Jumat, 10 Juli 2015

Maestro Campursari Didi Kempot Abadikan Pantai Klayar

Didi Kempot diapit Bupati dan Kepala Disbudparpora Kab. Pacitan di Pantai Klayar (Wasi Prayitno)
Pacitan memiliki peluang yang makin besar dalam pengembangan bidang pariwisata. Sebagaimana yang disebutkan oleh Budayawan, Sutejo, bahwa masa depan kabupaten Pacitan ada di sektor pariwisata, terutama pengembangan pantai. Pacitan memang dianugrahi pantai yang indah, yang notabene masih perawan. Sebut saja, Klayar, Srau, Watu Karung, Teleng Ria, Soge, Wawaran, Sidomulyo, Taman hingga Kunir di daerah Sudimoro.

Baru-baru ini, seorang maestro campur sari, Didi Kempot, mengabadikan indahnya pantai Klayar dalam sebuah lagu campur sari. Sontak, hal ini disambut baik oleh pemerintah daerah dan segenap masyarakat Pacitan. Hal positif ini semoga bisa menjadi satu pendongkrak pendapatan daerah di bidang pariwisata.

Tampilan awal video Pantai Klayar - Didi Kempot yang diunggah di laman Youtube


Berikut lirik lagu yang ditulis Didi Kempot,

Tulung sawangen sawangen aku
Sing nandang rindu
Oh tulung muliho
Senandyan sedelo aku wis lilo

Samar ati iki samar
Yen nganti kowe lali janjimu neng pantai klayar
Samar ati iki samar
Yen nganti kowe tego ninggal aku ganti pacar

oouuoo
Sedelo wae aku ora bisa
Adoh kowe neng opo ninggalke lungo
Sekedep netro aku ora lilo
Yen kowe nganti gandheng karo wong liyo

Burune segoro kutho pacitan
Nyimpen janjimu seprene ora ilang
Burune segoro kutho pacitan
Pantai klayar seng nyimpen sewu kenangan
ouuoo


Pantai Klayar menjadi judul dan tema lagu campursari yang berdasarkan tempat. Sebelumnya, Didi Kempot menulis lagu dengan berlatarkan Terminal Tirtonadi, Stasiun Balapan Solo, Pelabuhan Tanjung Mas Semarang dan Pantai Parangtritis. Dalam video yang sudah tersedia, nampak Bapak Bupati Pacitan beserta istri mesra saat didapuk menjadi artis dadakan.

Bupati Pacitan dan istri dalam video campursari Pantai Klayar

Dalam video tersebut, Bapak Bupati dan Ibu menjalankan beberapa scene adegan, salah satunya di pantai Klayar, sedangkan scene lain nampak ibu Bupati seakan gusar menunggu kehadiran Bupati di pendopo kabupaten. Bagi yang ingin menikmati lagunya, sudah dapat  dinikmati di laman Youtube. Selamat bercampursari.... [PK]

Kamis, 09 Juli 2015

Makna Filosofis Tari Cublak-cublak Suweng

Penari Cublak-cublak Suweng Sanggar Edi Peni Pacitan

Cublak cublak suweng
Suwenge ting gelèntèr
Mambu ketundhung gudèl
Pak empong lera-léré
Sapa ngguyu ndelikkaké
Sir sir pong dhelé kopong
Sir sir pong dhelé kopong


Demikianlah lirik lagu Cublak-cublak Suweng yang populer di kalangan anak-anak Jawa Timur dan Jawa Tengah.Meskipun kepopulerannya mulai tergeser oleh lirik-lirik lagu girllband atau kpop, namun lagu ini masih cukup dikenal di kalangan anak-anak. Penyanyi cilik, Joshua sempat menjadikannya single lagu yang semakin mentasbihkannya menjadi penyanyi cilik kala itu.

Lirik lagu ini jika kita dalami memiliki nilai filosofis yang begitu dalam. Lagu dan permainan bocah ini memberikan pelajaran kepada kita tentang pencarian harta dalam kehidupan ini. Kata suweng yang terdapat pada kalimat pertama berarti "anting" atau secara global kita artikan sebagai perhiasan, kalimat pertama ini bisa kita artikan sebagai upaya untuk menebak di manakah letak harta itu disimpan. Suwenge ting gelèntèr berarti anting tersebut ada di mana-mana. Kalimat ini menunjukkan bahwa sebenarnya harta tersebut dapat berada dan disimpan di mana saja. 

Kalimat ketiga menggunakan kata gudèl (anak kerbau). Penggunaan kata 'anak kerbau' bersifat kontradiktif dengan kata Pak Gempo  yang digunakan pada kalimat selanjutnya. Tentu ada  makna yang sebenarnya ingin disampaikan oleh si pencipta lagu. Kedua kalimat ini bisa menjadi sebuah majas ironi, karena pada kalimat ketiga ditunjukkan bahwa anak-anak (ditunjukkan dengn penggunaan gudèl) dapat mencium/mengetahui keberadaan harta tersebut, sehingga seharusnya Pak Gempo (penggambaran orang dewasa) juga harus dengan mudah mengetahuinya.

Sopo ngguyu ndhelekake berarti siapa yang menyembunyikan akan tertawa. Mungkin bukan tertawa saja, namun yang jelas kata tertawa menunjukkan bahwa seseorang yang menyembunyikan akan berekspresi yang berbeda dari orang lain yang tidak menyembunyikan harta tersebut. Sir sir pong dhelé kopong mengisyaratkan bahwa dalam pencarian harta diperlukan kekosongan/kesucian hati nurani (dhelé kopong, merujuk pada kedelai yang kosong).

Begitulah para leluhur kita memberikan pelajaran yang begitu dalam dalam sebuah hal yang nampaknya sangat dasar dan sepele. Bahwa setiap manusia secara fitrahnya menginginkan memiliki harta yang Tuhan sediakan di seluruh penjuru dunia. Versi lain dari lagu ini bisa kita lihat sebagai berikut,

Cublak cublak suweng
Suwenge ting gelèntèr
Mambu ketundhung gudèl
Nganggo kepudung solek
Sapa gelem ndelikkaké
Sir sir pong delé bodong
Sir sir pong delé bodong

Versi ini terkait dialek yang berkembang di masyarakat. Terkadang kita jumpai lagu cublak-cublak suweng dengan versi yang berbeda dengan kedua versi tersebut.

Penari Cublak-cublak Suweng Sanggar Edi Peni Pacitan

Siswi-siswi SD Negeri Wiyoro I dibawah bimbingan Sanggar Edi Peni Pacitan mencoba membawakan sebuah tarian anak dengan iiringi oleh lagu Cublak-cublak Suweng. Tiga belas bocah perempuan didapuk sebagai penarinya. Dengan membawa pithi sebagai properti, tari Cublak-cublakk Suweng menampilkan keceriaan anak-anak dalam bermain dan melangsungkan dolanan bocah. Kostum cerah pink-biru menambah keceriaan tarian yang ditularkan kepada penonton. [PK]

Rabu, 08 Juli 2015

TARI GAJAH

Tari Gajah Sanggar Edi Peni Pacitan

Gajah merupakan salah satu hewan yang populer di kalangan anak-anak. Ukuran badan gajah yang besar membuat gajah menjadi mudah dikenali. Selain itu, gajah memiliki ciri khusus yang menjadikannya hewan unik, sebut saja belalai, gading dan telinga yang lebar. Alasan tersebut mungkin cukup bagi para sastrawan untuk mengangkat gajah menjadi karakter pada beberapa fabel yang terkenal.

Bukan hanya pada kalangan sastrawan, para koreografer juga melirik gajah menjadi satu inspirasi tarian. Selain karena gajah sudah populer di kalangan anak-anak, gajah juga merupakan salah satu hewan khas yang hidup di daerah Sumatera, Indonesia. Informasi inilah yang menjadi bahan dasar tarian yang dituangkan dalam gerakan-gerakan tari Gajah.

Tari Gajah ditampilkan oleh siswa-siswa kelas rendah SDN Wiyoro I dalam acara Pelepasan Kelas VI. Acara yang dikemas dalam sebuah pentas seni ini memang menjadi daya tarik dan kebanggaan, baik bagi pihak sekolah, orang tua, maupun masyarakat sekitar.

Tari Gajah merupakan cerita tentang deskripsi gajah secara utuh. Pada awal tarian, penari digambarkan sebagai gajah yang memasuki arena. Penari datang dengan berjalan tidak terlalu lincah dengan menggerak-gerakkan kedua tangannya, mirip dengan gerakan belalai saat gajah berjalan. Penari juga menggambarkan bahwa gajah selalu hidup dalam kawanan, sehingga tidak dapat dipisahkan dari gajah-gajah yang lain. Tingkah polah inilah yang akhirnya dikemas dalam sajian utuh Tari Gajah.

Syair yang dinyayikan waranggana menyebutkan bahwa gajah bukan merupakan hewan asli Jawa, namun berasal dari Tanah Andalas. Syair ini menjadi seakan tutur dari orang tua yang sedang mendongeng kepada anak-anaknya.

Selain gajah, ayam juga merupakan hewan yang menjadi inspirasi dalam sebuah tarian. Meskipun kedua hewan ini menjadi inspirasi untuk tarian anak-anak, bukan berarti karakter hewan memang selalu disajikan sebagai tarian anak. Pada edisi-edisi mendatang, akan coba dibahas tentang tarian dewasa yang juga bercerita tentang hewan. Jangan lewatkan :) [PK]

Selasa, 07 Juli 2015

Gamelan, Sebuah Mahakarya Orkestra [Bagian 4-habis]

Kolaborasi Gamelan - Klonthong & Jengglur Sanggar Edi Peni Pacitan

 ...
Gamelan merupakan salah satu akar dari budaya masyarakat Jawa yang penuh dengan pesan hidup. Gamelan menggambarkan cara hidup dan cara pandang masyarakat Jawa yanng senantiasa mencoba menyelaraskan pandangan jasmani dan rohani dalam balutan suara yang lembut. Selain berfungsi sebagai sarana estetika, gamelan juga terkait dengan nilai-nilai sosial, moral dan spiritual.

Dalam perkembangannya, gamelan tidak hanya berdiri sendiri sebagai seperangkat alat musik tradisional yang hanya dapat dinikmati di istana keraton atau acara-acara adat belaka. Saat ini, gamelan telah banyak dikombinasi dengan instrumen musik yang lain. Gamelan yang pentatonis telah banyak dimainkan bersama dengan aliran musik jazz yang memiliki sistem nada diatonis.

Baru-baru ini musisi Jazz kenamaan, Dwiki Darmawan, menggelar konser di London, Inggris. Dalam konser yang digelar sebagai ajang promosi pariwisata Indonesia ini, Dwiki Darmawan menggandeng pemain perkusi virtouso Tiongkook, Bei-bei Wong dan pemain gamelan, Aris Daryono.  Dwiki mengakui adanya sensasi baru dari spontanitas dengan tetap mempertahankan keagungan skala nada pelog slendro khas Indonesia.

Sebelumnya, gamelan juga dipadu dengan suara biola dan chello serta alat musik modern lain, seperti gitar, bas, dan drum. Adalah komunitas grup musik De Concerto yang menggelar pentasnya di atrium mall Paragon Semarang. Dalam penampilan yang membawakan 60 judul lagu ini, banyak lagu-lagu hits yang dibawakan. Sebut saja lagu tradisional Jawa Gambang Semarang hingga lagu bercorak mandarin, Once Upon a Time in China, serta lagu Barat seperti Over the Rainbow dan Mission Imposible.

Sanggar Edi Peni Pacitan bahkan memadu suara gamelan dengan suara klonthong (kalung yang biasa diletakkan di leher sapi) dan jengglur (alat perkusi semacam bedug). Perpaduan ini merupakan karya yang dituangkan dalam tari Klonthong Jengglur dan dipentaskan dalam Puncak Perayaan HUT Pacitan.


Gamelan Jawa merupakan bukti keindahan dari hal-hal yang beragam dan dipersatukan dalam satu aturan. Keindahan ini juga masih dapat terasa saat berpadu dengan alat musik yang lain, bahkan dari genre yang berbeda. Semoga kita dapat mengambil pelajaraan dari indahnya suara gamelan. [PK]

Senin, 06 Juli 2015

Gamelan, Sebuah Mahakarya Orkestra [Bagian 3]


Tim Penabuh Gamelan SMP 1 Ngadirojo - Sanggar Edi Peni Pacitan

...
Gamelan Jawa merupakan bentuk harmonisasi seperangkat alat musik yang menghasilkan nada-nada indah dan digunakan untuk mengiringi gending, wayang, ketoprak dan tarian. Sebagai sebuah ansambel musik, gamelan memiliki banyak komponen, pada bagian ini, kita akan membahas tentang macam-macam anggota alat musik yang menjadi komponen gamelan.

Gamelan Jawa adalah musik dengan nada pentatonis. Satu permainan gamelan komplit terdiri dari dua putaran, yaitu slendro dan pelog. Slendro memiliki 5 nada per oktaf, yaitu 1 2 3 5 6 [C- D E+ G A] dengan perbedaan interval kecil. Pelog memiliki 7 nada per oktaf, yaitu 1 2 3 4 5 6 7 [C+ D E- F# G# A B] dengan perbedaan interval yang besar. Komposisi musik gamelan diciptakan dengan beberapa aturan, yaitu terdiri dari beberapa putaran dan pathet, dibatasi oleh satu gongan serta melodinya diciptakan dalam unit yang terdiri dari 4 nada.
Perangkat Gamelan Jawa (Sumber: Zainbe)

Berikut perangkat gamelan Jawa:
GONG
Gong mengacu pada alat musik yang digantung dengan posisi vertikal dengan ukuran sedang maupun besar. Gong dimainkan dengan cara ditabuh pada pencu (bagian bundar di tengahnya) dengan tabuh yang dilapisi dengan kain. Gong umumnya merupakan tanda awal dan akhir dari gending. Gong sendiri dibedakan atas (1) Gong Ageng dan (2) Gong Suwukan.

Gong Ageng merupakan gong yang berukuran besar dengan fungsi untuk menandai permulaan dan akhir kelompok lagu dasar. Gong Suwukan merupakan gong yang berukuran sedang, gong jenis ini ditabuh sebagai tanda akhir dari sebuah gending yang berstruktur pendek, misalnya srepegan, lancaran dan sampak.

BONANG
Merupakan satu set alat musik yang terdiri atas 10-14 gong-gong kecil. Bonang disusun dengan posisi horizontal dalam dua deretan yang diletakkan di atas tali yang direntangkan pada bingkai kayu. Dikenal bonang barung dan bonang penerus dalam perangkat gamelan.

Bonang barung berukuran sedang yang memiliki wilayah oktaf tengah hingga tinggi. Pola nada yang dihasilkan bertugas sebagai antisipasi nada-nada lanjutan, penuntun instrumen-instrumen lain, kecuali pada tabuhan imbal-imbalan. Sedangkan bonang penerus merupakan bonang yang berukuran kecil dengan wilayah oktaf tinggi. Bonang penerus dimainkan dengan pola kecepatan lebih tinggi daripada bonang barung, dan biasanya dimainkan pada pola lagu jalin-menjalin.

CELEMPUNG
Celempung merupakan Instrumen kawat yang dipetik, dibingkai pada semacam gerobogan (juga berfungsi sebagai resonator), memiliki dua pasang kaki, kaki muka lebih  tinggi dari sepasang kaki belakang, memiliki tiga-belas pasang kawat yang ditegangkan antara paku untuk melaras (di atas) dan paku-paku kecil (di bawah). Terdapat kepingan metal di atas gerobogan berfungsi sebagai jembatan pemisah kawat, alat musik ini bertugas untuk merangkai pola pola lagu.

GAMBANG 
Instrumen ini terbuat dari bilah–bilah kayu dibingkai pada gerobogan yang juga berfungsi sebagai resonator. Gambang berbilah 17 sampai 20 bilah, wilayah gambang mencakup dua oktaf atau lebih. Gambang dimainkan dengan tabuh berbentuk bundar dengan tangkai panjang biasanya dari tanduk. Instrumen ini berfungsi memainkan gembyangan dalam gaya pola-pola lagu dengan ketukan ajeg juga dapat memainkan beberapa macam ornamentasi lagu dan ritme, seperti permainan dua nada dipisahkan oleh dua bilah, atau permainan dua nada dipisahkan oleh enam bilah, dan pola lagu dengan ritme–ritme sinkopasi.

GENDER 
Gender merupakan bilah-bilah metal yang ditegangkan dengan tali di atas bumbung bumbung resonator. Dimainkan dengan tabuh berbentuk bulat (dilingkari lapisan kain) dengan tangkai pendek. terdapat dua jenis gender Gender Barung dan Gender Penerus.
Gender Barung berukuran besar, beroktaf rendah sampai tengah. Salah satu dari instrumen pemuka, bermain dalam pola lagu berketukan ajeg (cengkok) yang dapat menciptakan tekstur sonoritas yang tebal dan menguatkan rasa pathet gendhing.
Gender Penerus berukuran kecil, beroktaf tengah sampai tinggi. Meskipun instrumen mi tidak harus ada dalam ansambel, kehadirannya menambah kekayaan tekstur gamelan. Gender ini memainkan lagunya dalam pola lagu ketukan ajeg dan cepat.

KEMPUL
Gong berukuran kecil yang digantung. Kempul menandai aksen-aksen penting dalam kalimat lagu gending. dalam hubungannya dengan lagu gendhing, kempul bisa memainkan nada yang sama dengan nada balungan; kadang-kadang kempul mendahului nada balungan berikutnya; kadang-kadang ia memainkan nada yang membentuk interval kempyung dengan nada balungan, untuk menegaskan rasa pathet.

GENDANG
Instrument bersisi dua yang tidak simetris dengan sisi kulitnya ditegangkan dengan tali dan kulit atau rotan ditata dalam bentuk ‘Y.’ benfungsi menentukan irama dan tempo (menjaga keajegan tempo, menuntun peralihan ke tempo yang cepat atau lambat, dan menghentikan tabuhan gending (suwuk). selain itu untuk gamelan iringan tari-tarian dan pertunjukan wayang kendhang juga menginingi gerakan penari atau wayang. Berdasarkan atas ukuran dan fungsinya, terdapat empat macam gendang yaitu gendang ageng, gendang wayangan, gendang ciblon, dan gendang ketipung.

KENONG 
Kenong merupakan satu set instrumen jenis gong berposisi horisontal, ditumpangkan pada tali yang ditegangkan pada bingkai kayu. Dalam memberi batasan struktur suatu gendhing, kenong adalah instrumen kedua yang paling penting setelah gong. Kenong membagi gongan menjadi dua atau empat kalimat kalimat kenong, atau kenongan. disamping itu nada kenong juga memiliki hubungan dengan lagu gending, yang boleh sama dengan nada balungan ataupun mendahuluinya atau ia dapat memainkan nada berjarak satu kempyung dengan nada balungan, untuk mendukung rasa pathet.

REBAB
Alat Musik berkawat-gesek dengan dua kawat ditegangkan pada selajur kayu dengan badan berbentuk hati ditutup dengan membran (kulit tipis) dari babad sapi. Instument ini termasuk salah satu bagian dari instrumen pemuka yang diakui sebagai pemimpin lagu dalam ansambel, terutama dalam gaya tabuhan lirih. memainkan lagu pembuka gendhing, menentukan gendhing, laras, dan pathet yang akan dimainkan. alur lagu rebab memberi petunjuk yang jelas jalan alur lagu gendhing.

SARON
Saron berbentuk bilahan dengan enam atau tujuh bilah (satu oktaf atau satu oktaf dan satu nada) ditumpangkan pada bingkai kayu yang juga berfungsi sebagai resonator.ditabuh dengan tabuh dibuat dari kayu atau tanduk (yang akhir ini untuk peking). Saron sendiri terbagi menjadi 3 jenis sesuai ukuran dan fungsi masing-masing
Saron Demung: Instrument berukuran besar dan beroktaf tengah. memainkan balungan gendhing dalam wilayahnya yang terbatas. satu perangkat gamelan mempunyai satu atau dua demung. Tetapi ada gamelan di kraton yang mempunyai lebih dari dua demung.
Saron Barung: berukuran sedang dan beroktaf tinggi, juga memainkan balungan dalam wilayahnya yang terbatas. suatu perangkat gamelan bisa mempunyai saron wayangan yang berbilah sembilan. saron ini dimainkan khususnya untuk ansambel mengiringi pertunjukan wayang.
Saron Peking (Penerus): ukuran paling kecil dan beroktaf paling tinggi. memainkan tabuhan rangkap dua atau rangkap empat lagu balungan. peking juga berusaha menguraikan lagu balungan dalam konteks lagu gendhing.

SLENTHEM 
Instrumen ini termasuk keluarga gender ketika kita lihat dari kontruksinya, sering dinamakan gender panembung. Tetapi slenthem mempunyai bilah sebanyak bilah saron, beroktaf paling rendah dalam kelompok instrumen saron. memainkan lagu balungan dalam wilayahnya yang terbatas.
SULING 
Suling/seruling terbuat dari bambu dan termasuk dalam kategori alat musik tiup. memainkan instrument dalam pola-pola lagu bergaya bebas metris. dimainkan secara bergantian, biasanya pada waktu lagunya mendekati akhiran kalimat. tetapi kadang–kadang pemain suling juga memainkan lagu lagu pendek di permulaan atau di tengah kalimat lagu.

Kumpulan instrumen-instrumen inilah yang menghasilkan harmonisasi indahnya lantunan lagu-lagu Jawa.
Bersambung... [PK]


Sumber : Zainbe

Minggu, 05 Juli 2015

Gamelan, Sebuah Mahakarya Orkestra [Bagian 2]

Ibu Adi Peni sedang memainkan gamelan bersama tim

...

Gamelan merupakan kekayaan Bangsa, sebagai bentuk dari mahakarya yang wajib dijaga dan dilestarikan. Untuk dapat terus menggelorakan semangat pelestarian gamelan, perlu kiranya peningkatan sense of belonging atas gamelan ini. Mengenalkan sejarah menjadi salah satu pilihan agar rasa kepemilikan atas gamelan terus terjaga. Pada bagian ini, akan sedikit kita bicarakan tentang sejarah gamelan, khususnya gamelan Jawa. 

Gamelan yang merupakan harmonisasi tetabuhan mungkin sudah ada di Nusantara sejak zaman prasejarah, namun karena ketiadaan bukti maka keberadaannya pada masa prasejarah tidak dapat dilacak. Pelacakan sejarah dimulai dengan masuknya pengaruh India, melalui bahasa sansekerta, yaitu pada zaman perkembangan Hindu-Budha. Zoetmulder (1982 dalam Azizah, tanpa tahun) menyebutkan bahwa awalnya kata gamelan disebut sebagai ­tabeh-tabehan (sinonim tabuh-tabuhan atau tetabuhan pada bahasa Jawa baru) yang berarti segala sesuatu yang dapat dibunyikan dengan cara ditabuh/dipukul. 

Penjelasan lain diungkapkan oleh seorang ahli musik, Judith Becker, bahwa kata gamelan digunakan pada pemerintahan Kerajaan Kadiri (sekitar abad ke-13) yang dibawa oleh pendeta Burma, namun pendapat ini nampaknya lemah, karena di Burma tidak ada kata gamelan pun tidak dijumpai alat musik yang menyerupai set gamelan di sana. Laman wisata Bogor menuliskan bahwa pada masa pengaruh budaya Hindu-Budha berkembang di Kerajaan Majapahit, gamelan diperkenalkan pada masyarakat Jawa dikerajaan Majapahit. Konon, menurut kepercayaan orang Jawa, gamelan itu sendiri diciptakan oleh Sang Hyang Guru Era Saka, sebagai dewa yang dulu menguasai seluruh tanah Jawa. Sang dewa inilah yang menciptakan alat musik gong, yang digunakan untuk memanggil para dewa.

Dalam laman pribadinya, Zain, menyebutkan bahwa sejarah gamelan bisa dilihat pada Serat Wedhapradangga karya Raden Tumenggung Warsadiningrat dan kumpulan serat yang dihimpun oleh Raden Ngabehi Prajapangrawit di Keraton Surakarta. Disebutkan bahwa pada tahun 167 Sang Hyang Guru atau Sang Hyang Jagatnata / Lokanata memberikan ijazah berupa Swara Karengeng Jagat, swara tersebut berasal dari gamelan Lokananta atau Lokanata. Menurut keterangan dari G.P.H. Hadiwijaya (Redaksi Pustaka Jawa) hanya ada 5 ricikan dalam gamelan Lokananta tersebut yakni Gendhing (Kemanak), Pamatut (Kethuk), Sauran (Kenong), Teteg (Kendang Ageng) dan Maguru yang sekarang disebut Gong. Pada tahun 187, terdengar swara Matenggeng Karna, dari Sang Hyang Indra/Surendra, dan diberi nama Salendro, ricikannya tetap ada 5 dengan swara tembang Sekar Kawi/Ageng. Pada Tahun 336 oleh Sang Hyang Indra racikan gamelan ditambah lagi dengan Salundhing atau kempul, dan Gerantang yang sekarang disebut dengan gambang.

Relief Borobudur yang menggambarkan permainan gamelan (Sumber: Wisata Bogor)

Bukti sejarah adanya gamelan dapat dijumpai pada beberapa relief di candi. Beberapa kajian menunjukkan gamelan dijumpai pada candi-candi Klasik di Jawa Tengah (abad ke-7 sampai dengan abad ke-10) dan candi-candi yang ada di Jawa Timur (abad ke-11 sampai dengan abad ke-15) [Haryono, 1985 dalam Azizah, tanpa tahun].  

Beberapa candi yang dalam reliefnya menggambarkan gamelan antara lain candi Borobudur, candi Prambanan, candi Jago, candi Arimbi, candi Kedaton, dan lain-lain. Pada beberapa bagian dinding candi Borobudur terdapat beberapa jenis instrumen gamelan yaitu: kendang bertali yang dikalungkan di leher, kendang berbentuk seperti periuk, siter dan kecapi, simbal, suling, saron, gambang. Pada candi Rara Jonggrang (Prambanan) dapat dilihat gambar relief kendang silindris, kendang cembung, kendang bentuk periuk, simbal (kècèr), dan suling.Pada relief candi Jago dapat dilihat alat musik petik berupa kecapi berleher panjang dan celempung. Sedangkan pada candi Arimbi terdapat relief reyong (dua buah bonang pencon). Sementara itu relief gong besar dijumpai di candi Kedaton, dan kendang silindris di candi Tegawangi. Pada candi induk Panataran terdapat relief gong, bendhe, kemanak, kendang sejenis tambur; dan di pandapa teras relief gambang, reyong, serta simbal. Relief bendhe dan terompet ada pada candi Sukuh. Sejarah ini menunjukkan bahwa gamelan merupakan karya yang adiluhung yang patut untuk terus dijaga dan dilestarikan.Bersambung... [PK]

Sabtu, 04 Juli 2015

Gamelan, Sebuah Mahakarya Orkestra [Bagian 1]

Penabuh gamelan dan swarawati Sanggar Edi Peni saat mengiringi pementasan Tari Klonthong Jengglur di Alun-alun Kabupaten Pacitan

Sebuah pementasan tari tak akan pernah terlepas dari musik pengiringnya, apapun bentuknya. Beberapa jenis tarian akan hanya diiringi oleh tetabuan sederhana, namun terkadang sebuah tari diiringi oleh bunyi-bunyian yang sangat kompleks. Musik iringan sebuah pementasan tari bukan sekedar mengiringi belaka, namun musik pengiring juga memperkuat pesan utuh dari tarian yang akan disampaikan kepada penonton. Selain itu, adanya musik pengiring membuat tarian menjadi lebih hidup dan memiliki daya tarik yang lebih.

Musik pengiring tarian juga akan menunjukkan identitas sajian tari tersebut. Hal ini dikarenakan setiap daerah memiliki ragam corak musik yang berbeda. Tifa menjadi alat perkusi utama bagi pertunjukan dari daerah Indonesia Timur, sedangkan rebana menjadi ciri khas bagi pertunjukan yang bernafaskan Islam.

Gamelan merupakan seperangkat alat musik yang sangat populer di Indonesia, bahkan mancanegara. Gamelan merupakan sebuah ansambel musik dari beragam alat musik, yang umumnya terdiri atas gong, bonang, kenong, gendang, gambang dan alat musik lainnya. Di Indonesia, gamelan dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok utama, yaitu gamelan Bali, gamelan Jawa dan gamelan Sunda.

Ketiga macam gamelan ini memiliki ciri khas yang saling membedakan satu sama lain. Gamelan Bali menyajikan irama yang lebih rancak, sedangkan gamelan Sunda menampilkan irama yang mendayu-dayu dengan suara seruling yang sangat dominan. Gamelan Jawa, seperti yang berkembang di Yogyakarta dan Surakarta, menawarkan irama yang lembut, yang menggambarkan pandangan hidup orang Jawa.

Dalam filosofi Jawa, kata gamelan  berasal dari kata gamel yang berarti memukul/menabuh, sedangkan imbuhan an yang melekat pada akhir kata tersebut berfungsi untuk menjadikannya kata benda, sehingga gamelan dapat diartikan sebagai sebuah tabuhan atau benda yang ditabuh/dipukul.

Sejarah gamelan, seperti dituturkan oleh Gusti Puger putra Paku Buwono XII dan Serat Wedhapradangga dari Keraton Surakarta, menunjukkan bahwa gamelan pertama kali ada di tanah Jawa pada Gangsa Raras Salendro. Keterangan ini seperti yang dihimpun oleh Raden Ngabehi Prajapangrawit pada tahun 1874, seperti yang tertulis dalam www.egamelanku.com.

Gamelan hadir sebagai sarana untuk menyajikan gending-gending, untuk mengiringi pementasan wayang orang, wayang kulit, ketoprak dan tari-tarian. Selain itu, beberapa perangkat gamelan dianggap sakral di dalam keraton, dan hanya digunakan dalam perayaan tertentu saja, misalnya Gamelan Sekati (Kanjeng Kyai Gunturmadu dan Kanjeng Kyai Guntursari) yang umumnya ditabuh untuk perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Di era globalisasi ini, gamelan sudah go international dan banyak berkolaborasi dengan musik-musik mancanegara sehingga menghadirkan nuansa yang berbeda dalam pagelarannya. Musik jazz sering berkolaborasi dengan memasukkan beberapa unsur gamelan di dalamnya, bahkan beberapa film Hollywood menjadikannya sebagai backsound.

Tugas kita sebagai anak bangsa adalah mencintai, melestarikan dan mengembangkannya. Sehingga kelak, gamelan bukan hanya menjadi sebuah cerita dan legenda belaka.

Bersambung... [PK]

Jumat, 03 Juli 2015

Tari Gegolo

Tari Gegolo Sanggar Edi Peni Pacitan

Tari Gegolo adalah tari kreasi baru yang dibawakan oleh sekelompok anak perempuan. Tarian ini menggambarkan tentang boneka. Sebagaimana yang diketahui, boneka merupakan mainan utama dan umum bagi anak perempuan di sepanjang usia, terutama anak-anak. Tarian ini menggambarkan tingkah anak perempuan yang lucu menggemaskan bagai boneka.

Karakter utama anak-anak digambarkan dengan pilihan warna cerah dalam penataan busana dan aksesoris pelengkap Warna merah dan kuning nampak memberikan kesan bergairah dan penuh semangat. Selain itu, warna cerah menggambarkan keceriaan dari tarian ini.

Tari Gegolo Sanggar Edi Peni Pacitan

Sebagai sebuah karya, Tari Gegolo juga memberikan petuah kepada penari dan para penikmat seni. Dalam syair yang dilantunkan, Tari Gegolo juga memberikan motivasi kepada siapapun yang mendengarkan lagunya untuk tidak menyia-nyiakan waktu muda. Dalam usia muda, sudah menjadi kewajiban kita untuk terus belajar dan mengembangkan diri, agar kelak waktu dewasa dapat menggapai apa yang telah menjadi harapan dan cita-cita. [PK]

Kamis, 02 Juli 2015

Belajar dari Yati Pesek

Ibu Adi Peni bersama Yati Pesek di Pasar Beringharjo Yogyakarta
Siapa yang tak kenal Yati Pesek? Perempuan multi talenta ini tenar lewat panggung Ketoprak Humor yang sempat menjadi salah satu tayangan andalan di stasiun televisi nasional. Terlahir dari pasangan pemain wayang orang di daerah Gamping, Kulonprogo, DI Yogyakarta ini, Yati Pesek terlahir dengan nama Suyati. Sempat tergabung dengan Ketoprak Tobong Siswo Budoyo Tulungagung, Yati Pesek terasah menjadi pemain ketoprak dengan kemampuan akting, menyanyi dan menari dengan baik.

Setelah menikah dengan seniman Yogyakarta, Sumario, Yati Pesek dan keluarga hijrah ke daerah Taji, Prambanan, Klaten, Jawa Tengah. Di tempat baru ini, kemampuan Yati Pesek sebagai seniwati tak luntur, malah bertambah kuat. Di kediamannya, Yati Pesek menularkan ilmunya dalam bidang seni, baik seni peran, seni suara, seni tari bahkan seni karawitan. Tak hanya itu, Yati Pesek juga berwirausaha dengan membuka warung makan Yati Pesek dengan aneka menu masakan jawa.

Pertemuan antara Ibu Yati Pesek dengan pemilik Sanggar Edi Peni Pacitan terjadi di Pasar Beringharjo, Yogyakarta beberapa waktu silam. Beringharjo merupakan salah satu sentra wisata belanja di Yogyakarta dengan menawarkan aneka kebutuhan, kerajinan bahkan barang-barang kuno. Pertemuan terjadi di los pasar yang menjajakan makanan ringan khas Yogyakarta yang umumnya dijadikan oleh-oleh.

Dalam pertemuan singkatnya, Ibu Adi Peni mengaku banyak belajar dari Seniwati yang lahir tahun 1952 ini. Diungkapkan bahwa Yati Pesek merupakan pribadi yang ramah terhadap siapapun yang ditemui, bahkan para penjual di pasar tersebut.

"Beliau juga mengajari kita untuk terus memberdayakan ekonomi kerakyatan. Di tengah serbuan usaha waralaba yang kian menjamur, Yati Pesek lebih memilih berpanas-panas ria terjun langsung ke pasar hanya sekedar untuk membeli makanan ringan."

Di akhir pertemuan, keduanya saling salaman dan berpelukan hangat dan saling melemparkan doa selamat. Semoga kita bisa mengambil hikmah dari pertemuan indah ini. [PK]

Rabu, 01 Juli 2015

Tari Pitik Lancur

Tari Pitik Lancur Sanggar Edi Peni Pacitan

Tari merupakan wujud ekspresi, muara dari kreasi seni. Dalam menciptakan sebuah tari, ide dapat lahir dari hal-hal yang begitu dahsyat, namun terkadang ide dapat lahir dari hal-hal sederhana di sekitar kita. Jika tari Reog lahir dari kisah cinta, maka tari Pitik Lancur lahir dari tingkah polah pitik (ayam) yang sering kita jumpai. Ayam adalah hewan yang begitu dekat dengan kita, banyak dari jenisnya yang selalu bersentuhan dengan kehidupan manusia, baik untuk konsumsi, maupun untuk kepentingan lain, misalnya berjudi. 

Judul Pitik Lancur merupakan frasa dari Bahasa Jawa. Pitik berarti ayam, sedangkan lancur merupakan tahapan ayam remaja, tahap sebelum ayam jantan disebut jago (dewasa). Sebagaimana manusia, masa remaja digambarkan dengan masa yang penuh gairah, penuh keinginan mencoba. Masa-masa inilah yang digambarkan dalam kreasi tari Pitik Lancur.


Tari Pitik Lancur Sanggar Edi Peni Pacitan

Tingkah polah ayam jantan remaja digambarkan dari aktivitas rutin mereka, mulai dari berkokok, berlarian, terbang, hingga pertarungan antar beberapa ayam. Keceriaan dan kemeriahan tarian ditentukan dengan kekompakan para penari dalam membawakannya.

Tari Pitik Lancur Sanggar Edi Peni Pacitan

Tari Pitik Lancur dibawakan dalam acara Pelepasan Siswa Kelas VI SD Negeri Wiyoro I dengan begitu meriah. Sorak-sorai para penonton dan orang tua menjadi pemandangan sesaat setelah para penari memasuki panggung dan meninggalkannya. Ciri khas tarian anak-anak tidak lupa ditinggalkan, yaitu kostum yang berwarna cerah yang mendukung keceriaan tarian dan penarinya. [PK]