Minggu, 27 Desember 2015

Tari Abyor

Penari Abyor Sanggar Edi Peni Pacitan

Manusia memang diciptakan dengan begitu indah oleh Tuhan, maka manusia pun mencintai keindahan. Kecintaan terhadap keindahan salah satunya nampak dari apa yang dia pakai, termasuk busana, asesoris dan selera akan sesuatu.

Tari Abyor merupakan sebuah karya tari yang menceritakan tentang kesenangan seorang remaja putri yang ingin menampakkan diri sebagai pusat perhatian. Oleh karenanya, dia menunjukkan sisi ke-glamour-an yang dia miliki, ditunjang dengan gemerlapnya busana yang dia kenakan.

Usia remaja adalah usia rentan yang penuh coba. Setiap remaja seakan merasa bebas dari penjara anak-anak dan mulai ingin mencicipi segala keindahan dunia. Untung Muljono dan Rudiatin menggambarkan kesenangan remaja putri terhadap gemerlapnya busana dalam lenggak-lenggok gemulai penari putri. Sanggar Edi Peni Pacitan mempersembahkan tarian ini dengan menggandeng Karang Taruna Desa Sembowo, Kecamatan Sudimoro, Kabupaten Pacitan.

Balutan kostum dengan nuansa emas membuat penari nampak 'abyor' dalam acara yang digelar di malam hari. Dalam busana yang dikenakan, Bapak Edi Suwito memilih mahkota bernuansa tanah Lampung untuk dikenakan sang Penari. Mahkota Siger memang nampak menambah kemegahan busaha yang dikenakan.

Sebuah karya seni adalah pesan, demikian pula dengan tari ini. Selain menceritakan tentang kesenangan remaja putri terhadap gemerlapnya busana, tarian ini juga memberikan nasihat agar busana menjadi penutup raga agar terhindar dari mara bahaya. Sehingga busana menjadi satu tolok ukur kesusilaan dalam sebuah budaya. [PK]

Senin, 21 Desember 2015

Tentang Hari Ibu


Hari ini, 22 Desember 2015, hampir di seluruh media sosial di Indonesia beramai-ramai membicarakan tentang annual celebration, Hari Ibu! Tak ada salahnya membuat satu hari spesial untuk sosok yang sangat spesial, Ibu. Meskipun harus diakui, bukan hanya sehari, bahkan bakti seumur hidup bahkan tak cukup untuk membayar kegigihan seorang Ibu.

Bukan hanya Indonesia, beberapa negara lain juga memiliki tradisi serupa untuk membuat hari spesial tentang Ibu, meskipun tidak sama tanggal perayaannya. Mother’s Day diperingati di Amerika, Kanada, Australia, Jepang dan Hongkong pada hari Minggu pekan kedua bulan Mei, sedangkan di beberapa negara Eropa dan Timur Tengah, perayaan hari Ibu dibarengkan dengan International Women’s Day pada setiap tanggal 8 Maret.

Lalu, apa kaitan Hari Ibu dengan Yogyakarta dan Soekarno?
Yogyakarta adalah salah satu kota paling Romantis di Indonesia. Anies Baswedan punya pernyataan tentang Jogja dan setiap sudutnya yang begitu romantis. Bahkan budayawan Sudjiwo Tedjo membuat sebuah pernyataan tentang Yogyakarta, bahwa pergi ke Yogyakarta adalah cara si dalang edan ini untuk menertawakan kesibukan orang-orang Ibukota.

Soekarno?
Siapakah yang tak kenal dengan salah satu anak bangsa yang jenius ini. Sang founding father dengan segala kelihaiannya dan kecakapannya membuat banyak orang memuja sosoknya.
1795005_20130201082915
Ir. Soekarno dan Sang Istri (Sumber:www.biografiku.com)

Kembali ke Hari Ibu di Indonesia. Jika kita ingin melihat hubungan tentang Hari Ibu, Yogyakarta dan Soekarno, mari kita coba mundur untuk melihat sejarah tentangnya.
Negara yang besar adalah negara yang menghargai jasa para pahlawannya. Ibu adalah pahlawan bangsa, dari rahimnya lahir pejuang-pejuang bangsa, dari rahimnya lahir pemimpin-pemimpin bangsa. Tak hanya itu, banyak pejuang wanita yang turut hadir dalam sejarah perjuangan dan penegakan bangsa Indonesia.
Peringatan Hari Ibu di Indonesia diawali dari berkumpulnya para pejuang perempuan dari 12 kota di Jawa dan Sumatra dan mengadakan Konggres Perempuan Indonesia I pada 22-25 Desember 1928 di Yogyakarta.
Pada kongres yang diadakan di Bandung pada tahun 1952, Ibu Sri Mangunsarkoro mengusulkan untuk dibangun sebuah monumen untuk memperingati kongres pertama tersebut.
bhakti-wanitatama
Kompleks Mandala Bhakti Wanitatama, Yogyakarta (Sumber:wisataidea.blogspot.com)

Pada tanggal 20 Mei 1956 dibangunlah Balai Srikandi yang peletakan batu pertamanya dilakukan oleh menteri wanita pertama di Indonesia, Maria Ulfah.

Kemudian seluruh kompleks bangunan pun dibangun dan akhirnya diresmikan oleh Presiden Suharto menjadi kompleks gedung Mandala Bhakti Wanitatama pada tanggal 22 Desember 1983.

Ada beberapa bangunan pada kompleks ini. Museum terletak pada salah satu bagian dari Balai Srikandi. Kemudian di sekelilingnya terdapat bangunan yang sering digunakan untuk acara resepsi dan pameran, yaitu Balai Shinta, Kunthi, dan Utari. Ada pula kompleks wisma penginapan Wisma Sembodro dan Wisma Arimbi serta perpustakaan.

Museum yang terletak di Balai Srikandi menyimpan berbagai koleksi benda-benda yang digunakan saat kongres waktu itu serta diorama.
Penetapan tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu diputuskan dalam Kongres Perempuan Indonesia III pada tahun 1938. Bahkan, Presiden Soekarno menetapkan tanggal 22 Desember ini sebagai Hari Ibu melalui Dekrit Presiden No. 316 tahun 1959.

Pada awalnya peringatan Hari Ibu adalah untuk mengenang semangat dan perjuangan para perempuan dalam upaya perbaikan kualitas bangsa ini. Misi itulah yang tercermin menjadi semangat kaum perempuan dari berbagai latar belakang untuk bersatu dan bekerja bersama.

Kalau kita melihat sejarah betapa heroiknya kaum perempuan (kaum Ibu) pada saat itu dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, apakah sepadan dengan peringatan Hari Ibu saat ini yang hanya ditunjukkan dengan peran perempuan dalam ranah domestik. Misalnya dalam sebuah keluarga pada tanggal tersebut seorang ayah dan anak-anaknya berganti melakukan tindakan domestik seperti masak, mencuci, belanja, bersih-bersih, dan kemudian memberikan hadiah-hadiah untuk sang ibu.

Peringatan Hari Ibu di Indonesia saat ini lebih kepada ungkapkan rasa sayang dan terima kasih kepada para ibu, memuji keibuan para ibu. Berbagai kegiatan pada peringatan itu merupakan kado istimewa, penyuntingan bunga, pesta kejutan bagi para ibu, aneka lomba masak dan berkebaya, atau membebaskan para ibu dari beban kegiatan domestik sehari-hari.

Dari Berbagai Sumber untuk seluruh Ibu di Indonesia :). Selamat Hari Ibu.
*sungkem*

Jumat, 11 Desember 2015

Tari Pongan: Cermin Kebersamaan

Tari Pongan Sanggar Edi Peni Pacitan

Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) baru saja usai digelar serentak di berbagai daerah di penjuru Indonesia. Satu harapan yang diinginkan oleh rakyat adalah semakin makmur dan sejahtera. Pacitan juga demikian, setelah menggelar Pilkada, beberapa jenis perhitungan cepat dan perhitungan riil menunjukkan bahwa Bapak Indartato akan kembali memimpin Pacitan lima tahun mendatang. Semoga amanah...

Sebuah hal yang dicita-citakan selain adanya kemakmuran dan kesejahteraan adalah hidupnya kembali semangat gotong-royong dan semangat kebersamaan. Meskipun beberapa saat Pacitan terbelah menjadi dua kubu, namun saatnya kembali bersatu, kembali bersama untuk terus maju.

Kebersamaan adalah potret keindahan. Oleh karena itu, kebersamaan juga dilukiskan dalam gerak tari nan indah dalam sebuah garapan: Tari Pongan. Tari ini ditampilkan oleh sekelompok anak laki-laki yang bergerak lincah menggambarkan gesit dan trengginasnya sebuah generasi. Pola lantai dan pakaian yang seragam menunjukkan bahwa setiap individu mempunyai tugas dan kewajiban yang sama dalam memajukan bangsa.

Tari Pongan Sanggar Edi Peni Pacitan

Tari Pongan adalah sebuah cerminan cita-cita sebuah bangsa. Sebuah harapan pada generasi yang akan segera menggantikan generasi tua. Sebuah asa agar budaya tetap dijunjung tinggi dan menjadi warna dalam hidup berbangsa dan bernegara. Tari Pongan: tari kebersamaan.

Semoga kebersamaan yang digambarkan di dalam Tari Pongan ini menjadi nyata, termasuk di Pacitan, tanah kelahiran tercinta! [PK]

Senin, 26 Oktober 2015

Belajar dari Sebuah Kampung Bali

Tari Panca Brahma sebagai tarian penyambutan tamu

Anggota Sanggar Edi Peni bersama rombongan berfoto bersama dengan Pemain Gamelan Gong 2000 di Dusun Gunung Agung

Bali adalah sebuah tempat yang eksotis. Di dunia pariwisata, mungkin nama Bali lebih tenar jika dibandingkan dengan nama Indonesia. Bali begitu terkenal dengan keindahan alam dan keagungan budayanya. Alam bali yang elok bisa dibuktikan dengan tingginya animo masyarakat untuk berkunjung  ke pantai-pantai yang ada di Bali. Tak hanya pantai, Bali juga punya Danau  Bratan, Gunung Agung atau Kebun Raya Eka Karya. Alam yang indah didukung dengan budaya yang lestari. Budaya yang erat dengan kepercayaan mayoritas masyarakat sebagai umat Hindu sangat terasa. Budaya sebagai bentuk pemujaan kepada Dewata sangat harmonis memadukan hubungan Tuhan, manusia dan alam.

Budaya Bali memang sangat agung, tak hanya di tanah Bali, namun juga di tanah rantau. Budaya Bali yang terbalut pada sakralnya peribadatan Hindu masih sangat dipegah teguh warga keturunan Bali, meskipun tak menapaki tanah leluhurnya. Pengalaman ini kami dapati dari sebuah area di Provinsi Lampung, ujung selatan pulau Sumatera. Perjalanan ke Dusun Gunung Agung, desa Braja Harjosari, kecamatan Braja Selebah, kabupaten Lampung Timur, Provinsi Lampung menjadi sebuah pembelajaran bahwa budaya bisa menjadi nyawa, bahwa budaya hidup tanpa batas geografis area.

Dusun Gunung Agung, desa Braja Harjosari, kecamatan Braja Selebah, kabupaten Lampung Timur, Provinsi Lampung merupakan daerah yang berbatasan langsung dengan Taman Nasional Way Kambas (TNWK). Dusun ini dihuni oleh warga keturuan Bali yang melakukan transmigrasi pasca letusan Gunung Agung di dekade tahun 1960-an. Perjalanan kehidupan menakdirkan penduduk Dusun Agung menggantungkan hidup sebagai petani, petani yang menjunjung budaya Bali. Adalah Sanggar Gong 2000 motor dari pelestarian budaya ini. Di sini, latihan gamelan dan tarian dimulai. Selain berlatih, mereka juga mementaskannya di hadapan tamu yang berkunjung.

Wisata Desa Penyangga TNWK adalah program yang diusung tim Biologi FMIPA Universitas Lampung yang tergabung dalam konsorsium AleRT-Unila di bawah naungan program Trapical Forest Conservation Action (TFCA)-Sumatera. Sebuah perjalanan berharga bisa menikmati kampung Bali yang tidak berada di pulau Bali. Sebuah pelajaran bahwa di manapun tanah dipijak, budaya bisa hidup berdampingan, kesenian bisa digunakan sebagai modal kehidupan.

“Seru! Menyatu bersama masyarakat ‘Bali’, mendengarkan kisah dari Pak Mangku yang menuangkan perjalanan hidupnya lewat pahatan di gapura rumahnya dan bisa berjoged bersama cewek ‘Bali’!”, ungkap Priyambodo, tim Sanggar Edi Peni Pacitan yang turut ikut rombongan ke paket wisata desa ini.

Dan di Dusun Gunung Agung ini, kesenian juga dijunjung tinggi dan dijaga agar tetap lestari. Kesenian menjadi bagian kehidupan masyarakat Dusun Gunung Agung, dan Tim Biologi Unila mencoba memolesnya sebagai modal dasar roda ekonomi kreatif lewat wisata desa. Berminat melihat Bali di luar Bali? Dusun Gunung Agung jawabannya! [PK]

Sabtu, 24 Oktober 2015

Pengenalan Budaya kepada Anak-anak


Budaya adalah hasil pemikiran manusia yang adiluhung. Budaya lahir dari sebuah kecerdasan yang tercermin dalam karya cipta manusia, entah apapun bentuknya. Pujangga menuliskan sajak untuk melukiskan indahnya alam, seorang koreagrafer menciptakan tarian atas inspirasi alam yang membentang. Lalu, bagaimana dengan seorang siantis? Mereka menuliskan formula untuk mengabadikan keajaiban alam.

Budaya adalah buah dari sebuah anugerah. Tuhan menciptakan keindahan, dan manusia mengkreasikan keindahan itu menjadi sebuah karya seni untuk disajikan dan dinikmati.

Lalu,
Kapankah budaya harus diajarkan?
Budaya adalah bagian dari manusia, ia lahir dan berkembang bersama masyarakat. Maka, alangkah lebih baik jika kita kenalkan budaya kepada anak-anak?

Anak-anak merupakan periode emas pertumbuhan di mana fase imprinting, habituating sangat jelas terlihat. Dengan tumbuh bersama budaya, seorang anak akan merasa menjadi bagian dari budaya dan merasa budaya adalah bagian dari hidupnya. Rasa ini sangat penting untuk menanamkan sense of belonging, dengan merasa memiliki maka rasa "handarbeni" akan lebih terasa.

Sudahkah Anda mengenalkan budaya pada anak Anda?
(PK)

Selasa, 13 Oktober 2015

Dahsyatnya Berlibur!


Tim Sanggar Edi Peni sedang piknik di Pantai Klayar Pacitan

Hari libur atau yang dikenal dengan istilah "tanggal merah" merupakan hari yang ditunggu oleh sebagian besar karyawan maupun pelajar. Hari libur sejenak akan melepaskan kita dari rutinitas yang terkadang terasa membelenggu. Diakui atau tidak, setiap membuka halaman barupakan hal yang sangat jarang (atau bahkan tidak pernah) ditinggalkan.
u sebuah kalender, agenda mengamati tanggal merah di bulan yang bersangkutan mereka.

Dalam mengisi tanggal merah, boleh jadi seseorang hanya menghabiskan hari dengan bermalas-malasan di rumah. Sebagian yang lain hang out bersama kawan, atau ada sebagian lain yang menghabiskan waktu dengan berlibur. Yak, berlibur merupakan sebuah pilihan yang bisa dipertimbangkan dalam mengisi tanggal merah. Meskipun nampaknya asyik, sebuah agenda liburan juga harus dihitung secara matang, sehingga liburan akhirnya memang menjadi hal yang mengasyikkan.


Paling tidak, seseorang harus mempertimbangkan lokasi tujuan wisata. Pemilihan lokasi bisa berkaitan dengan lama waktu yang dimiliki dan juga budget yang tersedia di kantong. Jangan sampai liburan yang diharapkan menjadi pelipur lara dari setiap kepenatan justru menjadi bumerang yang akan menambah lelah dan penat. Nah, berikut kami coba bahas beberapa manfaat dari liburan yang telah dipertimbangkan secara matang. Ulasan ini kami cuplikkan dari laman http://manfaat.co.id/


·         Mengurangi stress

Rutinitas yang setiap hari dilakukan terus-menerus membuat perasaan jenuh yang dapat membangkitkan stress. Cenderung tidak tertarik dalam melekukan sesuau, tidak adanya motivasi dan kelelahan adalah gejala stress. Penelitian pada 76 pegawai, menunjukkan perasaan stress mereka cenderung menurun dengan liburan.

·         Membuka wawasan baru
Bertemu dangan banyak orang saat liburan memungkinkan anda mendapat teman baru dari berbagai penjuru. Ini memicu daya sosialisasi anda pada hal-hal yang baru dan menambah pengetahuan anda. Tidak menutup kemungkinan mendapat rekanan bisnis baru.

·         Menumbuhkan percaya diri
Bepergian ke tempat-tempat impian anda dapat menjadi salah satu pencapaian yang dilihat untuk ukuran tersendiri sebuah kesuksesan. Sekian lama anda bekerja dan mengumpulkan untuk liburan, membuat kenikmatan liburan menjadi lebih mengasyikan.

·         Mencegah Stroke
Relevansinya memang banyak dianggap hanya sedikit, namun anda perlu mengetahui bahwa orang yang ceria penuh dengan kebahagiaan serta memori yang indah akan lebih sedikit resiko terkena stroke.

Jika liburan Anda lakukan bersama keluarga, ada manfaat tambahan nih yang bisa diirasakan...
·         Meningkatkan keharmonisan keluarga
Waktu yang setiap hari kian terbatas dengan orang-orang tercinta, mampu menurunkan keharmonisan. Dengan berlibur bersama, tentunya anda akan memiliki waktu berkualitas dengan keluarga. Dan manfaat liburan sangat baik untuk menjaga keharmonisan rumah tangga.

·         Meningkatkan kasih sayang bersama
Liburan tidak hanya menjaga keharmonisan, baik anak-anak, suami, dan istri dapat meningkatkan rasa kasih sayang masing masing untuk menatap hidup penuh cinta kasih. Apa yang menyebabkannya ? tentu rasa tawa dan senda gurau saat liburan menjadi hal yang tak akan terlupakan.

·         Sebagai memori masa depan
Apa yang akan anda kenang bersama keluarga untuk masa depan? salah satunya tentu adalah liburan menyenangkan. Liburan akan membuat anda tak akan melupakan anggota keluarga beserta memberikan rasa persatuan dalam keluarga.

·         Mencegah perceraian
Percaya atau tidak pasangan suami istri yang sering pergi liburan bersama keluarga memiliki memiliki tingkat risiko rendah terhadap perceraian dibandingkan yang tidak pernah berlibur. Memori dan penuhnya kehangatan saat liburan menjadi faktor X yang dapat mereda ‘perkelahian suami istri’.

Piknik Yok!!`

Sabtu, 26 September 2015

Panjidoran

Penampilan Penari Panjidoran Sanggar Edi Peni di MTF 2006


Tari Panjirodan merupakan taria kreasi Raff Dance Company. Salah satu ciri tarian ini adalah adanya akulturasi dengan kesenian Islam, karena masuknya musik hadrah sebagai pengiring tarian. Hadrah merupakan musik yang menyenandungkan tentang keagungan Tuhan serta tugas Nabi Muhammad sebagai penyeru kepada umat manusia. Sanggar Edi Peni Pacitan membawakan tari Panjidoran ini pada tahun 2005-2006. Tari Panjidoran mengantarkan Sanggar Edi Peni Pacitan untuk tampil di Majapahit Travel Fair (MTF) 2006 di Surabaya.

Di Kulon Progo, DI Yogyakarta, berkembang kesenian Panjidor yang mungkin menjadi induk dari tari Panjidoran ini. Kesenian Panjidor di Kulon Progo juga dikenal dengan nama Panjidur. Kesenian ini merupakan seni komunal yang memadukan tari dan musik. Penarinya umumnya adalah laki-laki yang berdandan ala prajurit atau militer, sedangkan musiknya adalah tetabuhan hadrah yang rampak.

Penampilan Penari Panjidoran Sanggar Edi Peni di MTF 2006
Dalam kesenian Panjidor di Kulon Progo, dua tokoh sentral yang diperankan adalah Umarmaya dan Umarmadi. Keduanya merupakan tokoh yang diambil dari Babad Menak. Umarmaya adalah raja, sedangkan Umarmadi adalah patih di kerajaan Menak. Umarmadi umumnya ditampilkan sebagai tokoh yang jenaka berperut buncit.


Penampilan Penari Panjidoran Sanggar Edi Peni di MTF 2006
Konon, kesenian Panjidor diadopsi dari kisah heroik dari tanah Persia yang mengisahkan Wong Agung Jayeng Rana (Amir Hamzah) dalam menyebarkan agama Islam. Kesenian Panjidor sendiri mulai berkembang pasca kemerdekaan dan masih lestari hingga saat ini. Jika ditampilkan dalam jalinan cerita yang utuh, kesenian Panjidor memakan waktu pentas semalam suntuk. [PK]

Selasa, 15 September 2015

Nostalgia dengan Rury Tiara Facitania

Rury Tiara Facitania

Rury Tiara Facitania, dari namanya saja kita sudah bisa menebak bahwa sang orang tua begitu ngefans dengan Pacitan, sehingga nama Pacitan disematkan di akhir nama putrinya. Rury, demikian wanita cantik kelahiran 3 Oktober 1988 ini dipanggil. Ibu dari Damar Wongso Lesono ini adalah penari utama dalam pagelaran tari kolosal Pacitan Bumi Kaloka di Istana Negara tahun 2014 silam. Artikel ini mengetengahkan obrolan bersama Rury, wanita yang sempat dijuluki Dewi Sekartaji karena kepiawaiannya dalam memerankan tokoh tersebut dalam tarian.

Rury dan Sanggar Edi Peni
Rury, sosok wanita cantik yang doyan thiwul dan jenang piteng memang tak bisa dilepaskan dengan Sanggar Edi Peni. Ibu muda yang saat ini berdomisili di Bekasi, Jawa Barat ini merupakann bagian dari perjalanan Sanggar Edi Peni, sebagaimana Sanggar Edi Peni yang juga menjadi sebagian teman dari perjalanan hidup Rury. Rury Tiara Facitania kecil mulai bergabung dengan Sanggar Edi Peni saat masih duduk di kelas 2 Sekolah Dasar.

"Saat itu saya baru pindah dari Wonogiri ke SDN Hadiluwuh I, lalu langsung ikut les tari ke Sanggar Edi Peni.", kenangnya.

Rury menjadi bagian Sanggar Edi Peni selama stay di Lorok. Selepas SD, Rury melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 3 Ngadirojo. Di sekolah ini, ekstrakurikuler tari dibina oleh Sanggar Edi Peni, sehingga kebersamaan itu masih terus terjalin, bahkan hingga saat Rury mengenyam bangku pendidikan di SMA Negeri 1 Ngadirojo.

"Selepas SMA saya pergi ke Bekasi untuk kuliah. Setelah itu sudah tidak nari bareng lagi dengan Sanggar Edi Peni.", tutur Rury.

Penampilan Rury (tengah) dalam tari Galuh Pambuka saat SMA

Banyak Kenangan
Setiap kebersamaan pasti akan menggoreskan kenangan. Kenangan inilah yang akan mendewasakan, kenangan inilah yang akan menimbulkan kerinduan. Lebih dari 10 tahun menjadi anggota aktif Sanggar Edi Peni Pacitan, Rury merasakan sangat banyak kenangan. Belajar dan pentas tari sudah pasti menjadi bagian dari kenangan yang tergoreskan, namun ada hal lain yang terpatri dalam sanubari Rury.

“Sanggar Edi Peni itu keluarga. Pak Ito dan Bu Peni sudah seperti orang tua sendiri.”, kenangnya.


Rasa kekeluargaan inilah yang menjadi sumber kerinduan. Senda gurau, canda dan saling ejek antar teman saat bersama kadang terlitas dan mengundang rasa kangen datang.


Rury bersama penari Sanggar Edi Peni Pacitan dalam Pementasan di TMII Jakarta

Sosok Mandiri
Jika Rury punya kenangan tentang Sanggar Edi Peni, maka Sanggar Edi Peni juga punya kenangan tentang wanita yang menekuni belajar ilmu komunikasi di Universitas Bina Sarana Informatika. Adalah Mama Peni, sapaan anak-anak sanggar kepada Ibu Adi Peni memberikan kesan atas Rury. Beliau menggambarkan Rury sebagai anak yang tidak hanya mengandalkan bakat, namun terus menempa diri menjadi yang lebih baik.

Ibu Adi Peni melanjutkan bahwa darah seni yang mengalir dari Sang Ayah terus diasah. Meskipun harus belajar sendirian, Rury siap dan melaksanakan dengan sepenuh hati.

"Rury tidak pernah bergantung kepada temannya. Dia mandiri dan gigih berusaha.", pungkas Ibu Adi Peni.

Kebersamaan Mama Peni, Rury dan Penari Sanggar Edi Peni Pacitan
Hidup adalah Perjuangan
“Hidup adalah perjuangan.”, quote inilah yang mengawali perbincangan bersama Rury tentang pelajaran hidup yang ia pelajari saat di Sanggar Edi Peni. Ia berkisah tentang kondisi finansialnya yang tidak berkelimpahan, sehingga mengharuskannya menunda membeli beberapa barang yang ia inginkan. Di sini ia mulai belajar untuk menyisihkan uang hasil tanggapan untuk ditabung dan dibelikan barang yang ia inginkan. Ia juga menuturkan bahwa kepiawaiannya menari bisa mengantarkannya menikmati bangku kuliah.

“Sebenarnya ingin kuliah tari di Malang, tapi kondisi ekonomi tidak memungkinkan. Alhamdulillah, Allah memberikan kemudahan dengan takdir-Nya yang lain.”, kenangnya.

Rury akhirnya mengambil beasiswa di jurusan Public Relation di Bina Sarana Informatika. Beasiswa ini ia dapatkan dengan prestasinya dalam bidang tari bersama Sanggar Edi Peni, salah satunya sebagai penari Galuh Pambuka yang menyabet Juara I dalam Festival Tari Jawa Timur tahun 2002. Sambil kuliah, Rury aktif menari bersama Sanggar Anjungan Jawa Tengah TMII Jakarta.

Rury bersama sang anak dan suami berpose bersama para penari Sanggar Edi Peni

Nah, demikian obrolan singkat kami dengan Rury Tiara Facitania. Semoga makin sukses untuk Rury dan semoga kita bisa mengambil pelajaran dari perjalanan hidup Rury! [PK]



Senin, 14 September 2015

Tari Galuh Pambuka


Tari Galuh Pambuka Sanggar Edi Peni Pacitan

Setiap tuan rumah senantiasa berupaya untuk menyambut tamu dengan sebaik-baiknya. Dalam ajaran Islam, memuliakan tetamu juga diajarkan sebagai sebuah kegiatan yang akan membawa berkah. Cara menghargai dan memuliakan tetamu menjadi sebuah hal yang bergantung dengan adat dan kebiasaan yang berkembang pada lingkup keluarga dan masyarakat di mana dia tinggal.

Tari Galuh Pambuka merupakan tarian penyambutan yang berfungsi sebagai salah satu cara untuk menyenangkan tamu yang berkunjung dari sebuah instansi atau daerah lain. Tarian ini umumnya ditarikan pada saat tamu penting datang dalam sebuah acara sebagai rangkaian acara penyambutan. Tari Galuh Pambuka merupakan karya dari Bapak Arif Rofiq, seorang koreografer kawakan serta pimpinan Raff Dance Company.

Tari Galuh Pambuka ditarikan oleh sekelompok gadis dengan gerakan indah untuk memukai para tamu yang datang. Jumlah penari disesuikan dengan kebutuhan, misalkan luar area panggung dan tentunya pertimbangan stok penari dari penampil. Penari Galuh Pambuka akan membawa sebuah properti yang berupa seperti nampan kecil dengan berisi bunga atau sejenisnya untuk dilemparkan di panggung sebagai salam pembuka.

Tari Galuh Pambuka merupakan tarian kreasi yang diciptakan sebagai kado dari Raff Dance Company untuk hari jadi Kota Surabaya. Oleh karena itu, dalam lirik musik pengiringnya beberapa kali diceritakan tentang Surabaya sebagai Kota Pahlawan dan tentang kontribusi perjuangan arek-arek Surabaya dalam kemerdekaan bangsa.

Tari Galuh Pambuka Sanggar Edi Peni Pacitan
Sanggar Edi Peni Pacitan telah beberapa kali menampilkan tari Galuh Pambuka dalam pementasan, baik untuk pagelaran maupun dalam ajang perlombaan. Sanggar Tari Edi Peni Pacitan pernah menggandeng SMA Negeri 1 Ngadirojo pada saat lomba dengan menyajikan tari Galuh Pambuka ini, dan hasilnya tim penari sanggar Edi Peni keluar sebagai yang terbaik dari semua penampil lomba. [PK]


Minggu, 06 September 2015

Geger Gunung Slurung

Peta Kecamatan Sudimoro Pacitan (Foto: Seputar Sudimoro)

Peristiwa Geger Gunung Slurung terjadi pada tahun 1930 saat pemerintah Kolonial Belanda mengadakan program Cacah Jiwa (Sensus Penduduk). Peristiwa ini terjadi di desa Klepu kecamatan Sudimoro kabupaten Pacitan. Peristiwa tersebut berawal dari missunderstanding Kromomedjo akan maksud dari program yang dicanangkan pemerintah Belanda tersebut.Konon, ada peringatan atas peristiwa ini yang dikenal dengan upacara Gembluk Kromomedjo.
Daerah Klepu, pada saat itu, adalah daerah yang sangat terisolasi dari peradaban yang telah tercipta. Sebagian besar penduduknya hanya bergantung dari alam di sekitarnya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tidak ada fasilitas pendidikan yang memadai, karena sekolah hanya ada di pusat kota atau paling dekat di pusat kawedanan. Adanya barrier ini menyebabkan hampir seluruh penduduk Klepu tuna aksara.
Tahun 1930 pemerintah Belanda melaksanakan program Cacah Jiwa (dalam dialek bahasa Jawa: cacah jiwo) untuk mengetahui data statistik penduduk Indonesia, yang waktu itu masih disebut Hindia Belanda. Pemerintah Belanda menggandeng pemerintah daerah, yaitu bupati dan wedana (jabatan setingkat lebih tinggi dari camat) untuk menggerakkan masyarakat dalam menyukseskan program ini.
Adalah Kromomedjo, salah satu penduduk Klepu yang memiliki ilmu kanuragan dan sifat keras kepala. Kromomedjo memahami program “cacah jiwa” ini sebagai sebuah program yang akan menyakiti masyarakat, yaitu dengan “mencacah jiwa” dari setiap penduduk. Kromomedjo seketika menyatakan sikap penentangannya terhadap program pemerintah Belanda ini. Mendengar hal tersebut, beberapa petugas lapangan berusaha untuk menjelaskan makna cacah jiwa yang sebenarnya, namun karena sifat keras kepala yang dimilikinya, Kromomedjo tetap bersikeras dengan pemahamannya tersebut.
Pada hari yang ditentukan, Kromomedjo berhasil mengajak sebagian penduduk untuk turut bersembunyi agar tidak menjadi sasaran program cacah jiwa.  Petugas akhirnya melaporkan penolakan program ini kepada bupati Pacitan, yang kala itu dijabat oleh  R. Adipati Harjo Tjokronegoro II. Mendengar laporan tersebut, Bapak bupati turun tangan dan menuju ke tempat persembunyian Kromomedjo dan pengikutnya. Sesampai di tempat persebunyiaannya, Adipati Harjo Tjokronegoro II mengajak Kromomedjo untuk berbicara secara baik-baik. Kromomedjo tetap bersikeras untuk menentang program cacah jiwa tersebut. Tak hanya dengan kata-kata, Kromomedjo juga menentang dengan jalan mengacungkan keris Condong Campur ke arah bupati hingga berhasil mengenai dan melukai Bupati.
Melihat kejadian tersebut, para tentara yang mengiring bupati terpercik amarahnya sehingga memberondongkan peluru ke arah Kromomedjo. Tindakan ini menyebabkan beberapa orang pengikutnya tewas, termasuk kedua saudara Kromomedjo. Kromomedjo sendiri tetap berdiri tegak karena kebal terhadap senjata api. Akhirnya, Kromomedjo dapat diringkus dan dieksekusi setelah tentara mengetahui titik kelemahan Kromomedjo.
Peristiwa tragis di Gunung Slurung inilah yang diiperingati dalam perayaan upacara adat Gembluk Kromomedjo. Dalam perayaan ini, diharapkan agar generasi penerus bangsa menjadi generasi yang cerdas sehingga tidak mudah terpancing amarah karena kesalahfahaman. Dengan modal kecerdasan, seseorang juga dapat melakukan tabayyun (cross check) atas informasi yang diterimanya. [PK]