Senin, 15 Agustus 2016
Tarian dan Percintaan
Tarian merupakan wujud dari sebuah keindahan. Sebuah kesatuan utuh dari seni musik, seni gerak dan seni suara untuk menyampaikan sebuah pesan bagi khalayak ramai. Sebuah pesan yang diharapkan dapat berdampak luas kepada masyarakat. Oleh karenanya, tarian bukan sebuah karya asal, namun sebuah hasil dari perenungan panjang. Pesan yang mendalam merupakan cerminan dari proses kontemplasi yang juga mendalam.
Percintaan merupakan salah satu topik yang tak akan habis untuk dikupas, termasuk dalam dunia tarian. Percintaan pula menjadi inspirasi beberapa kisah legendaris, termasuk Romeo dan Juliet, hingga cerita Siti Nurbaya. Di panggung tari, banyak kisah percintaan diangkat sebagai tema, sebut saja Sendratari Roro Jonggrang, Kisah Cinta Nyai Dasima dan Kisah Raden Panji Asmorobangun.
Tema percintaan terkadang dihadirkan dalam hal yang tak biasa, sebut saja cinta terhadap alam semesta. Sebuah kampanye akan kelestarian alam agar terus dijaga. Tema tak biasa lain misalnya tentang cinta pada Sang Pencipta. Tarian-tarian sakral ini begitu magis dan mendalam. Umat Hindu yang menjadikan tarian sebagai salah satu ritual penyembahan, punya beragam tari yang bertujuan mendekatkan diri kepada Sang Hyang Widi Wasa.
Sanggar Edi Peni bersama Tim KKN dari Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta menggandeng TK Nurul Yaqin untuk mengkreasikan tarian tentang percintaan yang tak biasa: Cinta Rasulullah. Tarian ini bertujuan menanamkan cinta kepada Muhammad SAW yang diyakini umat muslim sebagai nabi terakhir yang membawa ajaran tentang kedamaian, keindahan, dan tentunya kebenaran. Lewat tari ini diharapkan anak-anak (yang menjadi penonton) pada khususnya akan semakin cinta pada nabinya. Melalui rasa cinta yang ada, diharapkan ajaran-ajaran yang dibawanya juga terus dilaksanakan untuk kebaikan duniawi dan ukhrowi. [PK]
Jumat, 05 Agustus 2016
LEGENDA WATU LUMPANG
Nun di ujung timur Kabupaten Pacitan tersebutlah sebuah kisah yang sudah melegenda, tepatnya di dusun Bawur, Desa Sukorejo, Kecamatan Sudimoro. Desa Sukorejo merupakan daerah yang subur makmur. Pertanian merupakan sektor utama yang menghidupi warganya.
Alkisah di pinggir pantai Kondhang ada sebuah batu Gumuk yang menyerupai lumpang dan sepotong batu panjang yang menyerupai alu. Lumpang dan alu tersebut ternyata tempat bersemayamnya Jin Dawil Kasut.
Konon cerita Jin Dawil Kasut ini mempunyai kebiasaan yang buruk, dia suka sekali memangsa bayi. Bila dia menghendaki mangsa maka dia memukul batu tersebut sehingga terdengar sampai pelosok daerah di Bawur, dan selanjutnya ada kejadian aneh bayi meninggal mendadak dan di Batu Lumpang itu mengalir darah segar.
Karena kejadian yang berulang ulang maka perangkat desa ada kesepakatan untuk mendatangkan Kyai Baweh dari Ponorogo yang dikenal bisa menaklukkan jin. Dan setelah kedatangan Kyai Baweh dengan segala daya dan upayanya Batu Lumpang dapat di balik sehingga tengkurap dan alunya terpotong jadi dua.
Semenjak bisa terbaliknya Batu Lumpang daerah Bawur Sukorejo menjadi aman dan tenteram sampai sekarang.
Alkisah di pinggir pantai Kondhang ada sebuah batu Gumuk yang menyerupai lumpang dan sepotong batu panjang yang menyerupai alu. Lumpang dan alu tersebut ternyata tempat bersemayamnya Jin Dawil Kasut.
Konon cerita Jin Dawil Kasut ini mempunyai kebiasaan yang buruk, dia suka sekali memangsa bayi. Bila dia menghendaki mangsa maka dia memukul batu tersebut sehingga terdengar sampai pelosok daerah di Bawur, dan selanjutnya ada kejadian aneh bayi meninggal mendadak dan di Batu Lumpang itu mengalir darah segar.
Karena kejadian yang berulang ulang maka perangkat desa ada kesepakatan untuk mendatangkan Kyai Baweh dari Ponorogo yang dikenal bisa menaklukkan jin. Dan setelah kedatangan Kyai Baweh dengan segala daya dan upayanya Batu Lumpang dapat di balik sehingga tengkurap dan alunya terpotong jadi dua.
Semenjak bisa terbaliknya Batu Lumpang daerah Bawur Sukorejo menjadi aman dan tenteram sampai sekarang.
Foto: Doc-info Pacitan
Kamis, 14 Januari 2016
Tari Galiyer
Gal egol egal egol egolane galiyer
Gal egol egal egol egolane galiyer
Galiyar-galiyer gemulai penari binaan Sanggar Tari Edi Peni Pacitan ini menyuguhkan sajian yang sedap untuk ditonton. Enam siswi SDN Wiyoro I, Ngadirojo, Pacitan ini dengan penuh rasa membawakan tarian yang berdurasi lebih dari tujuh menit ini. Dibalut dengan busana hijau yang cerah, penampilan para penari galiyer ini makin meriah dan sumringah.
Tari Galiyer merupakan sebuah tari kreasi baru yang muncul tahun 2007 hasil besutan Sanggar Tari Kembang Sore. Tarian ini pernah berjaya di fertival tari tingkat nasional kala itu.
Tari Galiyer sendiri bercerita tentang lenggak-lenggok remaja putri yang energik dan ceria. Keceriaan ini digambarkan dengan goyangan-goyangan manis yang lemah gemulai manja, sedap untuk disaksikan.
Properti selendang mempercantik penampilan, selain juga menambah variasi gerak di dalam tari. [PK]
Rabu, 06 Januari 2016
Bangau dan Sebuah Sejarah
![]() |
| Tari Bangau Sanggar Edi Peni Pacitan |
Bangau adalah golongan burung yang berukuran besar, berkaki panjang, berleher panjang, dan mempunyai paruh yang besar, kuat dan tebal. Hewan ini memakan ikan kecil, katak, atau serangga air. Bangau memiliki warna bulu yang putih seakan melambangkan kesucian di atas rawa atau persawahan yang tiap hari ia pijaki. Bangau adalah sosok burung yang berwibawa dan penuh kebanggaan.
Kesucian dan dan kewibawaan inilah yang mungkin menjadi inspirasi lahirnya sebuah tari, tari bangau. Tarian ini adalah tari yang begitu bersejarah bagi Sanggar Edi Peni Pacitan, pasalnya tarian ini menjadi karya pertama bagi sanggar yang berlokasi di selatan Kantor Desa Hadiluwih Kecamatan Ngadirojo Kabupaten Pacitan ini.
![]() |
| Tari Bangau Sanggar Edi Peni Pacitan |
"Karya ini lebih tua dari sanggar ini secara resmi.", ujar Bapak Edi Suwito.
Secara resmi, Sanggar Edi Peni lahir tahun 1994, sedangkan karya ini menjadi embrio lahirnya sanggar yang saat ini terus berusaha eksis dalam menjaga dan mengembangkan budaya Jawa. Bapak Edi Suwito menambahkan bahwa tarian ini menggunakan properti "ala kadarnya" karena memang sanggar belum resmi berdiri.
Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah dan jasa para pahlawannya. Demikian pula Sanggar Edi Peni senantiasa berupaya untuk menghargai sejarah yang ada. Sejarah dapat dijadikan sebagai pelecut semangat, sejarah bisa menjadi motivasi ketika konsistensi tak lagi naik meninggi.
Bangau yang suci dan penuh wibawa semoga terus dijaga agar niat menjaga budaya tetap suci tanpa dikotori iri dan dengki. Semoga dalam menggapai cita tetap dilakukan dengan cara yang penuh wibawa, bukan kepicikan semata. [PK]
Secara resmi, Sanggar Edi Peni lahir tahun 1994, sedangkan karya ini menjadi embrio lahirnya sanggar yang saat ini terus berusaha eksis dalam menjaga dan mengembangkan budaya Jawa. Bapak Edi Suwito menambahkan bahwa tarian ini menggunakan properti "ala kadarnya" karena memang sanggar belum resmi berdiri.
Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah dan jasa para pahlawannya. Demikian pula Sanggar Edi Peni senantiasa berupaya untuk menghargai sejarah yang ada. Sejarah dapat dijadikan sebagai pelecut semangat, sejarah bisa menjadi motivasi ketika konsistensi tak lagi naik meninggi.
Bangau yang suci dan penuh wibawa semoga terus dijaga agar niat menjaga budaya tetap suci tanpa dikotori iri dan dengki. Semoga dalam menggapai cita tetap dilakukan dengan cara yang penuh wibawa, bukan kepicikan semata. [PK]
Minggu, 03 Januari 2016
TARI ADALAH TANDA KEHIDUPAN
“Tari adalah tanda kehidupan”, adalah ucapan seorang koreografer,
Vishnu, yang diceritakan dalam sebuah film bollywood
“ABCD – Any Body Can Dance”. Film ini
memang bukan keluaran baru, namun telah dirilis sejak Februari 2013 silam.
Sebagai sebuah film bollywood, wajib
rasanya menampilkan tarian dan nyanyian sebagai suguhan khas dari Negeri
Hindustan ini, terlebih judul yang diusungpun berbau tarian.
Film berdurasi 143 menit ini tidak hanya memperlihatkan kepiawaian
aktor dan aktrisnya dalam menari. Film ini juga dibalut dengan cerita sebuah
kompetisi tari terbesar di Negeri India. Vishnu, sang koreografer, merupakan
tokoh sentral yang mengalami pengkhianatan demi pengkhianatan. Bermula dari
pengkhiatan dari rekan kerjanya, hingga pengkhiatan oleh anak didiknya.
Optimisme akan kuasa Tuhan menjadikan Vishnu terus berkarya. Sebuah filosofi
tentang tarian dia lontarkan setelah mengikuti Perayaan Ganpati di sudut kecil
kota Mumbai.
Tarian adalah tanda kehidupan
Tuhan menciptakan dunia
Tuhan menciptakan hewan dan
tumbuhan
Lalu Tuhan memberikan tarian
kepada mereka
Dedaunan menari tertiup angin
Sungai mengalir dalam irama
Ikan berenang burung terbang
Tarian ada di mana-mana
Tarian adalah tanda kehidupan
Sesuatu yang bergerak dengan
irama alam menandakan sebuah kehidupan
Bukan hanya terkait filosofi tarian dan harga kesetiaan, film ini juga
membahas tentang harga sebuah keberhasilan. Bahwa keberhasilan merupakan buah
dari sebuah jerih payah. Bahwa keberhasilan bukan merupakan proses instan yang
datang begitu saja. Keberhasilan adalah irisan dari keyakinan, kerja keras,
komitmen dan kesetiaan.
Tarian Perayaan Ganpati menjadi puncak tarian yang ditampilkan dalam
film ini. Umat Hindu memang terkenal dengan tariannya yang eksotik dan sakral.
Tak perlu jauh ke India, di Bali juga merupakan cerminan bagaimana tarian menjadi
bagian dari kehidupan mereka, bagian dari adat, bagian dari ibadah dan bagian
dari kesyahduan hidup.
“Put your heart into dance and
dance will never leaves your heart!”
Mari menari, karena setiap orang mampu menari! [PK]
Minggu, 27 Desember 2015
Tari Abyor
![]() |
| Penari Abyor Sanggar Edi Peni Pacitan |
Manusia memang diciptakan dengan begitu indah oleh Tuhan, maka manusia pun mencintai keindahan. Kecintaan terhadap keindahan salah satunya nampak dari apa yang dia pakai, termasuk busana, asesoris dan selera akan sesuatu.
Tari Abyor merupakan sebuah karya tari yang menceritakan tentang kesenangan seorang remaja putri yang ingin menampakkan diri sebagai pusat perhatian. Oleh karenanya, dia menunjukkan sisi ke-glamour-an yang dia miliki, ditunjang dengan gemerlapnya busana yang dia kenakan.
Usia remaja adalah usia rentan yang penuh coba. Setiap remaja seakan merasa bebas dari penjara anak-anak dan mulai ingin mencicipi segala keindahan dunia. Untung Muljono dan Rudiatin menggambarkan kesenangan remaja putri terhadap gemerlapnya busana dalam lenggak-lenggok gemulai penari putri. Sanggar Edi Peni Pacitan mempersembahkan tarian ini dengan menggandeng Karang Taruna Desa Sembowo, Kecamatan Sudimoro, Kabupaten Pacitan.
Balutan kostum dengan nuansa emas membuat penari nampak 'abyor' dalam acara yang digelar di malam hari. Dalam busana yang dikenakan, Bapak Edi Suwito memilih mahkota bernuansa tanah Lampung untuk dikenakan sang Penari. Mahkota Siger memang nampak menambah kemegahan busaha yang dikenakan.
Sebuah karya seni adalah pesan, demikian pula dengan tari ini. Selain menceritakan tentang kesenangan remaja putri terhadap gemerlapnya busana, tarian ini juga memberikan nasihat agar busana menjadi penutup raga agar terhindar dari mara bahaya. Sehingga busana menjadi satu tolok ukur kesusilaan dalam sebuah budaya. [PK]
Senin, 21 Desember 2015
Tentang Hari Ibu
Hari ini, 22 Desember 2015, hampir di seluruh media sosial di Indonesia beramai-ramai membicarakan tentang annual celebration, Hari Ibu! Tak ada salahnya membuat satu hari spesial untuk sosok yang sangat spesial, Ibu. Meskipun harus diakui, bukan hanya sehari, bahkan bakti seumur hidup bahkan tak cukup untuk membayar kegigihan seorang Ibu.
Bukan hanya Indonesia, beberapa negara lain juga memiliki tradisi serupa untuk membuat hari spesial tentang Ibu, meskipun tidak sama tanggal perayaannya. Mother’s Day diperingati di Amerika, Kanada, Australia, Jepang dan Hongkong pada hari Minggu pekan kedua bulan Mei, sedangkan di beberapa negara Eropa dan Timur Tengah, perayaan hari Ibu dibarengkan dengan International Women’s Day pada setiap tanggal 8 Maret.
Lalu, apa kaitan Hari Ibu dengan Yogyakarta dan Soekarno?
Yogyakarta adalah salah satu kota paling Romantis di Indonesia. Anies Baswedan punya pernyataan tentang Jogja dan setiap sudutnya yang begitu romantis. Bahkan budayawan Sudjiwo Tedjo membuat sebuah pernyataan tentang Yogyakarta, bahwa pergi ke Yogyakarta adalah cara si dalang edan ini untuk menertawakan kesibukan orang-orang Ibukota.
Yogyakarta adalah salah satu kota paling Romantis di Indonesia. Anies Baswedan punya pernyataan tentang Jogja dan setiap sudutnya yang begitu romantis. Bahkan budayawan Sudjiwo Tedjo membuat sebuah pernyataan tentang Yogyakarta, bahwa pergi ke Yogyakarta adalah cara si dalang edan ini untuk menertawakan kesibukan orang-orang Ibukota.
Soekarno?
Siapakah yang tak kenal dengan salah satu anak bangsa yang jenius ini. Sang founding father dengan segala kelihaiannya dan kecakapannya membuat banyak orang memuja sosoknya.
Siapakah yang tak kenal dengan salah satu anak bangsa yang jenius ini. Sang founding father dengan segala kelihaiannya dan kecakapannya membuat banyak orang memuja sosoknya.
| Ir. Soekarno dan Sang Istri (Sumber:www.biografiku.com) |
Kembali ke Hari Ibu di Indonesia. Jika kita ingin melihat hubungan tentang Hari Ibu, Yogyakarta dan Soekarno, mari kita coba mundur untuk melihat sejarah tentangnya.
Negara yang besar adalah negara yang menghargai jasa para pahlawannya. Ibu adalah pahlawan bangsa, dari rahimnya lahir pejuang-pejuang bangsa, dari rahimnya lahir pemimpin-pemimpin bangsa. Tak hanya itu, banyak pejuang wanita yang turut hadir dalam sejarah perjuangan dan penegakan bangsa Indonesia.
Peringatan Hari Ibu di Indonesia diawali dari berkumpulnya para pejuang perempuan dari 12 kota di Jawa dan Sumatra dan mengadakan Konggres Perempuan Indonesia I pada 22-25 Desember 1928 di Yogyakarta.
Pada kongres yang diadakan di Bandung pada tahun 1952, Ibu Sri Mangunsarkoro mengusulkan untuk dibangun sebuah monumen untuk memperingati kongres pertama tersebut.
| Kompleks Mandala Bhakti Wanitatama, Yogyakarta (Sumber:wisataidea.blogspot.com) |
Pada tanggal 20 Mei 1956 dibangunlah Balai Srikandi yang peletakan batu pertamanya dilakukan oleh menteri wanita pertama di Indonesia, Maria Ulfah.
Kemudian seluruh kompleks bangunan pun dibangun dan akhirnya diresmikan oleh Presiden Suharto menjadi kompleks gedung Mandala Bhakti Wanitatama pada tanggal 22 Desember 1983.
Ada beberapa bangunan pada kompleks ini. Museum terletak pada salah satu bagian dari Balai Srikandi. Kemudian di sekelilingnya terdapat bangunan yang sering digunakan untuk acara resepsi dan pameran, yaitu Balai Shinta, Kunthi, dan Utari. Ada pula kompleks wisma penginapan Wisma Sembodro dan Wisma Arimbi serta perpustakaan.
Museum yang terletak di Balai Srikandi menyimpan berbagai koleksi benda-benda yang digunakan saat kongres waktu itu serta diorama.
Penetapan tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu diputuskan dalam Kongres Perempuan Indonesia III pada tahun 1938. Bahkan, Presiden Soekarno menetapkan tanggal 22 Desember ini sebagai Hari Ibu melalui Dekrit Presiden No. 316 tahun 1959.
Pada awalnya peringatan Hari Ibu adalah untuk mengenang semangat dan perjuangan para perempuan dalam upaya perbaikan kualitas bangsa ini. Misi itulah yang tercermin menjadi semangat kaum perempuan dari berbagai latar belakang untuk bersatu dan bekerja bersama.
Kalau kita melihat sejarah betapa heroiknya kaum perempuan (kaum Ibu) pada saat itu dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, apakah sepadan dengan peringatan Hari Ibu saat ini yang hanya ditunjukkan dengan peran perempuan dalam ranah domestik. Misalnya dalam sebuah keluarga pada tanggal tersebut seorang ayah dan anak-anaknya berganti melakukan tindakan domestik seperti masak, mencuci, belanja, bersih-bersih, dan kemudian memberikan hadiah-hadiah untuk sang ibu.
Peringatan Hari Ibu di Indonesia saat ini lebih kepada ungkapkan rasa sayang dan terima kasih kepada para ibu, memuji keibuan para ibu. Berbagai kegiatan pada peringatan itu merupakan kado istimewa, penyuntingan bunga, pesta kejutan bagi para ibu, aneka lomba masak dan berkebaya, atau membebaskan para ibu dari beban kegiatan domestik sehari-hari.
Dari Berbagai Sumber untuk seluruh Ibu di Indonesia
. Selamat Hari Ibu.
*sungkem*
Sumber: Priyambodo Unila
Jumat, 11 Desember 2015
Tari Pongan: Cermin Kebersamaan
![]() |
| Tari Pongan Sanggar Edi Peni Pacitan |
Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) baru saja usai digelar serentak di berbagai daerah di penjuru Indonesia. Satu harapan yang diinginkan oleh rakyat adalah semakin makmur dan sejahtera. Pacitan juga demikian, setelah menggelar Pilkada, beberapa jenis perhitungan cepat dan perhitungan riil menunjukkan bahwa Bapak Indartato akan kembali memimpin Pacitan lima tahun mendatang. Semoga amanah...
Sebuah hal yang dicita-citakan selain adanya kemakmuran dan kesejahteraan adalah hidupnya kembali semangat gotong-royong dan semangat kebersamaan. Meskipun beberapa saat Pacitan terbelah menjadi dua kubu, namun saatnya kembali bersatu, kembali bersama untuk terus maju.
Kebersamaan adalah potret keindahan. Oleh karena itu, kebersamaan juga dilukiskan dalam gerak tari nan indah dalam sebuah garapan: Tari Pongan. Tari ini ditampilkan oleh sekelompok anak laki-laki yang bergerak lincah menggambarkan gesit dan trengginasnya sebuah generasi. Pola lantai dan pakaian yang seragam menunjukkan bahwa setiap individu mempunyai tugas dan kewajiban yang sama dalam memajukan bangsa.
![]() |
| Tari Pongan Sanggar Edi Peni Pacitan |
Tari Pongan adalah sebuah cerminan cita-cita sebuah bangsa. Sebuah harapan pada generasi yang akan segera menggantikan generasi tua. Sebuah asa agar budaya tetap dijunjung tinggi dan menjadi warna dalam hidup berbangsa dan bernegara. Tari Pongan: tari kebersamaan.
Semoga kebersamaan yang digambarkan di dalam Tari Pongan ini menjadi nyata, termasuk di Pacitan, tanah kelahiran tercinta! [PK]
Senin, 26 Oktober 2015
Belajar dari Sebuah Kampung Bali
| Tari Panca Brahma sebagai tarian penyambutan tamu |
| Anggota Sanggar Edi Peni bersama rombongan berfoto bersama dengan Pemain Gamelan Gong 2000 di Dusun Gunung Agung |
Bali adalah sebuah tempat yang eksotis. Di dunia pariwisata, mungkin nama Bali lebih tenar jika dibandingkan dengan nama Indonesia. Bali begitu terkenal dengan keindahan alam dan keagungan budayanya. Alam bali yang elok bisa dibuktikan dengan tingginya animo masyarakat untuk berkunjung ke pantai-pantai yang ada di Bali. Tak hanya pantai, Bali juga punya Danau Bratan, Gunung Agung atau Kebun Raya Eka Karya. Alam yang indah didukung dengan budaya yang lestari. Budaya yang erat dengan kepercayaan mayoritas masyarakat sebagai umat Hindu sangat terasa. Budaya sebagai bentuk pemujaan kepada Dewata sangat harmonis memadukan hubungan Tuhan, manusia dan alam.
Budaya Bali memang sangat agung, tak hanya di tanah Bali, namun juga di tanah rantau. Budaya Bali yang terbalut pada sakralnya peribadatan Hindu masih sangat dipegah teguh warga keturunan Bali, meskipun tak menapaki tanah leluhurnya. Pengalaman ini kami dapati dari sebuah area di Provinsi Lampung, ujung selatan pulau Sumatera. Perjalanan ke Dusun Gunung Agung, desa Braja Harjosari, kecamatan Braja Selebah, kabupaten Lampung Timur, Provinsi Lampung menjadi sebuah pembelajaran bahwa budaya bisa menjadi nyawa, bahwa budaya hidup tanpa batas geografis area.
Dusun Gunung Agung, desa Braja Harjosari, kecamatan Braja Selebah, kabupaten Lampung Timur, Provinsi Lampung merupakan daerah yang berbatasan langsung dengan Taman Nasional Way Kambas (TNWK). Dusun ini dihuni oleh warga keturuan Bali yang melakukan transmigrasi pasca letusan Gunung Agung di dekade tahun 1960-an. Perjalanan kehidupan menakdirkan penduduk Dusun Agung menggantungkan hidup sebagai petani, petani yang menjunjung budaya Bali. Adalah Sanggar Gong 2000 motor dari pelestarian budaya ini. Di sini, latihan gamelan dan tarian dimulai. Selain berlatih, mereka juga mementaskannya di hadapan tamu yang berkunjung.
Wisata Desa Penyangga TNWK adalah program yang diusung tim Biologi FMIPA Universitas Lampung yang tergabung dalam konsorsium AleRT-Unila di bawah naungan program Trapical Forest Conservation Action (TFCA)-Sumatera. Sebuah perjalanan berharga bisa menikmati kampung Bali yang tidak berada di pulau Bali. Sebuah pelajaran bahwa di manapun tanah dipijak, budaya bisa hidup berdampingan, kesenian bisa digunakan sebagai modal kehidupan.
“Seru! Menyatu bersama masyarakat ‘Bali’, mendengarkan kisah dari Pak Mangku yang menuangkan perjalanan hidupnya lewat pahatan di gapura rumahnya dan bisa berjoged bersama cewek ‘Bali’!”, ungkap Priyambodo, tim Sanggar Edi Peni Pacitan yang turut ikut rombongan ke paket wisata desa ini.
Dan di Dusun Gunung Agung ini, kesenian juga dijunjung tinggi dan dijaga agar tetap lestari. Kesenian menjadi bagian kehidupan masyarakat Dusun Gunung Agung, dan Tim Biologi Unila mencoba memolesnya sebagai modal dasar roda ekonomi kreatif lewat wisata desa. Berminat melihat Bali di luar Bali? Dusun Gunung Agung jawabannya! [PK]
Sabtu, 24 Oktober 2015
Pengenalan Budaya kepada Anak-anak
![]() |
Budaya adalah buah dari sebuah anugerah. Tuhan menciptakan keindahan, dan manusia mengkreasikan keindahan itu menjadi sebuah karya seni untuk disajikan dan dinikmati.
Lalu,
Kapankah budaya harus diajarkan?
Budaya adalah bagian dari manusia, ia lahir dan berkembang bersama masyarakat. Maka, alangkah lebih baik jika kita kenalkan budaya kepada anak-anak?
Anak-anak merupakan periode emas pertumbuhan di mana fase imprinting, habituating sangat jelas terlihat. Dengan tumbuh bersama budaya, seorang anak akan merasa menjadi bagian dari budaya dan merasa budaya adalah bagian dari hidupnya. Rasa ini sangat penting untuk menanamkan sense of belonging, dengan merasa memiliki maka rasa "handarbeni" akan lebih terasa.
Sudahkah Anda mengenalkan budaya pada anak Anda?
(PK)
Langganan:
Postingan (Atom)

















