Selasa, 18 Agustus 2015

Gebyar Agustusan di Bumi Sembowo, Sudimoro

(Kiri atas sesuai arah jarum jam): Kesenian Oglor, Karawitan, Ketua Panitia, Kepala Desa, Kesenian Hadroh

Desa mawa tata, Negara mawa cara, demikian ungkapan bijak Jawa yang menggambarkan keberagaman masyarakat dalam setiap hal. Setiap daerah memiliki adat masing-masing terkait dengan satu hal yang sama. Dalam memperingati HUT Kemerdekaan RI ke-70 misalnya, setiap daerah tentu memiliki cara untuk mengobarkan kembali semangat kebangsaan yang telah dicontohkan oleh para pahlawan. Serangkaian acara yang dikemas bersama oleh pemerintah dan masyarakat setempat menjadi bukti bahwa semangat gotong-royong masih sangat dijunjung tinggi di masyarakat Indonesia.

Pun demikian dengan perayaan HUT Kemerdekaan RI ke-70 di Desa Sembowo Kecamatan Sudimoro Kabupaten Pacitan. Kondisi geografis yang ada nampaknya membuat Pemerintah Kecamatan tidak memusatkan perayaan di lapangan kecamatan, namun perayaannya diserahkan ke desa sesuai dengan kreativitas masing-masing. Asas desentralisasi ini disambut antusias oleh segenap masyarakat desa Sembowo. Prinsip “Ayo Kerja” yang didengungkan Pemerintah Pusat diejawantah menjadi semangat kerja bersama untuk nyengkuyung acara besar desa. Dalam sambutannya, Kepala Desa Sembowo mengucapkan banyak terima kasih kepada seluruh elemen yang telah berkenan bekerja sama dalam menyukseskan acara tersebut.

(Kiri atas sesuai arah jarum jam): Tari Rodhat, Tari Joged Osing, Tari Udang Windu

Gebyar Agustusan di Desa Sembowo dimulai dengan serangkaian lomba antar dusun maupun antar RT/RW. Lomba yang diadakan melibatkan anak-anak hingga orang dewasa. Untuk anak-anak, panitia menyelenggarakan lomba hafalan surat dalam Juz ‘Amma kategori putra dan putri. Bagi orang dewasa, lomba makin beragam. Dalam bidang olahraga misalnya, panitia menyelenggarakan lomba voli untuk kategori putra dan putri serta lomba cipta kreasi senam untuk Ibu-ibu PKK. Sedangkan dalam bidang seni, lomba langen tayub dan lomba karawitan menjadi ajang kompetisi untuk ngleluri budaya leluhur yang agung. Selain itu, masih ada lomba yang melibatkan seluruh elemen warga masyarakat, yaitu lomba kebersihan lingkungan.

(Kiri atas sesuai arah jarum jam):Penyerahan hadiah lomba, penampilan PSHT, Tari Abyar, Senam Kreasi, Pengumuman Kejuaraan

Senin, 17 Agustus 2015, dilaksanakan Upacara Peringatan Detik-detik Proklamasi yang dilaksanakan di lapangan desa Sembowo. Sebelumnya, lapangan juga telah disusun sedemikian rupa, sehingga terdapat stand-stand yang ada di pinggir lapangan. Seusai upacara, seluruh hadirin dihibur dengan penampilan tari Anak Indonesia yang dibawakan oleh siswa-siswi SD Negeri Sembowo I.

Malam hari, acara ditutup dengan malam puncak Peringatan Hari Kemerdekaan RI ke-70. Hampir seluruh warga dari desa Sembowo dan sekitarnya turut hadir memenuhi lapangan desa Sembowo, bahkan beberapa penonton rela menyaksikan kemeriahan acara di halaman SD Sembowo I karena tidak mendapatkan tempat di lapangan desa Sembowo. Kemeriahan acara didukung oleh segenap elemen masyarakat, dari sekolah usia dini hingga organisasi yang ada di desa Sembowo. Tak hanya pentas seni, dalam acara tersebut juga dilakukan penyerahan hadiah kepada pemenang untuk masing-masing lomba yang telah diselenggarakan.

Pra-acara, penonton disuguhi penampilan dari tim Hadroh desa Sembowo. Lewat syair-syair yang sarat makna, penonton tak hanya dihibur dengan kepiawaian pemain dalam menyajikan musik yang kompak, namun juga diingatkan untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Tuhan. Setelah sejenak mendengarkan nasihat-nasihat kehidupan, saatnya penonton dihibur dengan kelincahan dari siswa-siswi PAUD dan TK di desa Sembowo. Anak-anak inilah yang menjadi tunas harapan bangsa untuk membangun negara di masa mendatang. Empat buah tampilan mengundang tepuk tangan riuh penonton, tak jarang tepuk tang tersebut diiringi dengan gelak tawa akan kelucuan dan keluguan tampilan anak-anak tersebut. Tari Menthog, Tari Gethuk, Tari Praon dan Senam Kesehatan Jasmani dikemas sukses ditampilkan oleh anak-anak PAUD dan TK.

(Kiri atas sesuai arah jarum jam): SKJ, Tari Menthog, Tari Praon, Tari Gethuk

Seakan tak mau kalah dengan tampilan PAUD dan TK, SD Negeri 1 Sembowo mengeluarkan empat buah tari. Dua buah tari ditampilkan oleh kelompok putra sedangkan dua tari yang lain ditampilkan oleh kelompok putri. Tarian yang ditampilkan SDN Sembowo 1 mencakup tari Rampak, tari Topeng Edan, tari Lilin dan tari Rodhat. Keempat tari tersebut sebelumnya pernah tampil dalam acara Perpisahan Siswa Kelas VI dan Pentas Seni SDN Sembowo I.

(Kiri atas sesuai arah jarum jam): Tari Rodhat, Tari Rampak, Tari Lilin, Tari Topeng Edan

Dua tari tambahan disajikan oleh siswi-siswi SMP Negeri 4 Sudimoro. Tari pertama adalah tari Udang Windu yang bercerita tentang udang windu, salah satu sumber protein hewani yang banyak digemari. Sedangkan tarian kedua adalah tari dari daerah Banyuwangi, yaitu tari Joged Osing. Satu tari tunggal ditampilkan dari Karang Taruna Desa Sembowo yang menyajikan tari Abyar. Organisasi seni bela diri, Persatuan Setia Hati Teratai (PSHT) turut meramaikan panggung dengan tampilan khas seni bela diri. Sedangkan pemenang lomba cipta kreasi senam dan lomba karawitan juga ditampilkan di sela-sela acara.

Sanggar Edi Peni, binaan Bapak Edi Suwito dan Ibu Adi Peni, yang berlokasi di selatan balai desa Hadiluwih, kecamatan Ngadirojo turut meramaikan acara. Selain membawa tim tata rias dan busana untuk memberikan polesan untuk hampir seluruh penampil acara, tim Sanggar Edi Peni juga menampilkan dua buah tari untuk memeriahkan panggung. Tari pertama adalah tari yang sempat hits di tahun 2013 yaitu tari Sanjaya Rangin. Sedangkan di akhir acara, tari Genggongan Mangslup ditampilkan kembali di hadapan warga desa Sembowo. Di akhir acara, kesenian khas Pacitan yang lain jug ditampilkan, yaitu kesenian Oglor.

Tari Sanjaya Rangin dan Genggongan Mangslup Sanggar Edi Peni Pacitan

Bagaimanapun kemeriahan peringatan hari kemerdekaan RI akan tidak berarti jika itu hanya sebagai acara seremonial belaka. Sudah barang tentu, sebagai generasi penerus bangsa, kita mengisi kemerdekaan dengan kegiatan positif di bidang masing-masing.
MERDEKA!! [PK]

Minggu, 16 Agustus 2015

Hadroh Kontemporer: Sebuah Perkawinan Budaya


Beberapa Tampilan Tim Hadroh Kontemporer

Hadroh adalah sebuah seni bermusik dengan berbekal tabuhan yang dihasilkan dari seperangkat alat musik rebana (terbangan) untuk mengiringi syair-syair islami. Secara bahasa, kata hadroh diindukkan dari bahasa Arab hadhoro atau yadhiru atau hadhron atau hadrotan yang berarti kehadiran. Sedangkan definisi hadroh menurut ilmu tasaswuf adalah suatu metode yang bermanfaat untuk membuka jalan masuk ke hati, karena orang yang memainkan hadroh dengan benar akan terangkat kesadarannya akan kehadiran Allah SWT dan Rasullullah SAW.

Tidak banyak bukti sejarah yang mengungkap kapan pertama kali musik hadroh datang ke Indonesia. Namu, menurut beberapa sumber yang telah ditelusuri, hadroh sudah ada sejak zaman Al Habib Umar Bin Thoha Bin Shabab, seorang ulama Palembang yang merupakan leluhur dari Wali Songo, kecuali Sunan Kalijaga. Musik hadroh banyak diperdengarkan saat perayaan-perayaan hari besar Islam, khususnya peringatan maulid nabi Muhammad SAW. S
Hadrah banyak dipergunakan sebagai media apresiasi seni santri-santri dari berbagai pondok pesantren, khususnya di provinsi Jawa Timur. Beberap grup yang populer karena kepiawaiannya dalam memainkan musik hadroh misalnya grup Annabawiyyah, Arraudhah dan Al Muqtasida. Pada era 80-an, musik hadroh dikenal dengan nama rebana qasidah dan sempat menjadi hits di blantika musik Indonesia. Lagu “Perdamaian” yang pernah di-remake oleh group band GIGI menjadi bukti kejayaan musik hadroh. Awalnya, lagu yang telah lekat di telinga masyarakat tersebut didendangkan oleh sebuah grup rebana qasidah bernama Nasida Ria.

Peserta Hadroh Kontemporer dari Desa Hadiwarno yang menjadi Juara I

Syair lagu hadroh adalah syair yang umumnya berupa pujian pada Tuhan, kecintaan pada Nabi Muhammad dan nasihat tentang kehidupan. Dua induk syair hadroh yang populer adalah kita al barzanji dan kitab al burdah. Keduanya berisi tentang beberepa sendir kehidupan, mulai dari makna hakiki hidup, fungsi al quran, hingga gangguan hidup yang berupa hawa nafsu yang tak terkendali. Syair-syair ini dikemas dalam nada-nada indah yang mengalun menyejukkan hati.

Sebagai budaya Arab, hadroh diterima baik oleh masyarakat Indonesia yang kini mayoritas pendudukanya adalah muslim. Hadroh dimainkan dalam acara-acara keagamaan, baik skala kecil maupun besar. Di beberapa daerah, hadroh berpadu dengan beberapa alat musik khas Indonesia yang akhirnya memberikan sajian unik dan menarik. Tak hanya itu, ada beberapa tarian yang awalnya terispirasi dari keanggunan musik hadrah, sebut saja tari Rodhat atau tari Hadrah Shof.

Perkawinan budaya menjadi sebuah hal yang mutlak terjadi ketika budaya lain masuk ke dalam sebuah wilayah yang baru. Umumnya, masyarakat setempat tidak akan serta merta mengambil budaya tersebut, namun akan menyaringnya. Salah satu teknik penyaringan yang umum terjadi adalah adanya akulturasi budaya, di mana budaya asing yang datang dikawinkan dengan budaya setempat, sehingga terasa lebih familiar dan akhirnya dapat diterima dengan baik oleh masyarakat. Akulturasi budaya inilah yang coba diangkat oleh Pemerintah Kecamatan Ngadirojo dalam memeriahkan HUT Kemerdekaan RI ke-70 lewat lomba yang bertajuk “Lomba Hadroh Kontemporer”. Panitia mencoba memperkenalkan hadroh ke masyarakat Ngadirojo dengan mengajak seluruh desa untuk berpartisipasi dan unjuk kebolehan atas kreasi yang telah dibuat.

Jumat dan Sabtu (14-15/8/2015) masyarakat Ngadirojo berduyun-duyun menuju Pendopo Kecamatan Ngadirojo untuk melihat performance dari desa-desa se-kecamatan Ngadirojo. Dua malam, warga Ngadirojo dimanjakan dengan sajian-sajian yang unik hasil karya warga masyarakat sendiri. Masing-masing tim hadroh dari setiap desa membawakan dua buah lagu. Dan di sinilah rasa kontemporer itu terkecap oleh warga. Beberapa desa juga menyertakan beberapa unsur gamelan, seperti gendang, saron atau bonang. Unsur musik modern seperti gitar, bass dan keyboard juga menjadi pilihan bagi beberapa desa untuk memadukan musik timur tengah dengan nuansa lain. Ketua Dewan Juri yang berasal dari Kota Pacitan bahkan sempat memuji salah satu peserta dengan istilah “kolaborasi yang nakal” karena salah satu tampilannya mengambil beberapa unsur budaya, yaitu dari Arab, Jawa hingga nuansa Banyuwangi lewat musik berbau Osing.

Penampilan Tim Hadroh Desa Wiyoro yang dijuluki kolaborasi nakal oleh Juri

Selain musik, dewan juri juga memberikan komentar tentang penggunaan busana yang kadang tidak sinkron antara baju dan hijab yang digunakan. Overall, panitia sukses mengemas acara lomba agustusan ini menjadi sajian yang menyedot antusiasme warga Ngadirojo. Semoga, masyarakat Ngadirojo tidak hanya terhibur dengan keindahan tampilan, atau bahkan terjerumus pada euforia kemenangan, namun dapat meresapi syair-syair lagu hadroh yang dapat dijadikan nasihat kehidupan.[PK]

Sabtu, 15 Agustus 2015

Filosofi Gerak Jalan

Tim Sanggar Edi Peni Pacitan saat mengikuti Lomba Gerak Jalan

Nuansa Agustusan kian hari kian terasa. Di beberapa daerah sudah menunjukkan tanda-tanda menuju puncak perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia yang ke-70. Bendera merah putih mulai berkibar di depan rumah-rumah warga, demikian juga dengan umbul-umbul warna-warni yang menggambarkan kejayaan bangsa. Tak hanya itu, jika kita menyempatkan diri keluar menikmati udara malam di area kecamatan Ngadirojo ini, maka mata kita akan dimanjakan dengan kerlap-kerlip lampu hias yang terpasang hampir di seluruh jalan protokol, bahkan hingga masuk ke jalan-jalan perkampungan penduduk. Puncak Agustusan makin lama memang makin terasa hangat.

Panitia Peringatan Hari Besar Nasional (PPBHN) Kecamatan Ngadirojo memang tiap tahun menyelenggarakan beragam acara untuk menyemarakkan HUT RI ini. Semaraknya HUT RI ini tidak kalah meriah dengan penyelanggaraan acara serupa di pusat kota, Kecamatan Pacitan. PPHBN Kecamatan Ngadirojo menggelar berbagai lomba dan acara bertajuk eksibisi. Lomba antar desa dan instansi secara umum dibagi menjadi dua kelompok, yaitu seni dan olahraga. Lomba-lomba ini seakan menjadi hiburan rakyat yang murah namun meriah.

Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya,PPHBN Kecamatan Ngadirojo tahun ini juga akan menggelar lomba gerak jalan. Lomba ini adalah lomba yang menyajikan sekelompok orang yang berbaris dalam sebuah formasi memanjang dan dipimpin oleh seorang pemimppin. Setiap kelompok peserta akan mengambil nomor urut keberangkatan. Setelah berangkat dari garis start setiap kelompok akan berjalan dengan aturan umum baris-berbaris mengikuti rute yang telah ditentukan oleh panitia. Tahun 2015 ini, garis awal dan akhir perlombaan adalah Rumah Pintar Kecamatan Ngadirojo, selanjutnya berjalan ke arah selatan melewati jalan protokol Ngadirojo-Wiyoro-Tanjungpuro-Hadiluwih hingga pertigaan Pucung, Hadiwarno. Pada titik ini, rombongan akan berbalik arah dan kembali menuju Rumah Pintar sebagai titik finish.

Lomba gerak jalan merupakan lomba klasik dan khas yang umumnya hanya dijumpai pada perayaan tujuhbelasan. Gerak jalan sendiri menjadi hiburan rakyat karena terkadang peserta hadir dengan kostum yang nyeleneh sehingga menjadi daya tarik tersendiri. Gerak jalan sendiri menjadi meriah karena pelaksanaannya akan memperebutkan hadiah tertentu dan tentunya sebuah kebanggaan jika keluar sebagai pemenang. Panitia akan menetapkan kriteria tertentu untuk menentukan kelompok yang akan menjadi pemenang. Kriteria penilaian ini umumnya mencakup kekompakan, kepatuhan terhadap aturan baris-berbaris, ketepatan waktu, kepemimpinan, dan kostum. Masing-masing komponen penilaian memiliki persentase berbeda untuk menentukan total nilai.

Lomba gerak jalan yang rutin dilaksanakan bukan tanpa alasan, melainkan menyimpan banyak filosofi hidup yang dapat diambil dan diteladani. Jika kita perhatikan lebih jauh, gerak jalan yang merupakan lomba sederhana ini menyimpan banyak keteladanan.

Pertama, sebuah kelompok gerak jalan adalah kesatuan orang yang menjalankan tugas untuk mencapai tujuan bersama. Dalam hal ini, kelompok gerak jalan merupakan representasi dari sebuah organisasi. Masing-masing anggota kelompok mempunyai tugas dan kewajiban yang sama untuk saling menjaga ritme kerja dan berjalan beriringan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Hal ini sangat sesuai dengan semangat gotong-royong yang senantiasa didengungkan oleh founding father Indonesia.

Kedua, gerak jalan dipimpin oleh seorang pemimpin yang telah ditetapkan. Orang yang telah ditetapkan menjadi pemimpin adalah seseorang yang mempunyai kemampuan di bidangnya, misalnya mempunyai suara yang lantang dan tentunya jiwa kepemimpinan yang tinggi. Hal ini sesuai dengan pernyataan right man in the right place, yaitu menempatkan masing-masing individu sesuai dengan kapabilitas masing-masing.

Ketiga, patuh dalam satu set aturan yang sama. Setiap kelompok harus tampil dalam aturan dan variasi yang sama. Setiap kelompok tampil dengan kostum yang sama dan berjalan beriringan dengan kecepatan yang seragam. Setiap orang harus mengubur ego masing-masing untuk patuh dengan kesepakatan yang telah dibuat sebelumnya, karena jika ada salah satu yang melanggar aturan tersebut, maka seluruh anggota kelompok akan menanggungnya. Semangat kebersamaan inilah yang seharusnya juga menular ke hal-hal di luar kegiatan gerak jalan.


Jika kita mau sedikit bereksplorasi lagi, mungkin kita akan mendapatkan filosofi yang lebih mendalam dari kegiatan gerak jalan atau acara Agustusan yang lain. Semoga semangat yang tergelorakan dari kegiatan-kegiatan sederhana dapat mengilhami kita untuk terus berkarya dan bermanfaat bagi masyarakat. [PK]

Jumat, 14 Agustus 2015

Tarian dan Kecerdasan



Tarian dan kecerdasan adalah anugerah Tuhan. Tarian hadir sebagai sebuah keindahan, lewat gerakan yang meliuk untu berucap tentang sebuah makna. Tarian anugerah yang dicontohkan alam, seperti cumbuan sepasang cendrawasih atau sekedar lambaian nyiur di tepi pantai. Tarian memang sebuah keindahan. Kehidupan juga bagai sebuah tarian, sebuah tarian perjalanan, sesaat naik meninggi, sesaat datar, lalu jatuh atau hanya berbelok arah. Kecerdasan juga anugerah Tuhan, dia hadir sebagai modal untuk setiap insan dalam mengarungi kehidupan.

Tarian dan kecerdasan, apakah keduanya berhubungan?
Dalam kajian Howard Gardner, proses mencipta dan menyajikan tarian dimasukkan dalam contoh sebuah tipe kecerdasan, yaitu kecerdasan kinestetis. Kecerdasan ini terkait dengan kemampuan seseorang untuk mengharmoniskan pikiran dengan gerakan-gerakan yang dihasilkan. Ibu Adi Peni, salah satu ujung tombak Sanggar Edi Peni Pacitan meng-aamiin-i pandangan Profesor bidang psikologi ini. Menurut beliau, menari memang sebuah totalitas karya, di mana tidak hanya sekedar olahraga, namun juga diperlukan olahpikir dan olahrasa.


Lebih jauh, Ibu tiga anak ini menyampaikan tentang ketiga komponen dasar dalam menari. Olahraga diperlukan dalam sebuah proses menari, sebuah tarian disajikan dengan gerakan yang merupakan representasi pesan yang akan disampaikan kepada penonton, sehingga dapat dikatakan bahwa menari merupakan satu bentuk dari olahraga. Di beberapa kompetisi olahraga multieven, beberapa jenis tari masuk dalam cabang olahraga yang memperebutkan medali, sebut saja salsa atau senam artistik.

Dalam neyajikan sebuah tarian, diperlukan juga olahpikir dan olahrasa. Olah pikir berkaitan daya imajinasi dan daya ingat seorang koreografer dan penari. Tarian adalah karya seni yang tentunya mempuyai pesan yang akan disampaikan kepada penontonnya, seperti drama atau lagu. Daya imajinasi diperlukan untuk memgejawantah cerita dalam pesan ke dalam gerakan-gerakan indah sepanjang pementasan. Gerakan dan gesture penari bukan tanpa maksud, melainkan sedang menyampaikan pesan dari tarian yang disajikan.

Olahrasa dikaitkan dengan kecerdasan musik seseorang. Komponen musik sangat berperan dalam menetukan dinamika sebuah tari. Rasa yang tepat dapat menginterpretasikan gerakan dan musik menjadi salah satu faktor keberhasilan sebuah pementasan. Tarian dan kecerdasan adalah dua hal yang saling terkait. Sebagai anugerah Tuhan, sudah sepantasnyalah manusia mensyukuri dan mengembangkannya. [PK]


Kamis, 13 Agustus 2015

Mengenal Kecerdasan Majemuk


Penyanyi adalah salah satu profesi dengan modal kecerdasan musik

Kecerdasan adalah salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan peserta didik dalam menyelesaikan pendidikan dalam sebuah lembaga pendidikan. Pun demikian, kecerdasan seseorang juga akan menjadi modal dalam menjalani kehidupan. Kemampuan seseorang untuk mendayagunakan kecerdasan dalam kehidupan juga menjadi salah satu penentu keberhasilannya dalam hidup bermasyarakat. Kecerdasan adalah anugerah dari Tuhan Yang Mahakuasa. Oleh karenanya, selain mensyukuri anugerah tersebut, mengasah dan menggunakan kecerdasan bagi kemakmuran bersama adalah hal yang lebih utama.

Kecerdasan (intellegence) adalah kemampuan untuk menangkap situasi baru serta kemampuan untuk belajar dari pengalaman masa lalu (Gardner, 1983). Kecerdasan lahir dari kompleksitas bagian-bagian tubuh manusia, baik pikiran, jiwa dan raga. Buku Frame of Mind: The Theory of Multiple Intellegences (Gardner, 1985) mengelompokkan kecerdasan ke dalam tujuh ranah, yaitu sebagai berikut:
1)      kecerdasan linguistik/bahasa,
Kecerdasan linguisti dikenal juga dengan istilah kecerdasan verbal. Dalam kategori ini, kecerdasan nampak dalam kepekaan seseorang dalam memilih, menggunakan dan mengolah kata menjadi sebuah makna yang sangat kompleks. Sebuah hal yang begitu rumit diungkapkan dalam bahasa yang sederhana, pun demikian sebaliknya, sesuatu hal yang sederhana dapat diungkapkan dalam sebuah pola bahasa yang rumit. Kecerdasan linguistik adalah kecerdasan menyembunyikan atau menampakkan makna dari sebuah kata.

Seorang jurnalis, sastrawan ataupun orator pasti mempunyai kecerdasan ini. Seorang jurnalis menghadirkan kekuatan bahasa untuk menyajikan fakta-fakta, sedangkan seorang sastrawan memainkan bahasa dengan begitu indahnya. Bagi seorang orator, bahasa menjadi senjata untuk menghimpun perhatian dan kekuatan. Ir. Soekarno dan Chairil Anwar adalah contok tokoh yang memiliki kecerdasan linguistik yang menonjol.

2)      kecerdasan matematis-logis,
Kecerdasan tipe ini adalah kecerdasan yang paling sering diukur dan distadarisasi. Bagi sebagian masyarakat, seorang yang “cerdas” adalah seseorang yang memiliki kecerdasan matematis-logis yang sangat menonjol. Bapak B.J. Habibie adalah contoh orang yang memiliki kecerdasan matematis-logis yang tinggi. Kecerdasan ini terkait dengan kemampuan analitik dan saintifik dalam menyelesaikan permasalahan. Ahli komputer, ahli sains dan ahli matematika adalah beberapa profesi yang mensyaratkan kecerdasan tipe ini.

3)      kecerdasan ruang-spasial,
Kecerdasan ruang-spasial terkait dengan imajinasi tentang ruang dan merepresentasikannya ke dalam karya dimensional. Ahli desain grafis memiliki kecerdasan ini sangat menonjol. Kemampuan ruang-spasial juga dikuasai oleh para pelukis, kemampuan ini terkait dengan membahasakan pola lukisan menjadi sebuah wacana, bukan saja karya biasa. Picasso adalah salah satu tokoh yang memiliki kecerdasan ruang-spasial menonjol.

4)      kecerdasan kinestetis,
Kecerdasan kinestites berkaitan dengan kemampuan harmonisasi antara pikiran dengan pola gerak yang dihasilkan. Kecerdasan ini dapat diasah dengan menari, berolahraga dan bermain drama. Ketiga kegiatan tersebut berusaha menyelaraskan antara hal-hal yang sedang bermain dalam pikirannya dengan gerakan yang akan dilakukan. Seorang atlet adalah contoh seseorang yang memiliki kecerdasan kinestetis menonjol.

Kevin Sanjaya/Greysia Polii, pasangan atlet bulutangkis (Foto: PBSI)

5)      kecerdasan musik,
Musik adalah hal yang penuh dengan keindahan. Keindahan yang berarti keindahan yang sesungguhnya, atau bahkan sebaliknya, sebuah musik yang indah merupakan representasi dari kondisi yang begitu sedih dan tragis. Kemampuan seseorang untuk mengejawantah nada-nada untuk membangun suasana yang begitu mendalam adalah seseorang yang memiliki tipe kecerdasan ini. Musisi dan penyanyi adalah dua profesi yang mengharuskan seseorang fasih dalam memainkan kecerdasan musik ini.

6)      kecerdasan interpersonal
Kecerdasan interpersonal adalah kecerdasan terkait kemampuan untuk bersosialisasi, berbicara di khalayak, atau sekedar menjadi seorang kawan bicara yang enak dan mengasyikkan. Kecerdasan interpersonal lahir untuk mempuat hubungan antara satu individu dengan individu yang lain. Seorang guru, konselor dan politikus memiliki kecerdasan ini secara baik.

7)      kecerdasan intrapersonal
Kecerdasan intrapersonal adalah kecerdasan memahami diri sendiri, terkait dengan membangun kepribadian dan karakter yang kuat. Kecerdasan ini terwujud dalam sikap bijaksana yang tidak dapat direkayasa adanya. Tokoh-tokoh agama menjadi contoh konkrit dari adanya kecerdasan tipe ini.
Ketujuh kecerdasan tersebut bukan merupakan pengelompokan dari tipe-tipe kecerdasan yang dimiliki manusia. Tokoh psikologi lain menambahkan tipe kecerdasan lain yang tidak kalah penting dalam mempengaruhi keberhasila seseorang, baik di bangku pendidikan maupun di dunia kerja. Kecerdasan tersebut meliputi kecerdasan spiritual, kecerdasan emosional, kecerdasan naturalis dan kecerdasan eksistensial. Banyaknya tipe kecerdasan yang dimiliki manusia akan berpengaruh pada gaya belajar dan karakter dasar seseorang. [PK]

Rabu, 12 Agustus 2015

Mengapresiasi Bakat


Lomba Bidang Seni di Kecamatan Ngadirojo

Bakat merupakan anugerah Tuhan kepada setiap ciptaan-Nya. Bakat melekat pada sifat dasar setiap ciptaan dari Sang Pencipta. Bakat melekat sebagai kemampuan alami untuk bertahan diri dan terus menunjukkan eksistensi diri. Bakat adalah gawan bayi yang merupakan kemampuan yang lahir tanpa campur tangan alam, namun dalam proses tumbuh dan berkembangnya bakat yang ada, alam dan lingkungan mempunyai andil yang sangat besar.

Bakat adalah milik setiap ciptaan Tuhan, bukan hanya manusia, namun juga hewan dan tumbuhan. Beberapa hewan dikaruniai kemampuan untuk bernyanyi, sebut saja burung kenari, suaranya menjadi daya tarik luar biasa. Kemampuan burung kenari yang secara alamiah diciptakan untuk menarik lawan jenis dalam inisiasi proses perkawinan ternyata juga menarik keinginan manusia untuk memilikinya. Tumbuhan juga demikian, tumbuhan Nepenthes (kantung semar) juga dikarunia “bakat” untuk menunjang kebutuhan hidupnya. Kantung semar memerlukan zat-zat untuk tumbuh yang tidak dapat didapatkan dari tanah, namun hanya bisa didapatkan dengan ‘memakan’ serangga. Oleh karena itu, Tuhan menganugerahkan kemampuan untuk ‘menangkap’ dan ‘memakan’ serangga dalam rangka memenuhi kebutuhan tubuhnya.

Tuhan memang Maha Adil untuk setiap ciptaan-Nya. Tuhan sangat rinci dalam mencipta setiap apapun yang ada di dunia. Setiap bentuk akan menunjang fungsi, dan setiap fungsi merupakan kesatuan kerja dari bentukan-bentukan yang tercipta. Hukum Kausal ini sangat jelas ada di dalam tubuh setiap makhluk hidup, bahwa setiap morfologi dan anatomi (bentuk dan susunan tubuh) akan sangat berkaitan dengan sisi fisiologis (sistem fungsi) dari bagian tubuh tersebut.

Tuhan memang Maha Adil pada setiap ciptaan-Nya. Tuhan telah  mempertimbangkan setiap kemampuan yang diberikan per individu yang ada, dan kemampuan itu lahir sebagai sebuah keunikan setiap diri, membedakan satu individu dengan individu yang lain. Tuhan menciptakan setiap manusia cerdas, menguasai bidang masing-masing. Dan setiap manusia cerdas pada ranah yang diberikan Tuhan. Tidak ada individu yang dicipta dalam kondisi bodoh, predikat ‘bodoh’ mungkin lahir karena belum ditemukannya bakat yang dipunyai dari individu tersebut, sehingga orang tua, keluarga dan guru harus lebih jeli dalam menemukan dan selanjutnya mengembangkan bakat dari setiap individu.
Howard Gardner, seorang ahli psikologi, pada tahun 1983 telah membahas tentang kecerdasan manusia. Menurutnya, kecerdasan (intellegence) adalah kemampuan untuk menangkap situasi baru serta kemampuan untuk belajar dari pengalaman masa lalu. Kecerdasan seseorang bergantung pada konteks, tugas dan tuntutan yang diberikan kehidupan pada seseorang, buka berdasarkan nilai IQ atau gelar yang dimiliki seseorang. Selanjutnya, Gardner mengemukakan tentang teori Multiple Intellegences (Kecerdasan Majemuk) yang tertuang dalam bukunya Frame of Mind: The Theory of Multiple Intellegences (1985).

Pada awalnya, Gardner membagi kecerdasan ke dalam tujuh kategori, selanjutnya dikembangkan lagi menjadi sembilan poin kecerdasan. Tujuh kategori kecerdasan awal yang dicetuskan Gardner meliputi: (1) kecerdasan linguistik/bahasa, (2) kecerdasan matematis-logis, (3) kecerdasan ruang-spasial, (4) kecerdasan kinestetis, (5) kecerdasan musik, (6) kecerdasan interpersonal, dan (7) kecerdasan intrapersonal. Selanjutnya poin (7) berkembang menjadi poin (8) yaitu kecerdasan lingkungan/naturalis. Pada perkembangan lanjut, poin (8) berkembang menjadi poin (9) yaitu kecerdasan eksistensial.

Kecerdasan adalah bakat alamiah manusia. Setiap manusia telah diberikan kecerdasan dengan ‘porsi’ masing-masing oleh Tuhan Yang Mahabijaksana. Keadilan Tuhan tercermin dalam keberagaman ‘porsi’ kecerdasan yang diberikan Tuhan kepada setiap manusia. Si A diberikan porsi kecerdasan matematis yang sangat menonjol, namun, kurang di kecerdasan interpersonal. Berbeda dengan si B yang dianugerahi kecerdasan kinestetis yang istimewa, namu kemampuan linguistiknya biasa saja. Tipe kecerdasan yang menonjollah yang harusnya dikembangkan bagi setiap manusia, sehingga individu tersebut dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan bakat alamiah yang dianugerahkan Tuhan. Ibarat lampu, sebuah ruangan yang diterangi dengan dua bola lampu akan lebih terang jika dibandingkan dengan ruangan berurukan sama yang hanya diterangi satu lampu saja. Hal ini juga berlaku dalam pengembangan potensi manusia, seorang anak yang berdiri dengan pijakan bakat dan latihan akan memberikan hasil yang umumnya lebih bagus dari pada seorang anak yang hanya berdiri pada salah satu pijakan saja.

Menemukan bakat anak memang bukan perkara yang mudah. Namun, kesulitan bukan berarti kemustahilan. Di dalam sebuah kesulitan, pasti akn diiringi dengan adanya kemudahan. Tidak banyak manusia yang dianugerahi talenta yang majemuk, umumnya hanya terbatas pada talenta tertentu saja. Orang tua, keluarga, guru dan masyarakat mempunyai andil besar dalam menumbuhkembangkan bakat yang diberikan Tuhan, karena proses pembiasaan dapat menumbuhkan atau bahkan menghilangkan bakat dari seseorang.

Lomba Bidang Olahraga di Kecamatan Ngadirojo (foto: Juhan )

Pemerintah Kecamatan Ngadirojo mewadahi upaya masyarakat untuk mengembangkan bakat yang dimiliki oleh warganya. Dalam rangkaian peringatan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-70 tahun 2015 ini, Camat Ngadirojo dan jajarannya mengadakan serangkaian acara yang bertujuan tidak hanya memberikan tontonan yang meriah bagi warga masyarakat, namun juga mengembangkan bakat yang dimiliki warganya. Lebih jauh, kegiatan yang ada diharapkan mampu menjadi usaha untuk melestarikan budaya yang ada. Tak hanya dalam bidang seni dan budaya, lomba-lomba yang ada juga mencakup bakat-bakat lain, baik dalam bidang olahraga, musik, maupun akademik. Berbagai kegiatan yang dikemas dalam acara lomba merupakan wujud tanggung jawab Pemerintah untuk menjamin keberlangsungan bakat dan budaya yang ada di masyarakat Ngadirojo. [PK]


Selasa, 11 Agustus 2015

Yok Lomba Merias Wajah!!!



Bulan Agustus adalah bulan yang bertabur semangat bagi warga Indonesia. Semangat ini nampak dari antusiasme warga dalam mengikuti rangkaian acara dalam memperingati HUT kemerdekaan Republik Indonesia yang umumnya dikenal dengan kegiatan agustusan. Banyak perlombaan yang digelar oleh panitia, baik di tingkat desa, kecamatan hingga kabupaten/kota. Di setiap daerah mempunyai acara khas yang membedakan dengan daerah yang lain, namun ada beberapa lomba yang khas di acara agustusan, seperti panjat pinang, lomba gerak jalan atau lomba olahraga dan kreasi seni.


Jika berandai-andai, mungkin Sanggar Edi Peni akan melakukan Lomba Rias Wajah. Rias wajah mempunyai peran dan fungsi yang sangat penting dalam sebuah pementasan. Nah, dengan lomba rias ini diharapkan kemampuan mempercantik wajah seseorang makin meningkat. [PK]

Senin, 10 Agustus 2015

Langen Beksan di Lorok Pacitan



Sabtu (8/8/2015) Pemerintah Kecamatan Ngadirojo menggelar lomba langen beksan antar desa dalam rangkaian peringatan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia. Acara langen beksan digelar di pendopo kecamatan yang sebelumnya dirangkaian dengan lomba tari antar SMA/SMK se-kecamatan Ngadirojo, kabupaten Pacitan. Dalam pidato sambutan, Bapak Camat Ngadirojo menyampaikan apresiasi warga Ngadirojo yang antusias menyaksikan acara ini dan berharap acara ini adalah sarana untuk menjaga dan melesatarikan budaya bangsa.

Langen beksan dikenal luas dengan istilah tayub. Tayub sendiri bagi sebagian masyarakat diartikan sebagai ditata supaya guyub (ditata agar rukun). Tayub merupakan kesenian Jawa yang berkembang di Jawa Tengah dan Jawa Timur yang menampilkan gerak tari mengikuti alunan lagu/langgam yang ditembangkan oleh sinden dengan diiringi oleh para pengrawit (penabuh gamelan). Langgam Jineman Uler Kambang sering digunkana sebagai gendhing pembuka dalam pagelaran tayub, selanjutnya akan dimainkan lagu-lagu Jawa klasik lainnya, seperti Sinom Parijothom Sinom Nyamat dan Pangkur Palaran.


Kesenian tayub banyak diselenggarakan sebagai sajian hiburan pada acara syukuran, pernikahan, khitanan ataupun acara bersih desa, misalnya dalam acara Jangkrik Genggong, yang merupakan acara adat masyarakat Tawang, desa Sidomulyo, kecamatan Ngadirojo. Dalam penyelenggaraan tayub, umumnya terdapat penari wanita yang dikenal dengan nama ledhek. Kata ledhek  dipercaya berasal dari kata lodhok yang berati lobang besar. Arti ini mengacu pada kebiasaan pada penyelenggaraan tayuban, ledhek menjadi sasaran eksplotasi kaum lelaki, entah hanya mencolek, mencium bahkan hal-hal lebih jauh dari sekedar seggolan dan ciuman. Kini, istilah ledhek banyak diganti dengan istilah larasati untuk menghilangkan citra negatif para penari wanita dalam acara tayub.

Tayub sendiri dipercaya merupakan induk dari tari Gambyong yang banyak ditarikan di istana keraton. Konon, ada seorang penari taledhek/penari tayub bernama Gambyong pada zaman pemerintahan Paku Buwana IV Surakarta (1788-1820). Gambyong adalah penari mumpuni yang sangat mahir memainkan pola tubuh dalah kesenian tayub, ditambah kemerduan suaranya. Saat ini banyak kreasi baru atas tarian Gambyong sejak lahirnya Gambyong Pareanom karya Nyai Bei Mintoraras.

Tayub adalah kesenian rakyat yang menyajikan kebersamaan dan kerukunan antar komponen masyarakat. Dalam penyelenggaraannya, tayub menggambarkan keakraban dari si tuan rumah dengan para undangan yang menunggu giliran mendapatkan sampur (selendang) dari para ledhek/larasati untuk menari bersama. Namun, dalam tayub sering diiringi dengan konsumsi minuman keras yang tentunya memperburuk citra tayub bagi sebagian masyarakat. Jika kita lebih jeli melihat, sebenarnya tayub hanyalah sebuah ekspresi bahagia yang lahir dalam gerak tari seiring dengan lagu yang berkumandang. Tayub juga sebuah sarana untuk ngleluri budaya yang telah lahir dari leluhur bangsa.

Ragam beksan sendiri sangat beragam. Beksan Sekar Medura adalah salah satunya. Beksan Sekar Medura ditarikan oleh empat penari putra yang gagah. Tari ini juga sering disebut Beksan Gundul atau Beksan Gendul. Kata gendul mengacu pada penggunaan gendul sebagai properti utama, selain sloki (gelas kecil). Properti gendul dan sloki ini menggambarkan kegembiraan warga Medura atas kemenangan Pangeran Mangkubumi (Sri Sultan Hamengku Buwana I) saat menghadapi VOC.

Ragam lain adalah Beksan Lawung Ageng yang menjadi salah satu sajian dalam upacara resepsi pernikahan GKR Hayu dan KPH Notonegoro di keratan Yogyakarta 23 Oktober silam. Beksan Lawung Ageng dibawakan oleh 16 penari pria. Ke-16 penari ini dikelompokkan menjadi dua penari Lawung Botoh, dua penari Salaotho, empat penari Lawung Lurah, empat penari Lawing Jajar dan empat pengampil. Menurut KRT Waseso Winoto, yang kala itu menjadi penanggung jawab pagelaran tari, menyebutkan bahwa Beksan Lawung Ageng merupakan tari klasik yang berupa ‘yasan’ dari Sri Sultan Hamengku Buwana I yang berkuasa tahun 1755-1792. Ragam lain adalah Beksan Trunajaya, Beksan Wira Pratama dan Langen Mandra Asmara. Masing-masing beksan memiliki ciri tertentu yang saling membedakan satu dengan yang lain.


Sebagai bagian dari warga sebuah bangsa yang berbudaya, sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk mengenal dan meletarikan budaya bangsa yang berakar dari budaya daerah yang adiluhung. Dengan mengenal budaya tersebut, diharapkan sense of belonging terhadap budaya makin kuat sehingga memicu rasa untuk terus mempelajari, mencintai, melestarikan dan akhirnya mengembangkan kebudayaan tersebut. Muara dari hal ini diharapkan agar kelak anak-cucu bangsa tidak hanya mengenal budaya hanya sekedar menjadi sejarah belaka, melainkan menjadi bagian hidup yang terus hidup dalam kehidupan sehari-hari. [PK]



Minggu, 09 Agustus 2015

Tari Sanjaya Rangin manggung di Rumah Sendiri

Penampilan Tari Sanjaya Rangin Sanggar Edi Peni & SMAN 1 Ngadirojo

Tari Sanjaya Rangin adalah tari tradisional karya pasangan Edi Suwito-Adi Peni dengan dibantu Bapak M. Kasim sebagai penata musik. Karya ini lahir pada tahun 2013 lalu, dan kemunculannya menyedot banyak perhatian dari berbagai kalangan. Tari Sanjaya Rangin berkisah tentang kiprah Raden Panji Sanjaya Rangin dalam upaya beliau untuk mengubah alas gung liwang liwung menjadi sebuah wilayah yang memiliki peradaban. Raden Panji Sanjaya Rangin sendiri merupakan seorang tokoh yang berilmu, baik ilmu jasmaniah maupun ilmu rohaniah. Ilmu inilah yang digunakan sebagai senjata untuk melakukan babad alas Lorok, sebuah wilayah di Pacitan timur.

Penguasaan atas ilmu dari seorang Sanjaya Rangin digambarkan oleh gerakan, properti hingga nada-nada yang digunakan untuk mengiri tari ini. Gandhewa (busur panah) yang dibawa oleh setiap penari merupakan simbol dari kesaktian sang Sanjaya Rangin.

Tari Sanjaya Rangin telah banyak mencicipi panggung, mulai dari lokal Lorok, Pacitan, Surabaya hingga ke Jakarta. Tarian ini juga menjadi salah satu kebanggaan masyarakat Pacitan untuk menyambut Bapak Susilo Bambang Yudhoyono saat datang ke Pacitan sebagai Presiden, kala itu. Tadi malam (8/8/2015) tari Sanjaya Rangin dipentaskan oleh Sanggar Edi Peni Pacitan dan SMA Negeri 1 Ngadirojo di Pendopo Kecamatan Ngadirojo. Penampilan ini merupakan rangkaian lomba untuk menyemarakkan peringatan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia di kecamatan Ngadirojo.

Tampil dengan undian 04, tari Sanjaya Rangin memukau masyarakat Ngadirojo yang tampak antusias memadati halaman Pendopo Kecamatan Ngadirojo. Selain lomba tari tradisional antar SMA/SMK, diperlombakan juga kesenian langen bekso yang diikuti oleh desa di kecamatan Ngadirojo. Dalam sambutan pembukaan acara, Bapak Camat Ngadirojo mengatakan bahwa acara ini merupakan ajang untuk memperkenalkan budaya Jawa kepada generasi penerus bangsa, sehingga diharapkan budaya adiluhung yang ada tidak terkikis oleh waktu dan masuknya budaya lain ke negara kita. [PK]

Sabtu, 08 Agustus 2015

Sikap Optimisme dalam Tari Sanjaya Rangin

Tari Sanjaya Rangin Sanggar Edi Peni Pacitan


Optimisme merupakan paham (keyakinan) atas segala sesuatu dr segi yg baik dan menyenangkan; sikap selalu mempunyai harapan baik dl segala hal [KBBI]. Keyakinan inilah yang mendasari tindakan-tindakan positif lain untuk menghasilkan karya. Sebagaimana tag line Agnez Mo yang sempat booming, “dream, believe and make it happen”. Dan sikap optimisme inilah yang digambarkan oleh tari Sanjaya Rangin karya pasangan Edi Suwito-Adi Peni.

Sanjaya Rangin merupakan tarian yang terinspirasi dari sikap optimisme salah satu tokoh pendiri Lorok. Optimisme yang dimiliki sang tokoh digambarkan dengan kemantapan poa langkah dan ragam gerakan. Musik yang diramu oleh Bapak M. Kasim juga memberikan kesan untuk memperjelas rasa optimisme yang dimiliki. Optimisme dapat lahir karena seseorang percaya akan kemampuannya dan percaya pula pada bantuan Tuhan akan niat baik untuk melahirkan karya baik. Kepercayaan akan kemampuan sang Sanjaya Rangin digambarkan dengan gandhewa yang menjadi properti utama sebagai simbol kesaktian dan kemampuan sang Sanjaya Rangin.

Tari Sanjaya Rangin sendiri telah memperoleh berbagai prestasi, baik di tingkat kabupaten maupun provinsi. Prestasi-prestasi ini selanjutnya berlanjut dengan penampilannya di berbagai panggung, termasuk di Taman Mini Indonesia Indah dan rangkaian acara penyambutan Bapak Susilo Bambang Yudhoyono di Pacitan.

Tentang sebuah optimisme, tentang sebuah kebanggaan. Sanjaya Rangin memberikan keteladanan. [PK]