat Jangkrik Genggong
secara utuh dimulai satu hari sebelum puncak acara, yaitu hari Senin Wage (Soma
Cemeng). Pada hari Senin Wage tersebut, seluruh warga melakukan agenda bersih
desa, terutama membersihkan pepunden
yang ada. Pada malam harinya, diadakan acara tirakatan bersama seluruh warga
dusun.
![]() |
| Upacara adat Jangkrik Genggong di Tawang Pacitan (Foto: Doc. Pacitan) |
Acara dilanjutkan pada Selasa
Kliwon pagi, di mana setiap warga akan membawa encek yang berisi tumpeng. Bagi warga yang memiliki sukerto (misalnya akan melakukan tradisi
ruwatan atau memiliki ujar) akan
membawa sesaji sesuai dengan aturan yang ada. Seluruh sesaji dan tumpeng
dikumpulkan dalam suatu tempat dan selanjutnya sesepuh adat akan melakukan doa
atas tumpeng dan sesaji yang terkumpul. Sesaji yang telah didoai selanjutnya
diantar ke masing-masing pepunden. Acara dilanjutkan dengan kembul bujana (makan bersama) oleh
seluruh warga masyarakat.
| Upacara adat Jangkrik Genggong di Tawang Pacitan (Foto: Doc. Pacitan) |
Tayub dilaksanakan sebagai
penutup acara. Sebelum agenda tayuban bagi warga masyarakat, dilakukan tayub
sakral yang diperankan oleh lima orang lelaki asli dusun Tawang, Sidomulyo.
Kelima lelaki ini merupakan pengejawantahan sosok penguasa pepunden yang ada. Secara berurutan, kelima lelaki yang memerankan
Rogo Bahu, Gambir Anom, Sumur Wungu dan diakhiri Wonocaki melaksanakan tayub
dengan gendhing klangenan
masing-masing. Gendhing tersebut antara lain cakra negara, samirah, godril, ijo-ijo dan diakhiri dengan gendhing
jangkrik genggong.
Senin, 31 Agustus 2015
Upacara Adat Srumbung Mojo
![]() |
| Upacara Adat Srumbung Mojo Pacitan (Foto: Wema) |
Upacara adat Srumbung Mojo berlangsung di dusun Mojo desa Punung kecamatan Punung kabupaten Pacitan. Dinamai dusun Mojo karena dahulu di tempat ini banyak dijumpai pohon buah Mojo.
Upacara adar Srumbung Mojo berpijak dari cerita rakyat yang berkembang di masyarakat setempat. Cerita tersebut berkisah antara Kyai Santri dan Dewi Ratri. Alkisah, Dewi Ratri berguru pada Kyai Santri, salah satunya tentang alat musik Gender (salah satu perangkat gamelan). Ada kabar yang berhembus terkait kedekatan Kyai Santri dan Dewi Ratri. Dalam kabar tersebut, Dewi Ratri dinyatakan berselingkuh dengan Kyai Santri. Kabar tak sedap itu sampailah ke telinga suami Dewi Ratri. Terbakar cemburu, emosi suami Dewi Ratri memuncak dan akhirnya membunuh Kyai Santri. Sebelum ajalnya datang, Kyai Santri berujar jika darah yang menetes dari tubuhnya berwarna putih, maka dia tidak bersalah.
Benar saja, darah yang keluar dari tubuh Kyai Santri berwarna putih. Akhirnya, suami Dewi Ratri percaya akan kesetiaan istrinya. Dia pun menyesal atas apa yang diperbuatnya secara tergesa-gesa. Jasad Kyai Santri dimakamkan dan dikenal dengan nama Srumbung Mojo. Konon, Srumbung Mojo merupakan sebuah tempat yang dipercaya memberikan tuah, sehingga sampai saat ini masih ada warga yangn datang untuk nyadran (bersih kubur) dan nguari ujar (menunaikan nadzar/janji). [PK]
Minggu, 30 Agustus 2015
Upacara Adat Jemblung Somopuro
![]() |
| Kesenian Wayang Jemblung (Foto: Trasmara) |
Upacara adat Jemblung Somopuro adalah tradisi yang dilakukan pada saat-saat tertentu di desa Bungur kecamatan Tulakan kabupaten Pacitan. Upacara ini dilakukan untuk mengenang seniman jemblung yang bertapa di Gua Somopuro.
![]() |
| Gua Somopuro, Tulakan, Pacitan (Foto: Miranti) |
Jemblung adalah sebuah sarana dakwah Islam yang dibawa dari Banyumas, Jawa Tengah. Proses dakwah makin menyebar dan meluas, sehingga jemblung akhirnya sampai di daerah Pacitan, Ponorogo, Kediri dan Blitar. Jemblung merupakan seni teater tutur. Dalam satu pementasan, kesenian jemblung melibatkan empat hingga lima seniman/seniwati, umumnya satu wanita dan sisanya laki-laki. Kesenian jemblung tidak menggunakan gamelan atau alat musik lain, sehingga murni mengandalkan kemampuan tutur para pemainnya, baik dalam percakapan maupun untuk suara latar. Inilah yang menjadikan kesenian ini unik, dari suara 4-5 pemainnya bisa menghasilkan seluruh tokoh dan suara latar yang disajikan dalam sebuah pementasan.
![]() |
| Wayang Jemblung Khas Banyumas (Foto: Stefanus) |
Semangat seniman jemblung dalam
menyebarkan ajaran Islam inilah yang diperingati dalam upacara adat.
Diharapkan, generasi penerus bangsa mampu mempunyai semangat yang pantang
menyerah dalam berkarya dan berbakti pada nusa dan bangsa. [PK]
Langganan:
Postingan (Atom)





























