Minggu, 05 Juli 2015

Gamelan, Sebuah Mahakarya Orkestra [Bagian 2]

Ibu Adi Peni sedang memainkan gamelan bersama tim

...

Gamelan merupakan kekayaan Bangsa, sebagai bentuk dari mahakarya yang wajib dijaga dan dilestarikan. Untuk dapat terus menggelorakan semangat pelestarian gamelan, perlu kiranya peningkatan sense of belonging atas gamelan ini. Mengenalkan sejarah menjadi salah satu pilihan agar rasa kepemilikan atas gamelan terus terjaga. Pada bagian ini, akan sedikit kita bicarakan tentang sejarah gamelan, khususnya gamelan Jawa. 

Gamelan yang merupakan harmonisasi tetabuhan mungkin sudah ada di Nusantara sejak zaman prasejarah, namun karena ketiadaan bukti maka keberadaannya pada masa prasejarah tidak dapat dilacak. Pelacakan sejarah dimulai dengan masuknya pengaruh India, melalui bahasa sansekerta, yaitu pada zaman perkembangan Hindu-Budha. Zoetmulder (1982 dalam Azizah, tanpa tahun) menyebutkan bahwa awalnya kata gamelan disebut sebagai ­tabeh-tabehan (sinonim tabuh-tabuhan atau tetabuhan pada bahasa Jawa baru) yang berarti segala sesuatu yang dapat dibunyikan dengan cara ditabuh/dipukul. 

Penjelasan lain diungkapkan oleh seorang ahli musik, Judith Becker, bahwa kata gamelan digunakan pada pemerintahan Kerajaan Kadiri (sekitar abad ke-13) yang dibawa oleh pendeta Burma, namun pendapat ini nampaknya lemah, karena di Burma tidak ada kata gamelan pun tidak dijumpai alat musik yang menyerupai set gamelan di sana. Laman wisata Bogor menuliskan bahwa pada masa pengaruh budaya Hindu-Budha berkembang di Kerajaan Majapahit, gamelan diperkenalkan pada masyarakat Jawa dikerajaan Majapahit. Konon, menurut kepercayaan orang Jawa, gamelan itu sendiri diciptakan oleh Sang Hyang Guru Era Saka, sebagai dewa yang dulu menguasai seluruh tanah Jawa. Sang dewa inilah yang menciptakan alat musik gong, yang digunakan untuk memanggil para dewa.

Dalam laman pribadinya, Zain, menyebutkan bahwa sejarah gamelan bisa dilihat pada Serat Wedhapradangga karya Raden Tumenggung Warsadiningrat dan kumpulan serat yang dihimpun oleh Raden Ngabehi Prajapangrawit di Keraton Surakarta. Disebutkan bahwa pada tahun 167 Sang Hyang Guru atau Sang Hyang Jagatnata / Lokanata memberikan ijazah berupa Swara Karengeng Jagat, swara tersebut berasal dari gamelan Lokananta atau Lokanata. Menurut keterangan dari G.P.H. Hadiwijaya (Redaksi Pustaka Jawa) hanya ada 5 ricikan dalam gamelan Lokananta tersebut yakni Gendhing (Kemanak), Pamatut (Kethuk), Sauran (Kenong), Teteg (Kendang Ageng) dan Maguru yang sekarang disebut Gong. Pada tahun 187, terdengar swara Matenggeng Karna, dari Sang Hyang Indra/Surendra, dan diberi nama Salendro, ricikannya tetap ada 5 dengan swara tembang Sekar Kawi/Ageng. Pada Tahun 336 oleh Sang Hyang Indra racikan gamelan ditambah lagi dengan Salundhing atau kempul, dan Gerantang yang sekarang disebut dengan gambang.

Relief Borobudur yang menggambarkan permainan gamelan (Sumber: Wisata Bogor)

Bukti sejarah adanya gamelan dapat dijumpai pada beberapa relief di candi. Beberapa kajian menunjukkan gamelan dijumpai pada candi-candi Klasik di Jawa Tengah (abad ke-7 sampai dengan abad ke-10) dan candi-candi yang ada di Jawa Timur (abad ke-11 sampai dengan abad ke-15) [Haryono, 1985 dalam Azizah, tanpa tahun].  

Beberapa candi yang dalam reliefnya menggambarkan gamelan antara lain candi Borobudur, candi Prambanan, candi Jago, candi Arimbi, candi Kedaton, dan lain-lain. Pada beberapa bagian dinding candi Borobudur terdapat beberapa jenis instrumen gamelan yaitu: kendang bertali yang dikalungkan di leher, kendang berbentuk seperti periuk, siter dan kecapi, simbal, suling, saron, gambang. Pada candi Rara Jonggrang (Prambanan) dapat dilihat gambar relief kendang silindris, kendang cembung, kendang bentuk periuk, simbal (kècèr), dan suling.Pada relief candi Jago dapat dilihat alat musik petik berupa kecapi berleher panjang dan celempung. Sedangkan pada candi Arimbi terdapat relief reyong (dua buah bonang pencon). Sementara itu relief gong besar dijumpai di candi Kedaton, dan kendang silindris di candi Tegawangi. Pada candi induk Panataran terdapat relief gong, bendhe, kemanak, kendang sejenis tambur; dan di pandapa teras relief gambang, reyong, serta simbal. Relief bendhe dan terompet ada pada candi Sukuh. Sejarah ini menunjukkan bahwa gamelan merupakan karya yang adiluhung yang patut untuk terus dijaga dan dilestarikan.Bersambung... [PK]

1 komentar:

  1. Agen Judi Taruhan Online yang menyediakan permainan yang terlengkap hanya di BOLAVITA

    Agen BOLAVITA menyediakan permainan Judi Taruhan Online yang sangat lengkap pastinya. Yang dapat Anda mainkan dimana dan kapanpun juga.

    Dengan minimal deposit hanya Rp 50.000 saja sudah bisa mainkan permainan yang ada di Agen BOLAVITA

    Agen BOLAVITA menyediakan jenis taruhan yang terlengkap dan terbesar yang bisa Anda coba mainkan.
    • Bola Tangkas (Tangkasnet, Tangkas88 dan Tangkas1)
    • Casino Online (WM Casino, Green Dragon dan SBOBET Casino)
    • Sabung Ayam (S128, SV388 dan Kungfu Chicken)
    • Taruhan Bola (SBOBET, MAXBET/ICB Bet dan 368 Bet)
    • Togel Online (KLIK4D dan ISIN4D)
    • Games Virtual / Slot Games (Joker dan Play1628)

    Tunggu apalagi? Daftar dan gabung sekarang juga di www.bolavita.ltd

    Baca juga =
    1. Daftar Sabung Ayam Cara S128 di BOLAVITA
    2. Promo Promo BOLAVITA

    Untuk info selanjutnya, bisa hubungi kami VIA:
    BBM : BOLAVITA / D8C363CA
    Whatsapp : +62812-2222-995
    Livechat 24 Jam

    BalasHapus