Rabu, 10 Juni 2015

Tari Remo ala Sanggar Edi Peni Pacitan

Penari Remo bersama Ibu Adi Peni dan Ibu Dwi Narmiati

Tari Remo merupakan tari selamat datang khas Jawa Timur yang menggambarkan karakter dinamis Jawa Timur. Tarian ini dikemas sebagai gambaran keberanian seorang pangeran yang berjuang dalam sebuah medan pertempuran. Makanya sisi kemaskulinan penari sangat dibutuhkan dalam menampilkan tarian ini. Tarian yang dipromosikan sekitar tahun1900 ini, pernah dimanfaatkan oleh nasionalis Indonesia untuk berkomunikasi kepada masyarakat.

Gerakan kaki yang rancak dan dinamis menjadi karakteristik yang paling utama. Gerakan ini didukung dengan adanya lonceng-lonceng yang dipasang di pergelangan kaki. Lonceng ini berbunyi saat penari melangkah atau menghentak di panggung. Selain itu, karakteristik yang lain yakni gerakan selendang atau sampur, gerakan anggukan dan gelengan kepala, ekspresi wajah, dan kuda-kuda penari membuat tarian ini semakin atraktif. 

Aksi Panggung Para Penari Remo Sanggar Edi Peni

Beberapa ragam gerak tari hasil dari penggabungan antara ragam gerak tari Besut dan ragam gerak tari Klana dapat disebutkan antara lain sebagai berikut : gedrug, kipatan sampur, gendewa, ngore rekmo, nebak bumi, tatasan, ceklekan, tranjalan, tepisan, nglandak, kencak, klepatan, telesik, bumi langit.
Aksi Panggung Para Penari Remo Sanggar Edi Peni

Tari Remo Sanggar Edi Peni Pacitan ditampilkan di panggung acara Tutup Warsa Siswa Kelas IX SMP Negeri 1 Ngadirojo, Pacitan. Tarian ini dibawakan oleh 6 penari wanita dengan trengginas melanggak-lenggokkan badan khan gaya jula-juli Suroboyo. Adi Peni, selaku pembibing, mengungkapkan bahwa pemilihan tari ini bertujuan untuk mengenalkan budaya khas Jawa Timur kepada masyarakat Pacitan, khususnya warga Ngadirojo. "Secara geografis, Pacitan memang lebih dekat dengan budaya Mataraman yang dipengaruhi oleh Keraton Ngayogyakarta dan Surakarta. Namun, secara administratif, Pacitan masuk dalam wilayah kerja Jawa Timur, sehingga tari ikon Jawa Timur-an juga perlu kami kenalkan.", tuturnya.

Selain menampilkan tari Remo, Sanggar Edi Peni juga menampilkan Tari Zapin dan tari kreasi baru, Tari Topeng Wonocaki. [PK]

Tari Topeng Wonocaki

Tari Klonthong Jengglur, Hadiah Ulang Tahun Pacitan ke-269 dari Lorok

Para penari Klonthong Jengglur siap tampil prima (Foto: PK)

Tari Klonthong Jengglur merupakan salah satu karya spektakuler dari Sanggar Edi Peni. Karya ini merupakan kado dari seluruh warga Pacitan bagi Kabupaten Pacitan yang berulang tahun ke-269, tahun 2014 silam. Dengan menghadirkan 100 penari dan diiringi oleh lelagu dari 50 pengrawit, tari ini tampil meriah dan menghangatkan suasana yang kala itu diguyur hujan gerimis.

Fragmen awal dari tari Klonthong Jengglur (Foto: PK)

Seratus penari ini mengenakan kostum kuning-merah-orange yang menggambarkan keceriaan dari masyarakat Pacitan. Mahkota yang dikenakan penari merupakan replika dari dedaunan yang melambangkan berta melipahnya sumber daya alam yang terdapat di Kabupaten Pacitan. “Ini merupakan gambaran Pacitan secara utuh, maka properti kami buat kaya dengan sarung, besek, daun pisang dan umbul-umbul.”, tutur Edi Suwito, S.Pd., selaku ketua rombongan.

Gerak tari Klonthong Jengglur yang menggambarkan penyambutan kepada atahari pagi (Foto: PK)

Dalam penggarapannya, Edi Suwito juga dibantu oleh rekan-rekan sesama penata tari dari seluruh Kabupaten Pacitan agar gambaran pacitan di dalam tari ini dapat tergambarkan secara utuh. Dalam penggarapan musik, Bapak M. Kasim masih dipilih sebagai pilihan utama, dan sang istri, Ibu Adi Peni didapuk sebagai penata rias dan busana.

Salah satu gerakan tari Klonthong Jengglur (Foto: PK)

Salah satu gerak tari Klonthong Jengglur (Foto: PK)

Judul "Klonthong Jengglur" sendiri merupakan hasil penggabungan dua komponen utama yang menjadi inspirasi dari tari ini. "Klonthong" (klonthongan) merupakan benda yang umumnya dikalungkan di leher sapi. Benda ini menghasilkan bunyi khas yang jika ditata akan menimbulkan bunyi yang indah dan menawan. Adanya "klonthong" ini menggambarkan bahwa banyak dari warga Kabupaten Pacitan yang berprofesi sebagai petani, sehingga warga sangat akrab dengan properti ini. Sedangkan "jengglur" merupakan salah satu alat musik pukul yang banyak ditemukan di Kabupaten Pacitan.

Sebagian pengrawit Klontong Jengglur (Foto: PK)

Sebagian pengrawit dan swarawati (Foto: PK)

Tari Klonthong Jengglur pertama kali ditampilkan dalam puncak acara peringatan Ulang Tahun Pacitan, 19 Februari 2014 silam. Pada akhir pementasan, wakil penari mempersembahkan souvenir yang masih berbau klontong kepada Bupati Pacitan. [PK]

Penari memberikan souvenir kepada Bupati Pacitan. (Foto: PK)



Selasa, 09 Juni 2015

Tari Topeng Wonocaki



Tari Topeng Wonocaki merupakan tari yang mengambarkan punggawa kerajaan Glandhang Plawangan. Karakter Wonocaki adalah seorang yang gagah dan berani dalam mengabdikan sepenuh jiwa dan raga kepada Negeri. Induk cerita Wonocaki masih berasal dari upacara adat Jangkrik Genggong yang dilaksanakan di daerah Tawang, Sidomulyo, Kec Ngadirojo. 


Dalam penggarapannya, Tari Topeng Wonocaki yang diramu oleh Ibu Adi Peni, S.Pd. menggandeng Bapak Sapto Haryono sebagai penata musik dan selalu menggandeng sang suami, Bapak Edi Suwito, S.Pd. yang kali ini berperan dsebagai penata rias dan busana. Tari Topeng Wonocaki dibawakan oleh lima penari dari SMP Negeri 1 Ngadirojo dalam ajang FLSSN SMP Kabupaten Pacitan, 20 Mei 2015 silam.

Penampilan Tari Topeng Wonocaki dalam FLSSN SMP Pacitan

Penampilan Tari Topeng Wonocaki dalam FLSSN SMP Pacitan

Meskipun sudah tampil maksimal dengan busana dan musik yang juga maksimal, namun Tari Topeng Wonocaki belum mampu menyabet satu gelarpun dalam ajang tersebut. Ibu Adi Peni, S.Pd. selaku kepala rombongan menyampaikan bahwa estetika dan kesuksesan sebuah karya tidak hanya diindikasikan dengan seberapa banyak kejuaraan yang diperolehnya. "Tetap bangga dengan perjuangan anak-anak dan seluruh tim. Menang atau kalah hanya urusan kesesuaian selera dengan Juri.", lanjutnya.

Menutup pembicaraan, Ibu Adi Peni, S.Pd. menyampaikan bahwa menang atau kalah bukan alasan untuk berhenti berkarya. Kemenangan bisa dijadikan sebuah kebanggaan dan acuan, sedangkan kekalahan adalah cambuk evaluasi agar ke depan bisa lebih berprestasi. [PK]

Senin, 08 Juni 2015

Tari Gadhung Mlathi, Mistis yang Manis!


Tari Gadhung Mlathi sendiri merupakan salah satu segmen dari Cerita Rakyat Jangkrik Genggong yang dipercaya di daerah dusun Tawang, desa Sidomulyo, kecamatan Ngadirojo, Pacitan. Nama Gadhung Mlathi dipercaya merupakan anak dari Kanjeng Ratu Kidul yang merupakan penjaga di salah satu danyangan di daerah Tawang. Masyarakat di sekitarnya harus menyediakan sesaji agar sang Gadhung Mlathi tidak terganggu. Hal ini terkait keyakinan warga sekitar bahwa jika Sang Gadhung Mlathi terganggu, ia akan mengamuk dan merasuki warga di sekitarnya. Oleh karena itu dilaksanakanlah ritual bersih desa yang menyediakan sesajen lengkap dengan iringan tayub. Masyarakat Tawang meyakini bahwa setelah dilaksanakannya ritual bersih desa dan larung sesaji ini, panen ikan para nelayan akan melimpah.



Pada bagian awal tari, Gadhung Mlathi yang dibawakan oleh 5 penari wanita ini menggambarkan kehidupan sehari-hari di daerah Tawang, SIdomulyo. Berbusana kebaya dan mengenakan kain batik panjang (jarik). Busana ini masih terus dikenakan hingga adegan kesurupan yang akhirnya para penari "berganti" kostum menjelma sebagai seorang Gadhung Mlathi yang cantik dan energik. Gerakan-gerakan lincah khas pesisir disajikan oleh ke-lima penari hingga akhir tari.


Wus dungkap wahyaning mangsa kala
Tumapaking bersih desa ing wulan Sela 
Pra warga dampyak-dampyak ngleluri budhaya 
Winastan nadyan cecaos sugata kang Maha Kuwasa

Demikian salah satu syair yang mengiri gerakan indah gemulai para penari. Tari Gadhung Mlathi diakhiri dengan pose pemberian persembahan berupa iwak pajung (kakap merah) agar kerasukan dapat teratasi.



Identitas Karya
Judul                    : Tari Gadhung Mlathi
Penata tari             : Edi Suwito, S.Pd.
Penata musik         : M. Kasim
Penata rias-busana : Adi Peni, S.Pd.
Prestasi:
1. Juara 1 FLSSN SMP Kab. Pacitan 2014
2. Wakil Kab. Pacitan di ajang FLSSN SMP Provinsi Jawa Timur 2014
3. 5 Penyaji Terbaik Festival Karya Tari Provinsi Jawa Timur 2014
4. 3 Besar Tata Rias dan Busana Terbaik Festival Karya Tari Provinsi Jawa Timur 2014
[PK]


Minggu, 07 Juni 2015

Menilik Ulang Karya Monumental: Sanjaya Rangin

Penampilan Tari Sanjaya Rangin di FLSSN Kab. Pacitan 2013

Monumental!
Demikian salah satu ungkapan yang bisa menggambarkan karya tari Sanjaya Rangin ini. Karya tari Sanjaya Rangin menggambarkan jiwa kepahlawan seorang founding father wilayah Lorok, Pacitan. Sanjaya Rangin dikenal sebagai seorang yang babat alas untuk membuka dan membangun wilayah Lorok. Lorok sendiri merupakan wilayah eks kawedanan yang meliputi kecamatan Tulakan, Ngadirojo dan Sudimoro.

Tari Sanjaya Rangin merupakan kolaborasi apik dari pasangan suami istri pemilik Sanggar Seni Edi Peni, yaitu Bapak Edi Suwito, S.Pd. sebagai penata tari dan sang istri, Ibu Adi Peni, S.Pd. sebagai penata rias dan busana. Dalam penggarapannya, pasutri ini menggandeng salah satu musisi senior, Bapak M. Kasim untuk meramu irama tabuhan sebagai musik pengiring tari ini.

Bersama beberapa penari, termasuk dari siswi-siswi SMP Negeri 1 Ngadirojo, Pacitan, tari Sanjaya Rangin tampil di beberapa even regional maupun nasional. Memulai kiprah sebagai Runner Up Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) SMP tingkat Kabupaten Pacitan, selanjutnya tari ini dievaluasi dengan penambahan dan pengurangan beberapa aspek untuk membuat tampilan lebih ciamik.

Sanjaya Rangin selanjutnya terpilih untuk mewakili Kabupaten Pacitan dalam ajang Pekan Seni Pelajar (PSP) Jawa Timur 2013. Tampil prima, tari yang membawa properti busur panah unik ini diganjar sebagai 5 Penyaji Terbaik di tingkat provinsi. Ternyata belum selesai sampai di sini, pengumuman berlanjut dan akhirnya menobatkan tari Sanjaya Rangin sebagai Penata Tari Terbaik dan Penyaji Terbaik di ajang Pekan Seni Pelajar (PSP) Jawa Timur 2013 tersebut.

"Alhamdulillah, 2 Piala dalam 1 ajang. Terima kasih atas kerja keras semua tim.", ungkap Bapak Edi Suwito, S.Pd. kala itu.

Penampilan Tari Sanjaya Rangin di TMII tahun 2013


Setelah didapuk sebagai Jawara PSP 2013, Sanjaya Rangin melenggang untuk tampil di anjungan Jawa Timur di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta. Tak hanya satu tari saja, Sanggar Seni Edi Peni Pacitan juga menampilkan karya tari yang lain untuk menghibur dan menunjukkan bahwa budaya daerah merupakan aset budaya bangsa.

Sukses di Jakarta, Sanjaya Rangin pulang kampung dan kembali unjuk kebolehan untuk menyambut Bapak SBY dalam kunjungan kerja R1 ke Pacitan.

Penari Sanjaya Rangin sebelum tampil di depan Bapak SBY


Sebagai karya monumental, Sanjaya Rangin menjadi salah satu tonggak pelecut semangat agar Sanggar Seni Edi Peni terus berkarya dan melestarikan budaya. [PK]

Sabtu, 06 Juni 2015

Kabupaten Pacitan Raih 2 Gelar Terbaik di Ajang FLS2N SMP Jawa Timur 2015


                                           Tim Musik Tradisi SMP Negeri 1 Ngadirojo, Pacitan (Foto: Adi Peni)


Kabar menggembirakan datang dari rombongan FLS2N SMP Kabupaten Pacitan di ajang FLS2N Provinsi Jawa Timur 2015 yang digelar Sabtu, 6 Juni 2015 di Surabaya. Meskipun kategori Musik Tradisi (SMP N 1 Ngadirojo) dan Vocal Group (SMP N 1 Pacitan) belum mampu menyabet predikat juara, namun Kabupaten Pacitan mendapatkan hasil memuaskan dari kategori yang lain.

Linisasih, siswi SMP N 1 Ngadirojo berhasil memperoleh predikat Juara I dalam kategori desain batik. Kategori Cipta Puisi juga membuahkan nilai tertinggi. Dalam kategori ini, Kabupaten Pacitan diwakili oleh siswa SMP N 1 Pacitan. Sedangkan Tari Topeng Genjring dari SMP N 1 Punung masuk dalam predikat 5 Penyaji Terbaik Kreasi Tari.

Musik Tradisi sendiri dimenangi oleh tim tuan rumah, Surabaya, dengan ditemani oleh Sidoarjo, Banyuwani, Blitar dan Nganjuk dalam jajaran 5 penyaji terbaik.

"Seluruh tim sudah berjuang maksimal, apapun hasilnya kami tetap bangga dengan penampilan anak-anak.", tutur Adi Peni, S.Pd.

Semoga tahun depan Kabupaten Pacitan lebih banyak lagi memperoleh kejuaraan..... Tetap semangat! Tetap Berjaya! [PK]


Jumat, 29 Mei 2015

Pesan Bijak dari Musik Tradisi

"Kolang kaling kalung kalunge si lurah Gareng
Gamelan manungkung binarung ngelike sindhen"


Demikian sepenggal syair yang dinyanyikan oleh Tim Musik Tradisi siswa-siswa SMP Negeri 1 Ngadirojo, Pacitan di ajang Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) SMP Negeri/Swasta Kabupaten Pacitan. Lomba yang digelar dengan konsep pagelaran tersebut sengaja ditempatkan di salah satu titik keramaian di Ibukota Kabupaten, yaitu Pasar Sawo. Tanggal 20 Mei 2015 silam, lomba dimulai sekitar pukul 19:30 dengan mempertandingkan tiga mata lomba, yaitu musik tradisi, vocal group dan kreasi tari.

Tim Musik Tradisi SMP Negeri 1 Ngadirojo tampil dengan nomor undian 02 dengan mengenakan busana bermotif lurik. "Memang kami mengusung lurik untuk tema busananya, karena memang lurik sedang 'in' di Pacitan.", ujar Adi Peni, S.Pd., salah satu guru pendamping.

Tampil dengan tajuk "Mumpuni", Tim Musik Tradisi SMP Negeri 1 Ngadirojo menyuguhkan tampilan yang apik. Memainkan berbagai alat musik bagian dari gamelan, mulai dari bonang hingga gong, ditambah dengan klontong sapi, musik patrol, hingga gelang kaki penari. Selain mempertontonkan kepiawaian dalam memainkan alat musik, Tim Musik Tradisi SMP Negeri 1 Ngadirojo juga menyisipkan pesan moral dalam beberapa penggal syairnya. Sebut saja penggalan "tambah gedhe, tambah pede" atau kalimat "yen wani ojo wedi-wedi, yen wedi ojo wani-wani.". Guru pendamping membenarkan hal tersebut, menurut wanita berjilbab merah jambu (kala itu), bahwa tampilan musik tradisi, dan tampilan apapun, seharusnya tidak hanya menyajikan tontonan yang kosong, namun juga sarat makna, sehingga penonton dapat menikmati sekaligus mendapatkan pelajaran dari tampilan tersebut.



Dari hasil pengumuman dewan juri, Tim Musik Tradisi  SMPN 1 Ngadirojo menjuarai lomba musik tradisi dan selanjutnya akan mewakili Kabupaten Pacitan di ajang serupa pada level Provinsi Jawa Timur. Semoga terus berkreasi dan juara! [PK].

Tari Topeng Sumur Gedhe


Daerah Tawang, Desa Sidomulyo,Kecamatan Ngadirojo,Kab Pacitan merupakan daerah pesisir pantai selatan dimana di daerah itu masih banyak penguasa sumber air yang berwujud mahluk halus ,yang  masih dipercaya keberadaannya oleh masyarakat setempat.Nama-nama penguasa sumber air itu adalah Rogo Bahu penguasa Glandang Plawangan, Wonocaki penguasa Teren, Gadhung Mlathi penguasa Sumur Gedhe,Mangku Negara  penguasa Sumur Pinggir.


Para penguasa ini akan merasa nyaman bila tiap selasa kliwon bulan Longkang/ selo diadakan Upacara adat berupa bersih desa dengan puncak acaranya tayuban. Dalam Upacara adat ini juga disertai ubo rampe/ perlengkapan sesaji yang aneh-aneh, dan syarat ini harus lengkap seperti,Bothok Ikan Pajung (Kakap Merah),Krawon Daun Kemaduh,Sambel Tlethong Jaran (Kotoran Kuda).

Tari Topeng Sumur Gedhe mencoba menggambarkan sosok Gadhung Mathi yang cantik, centil dan energik. Tari ini tampil sebagai Juara Kedua Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) SMP Kabupaten Pacitan.


Identitas Tari
Judul                     : Tari Topeng Sumur Gedhe
Penata Tari            : Edi Suwito, S.Pd.
Penata Musik         : M. Kasim
Penata Busana        : Adi Peni, S.Pd.
Pelatih teknis        : Ria Mafilindasari, S.Pd.
Penari                    : Siswi-siswi SMP Negeri 3 Ngadirojo

Kamis, 28 Mei 2015

Genggongan Mangslup Ramaikan FKT Jawa Timur 2015

Genggongan Mangslup merupakan judul karya terbaru dari Sanggar Edi Peni yang telah ditampilkan di Festival Karya Tari (FKT) Jawa Timur 2015. Festival tersebut merupakan festival tahunan yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. Tahun ini, FKT Jatim 2015 digelar di Gedung Cak Durasim Surabaya dengan diikuti oleh 37 Kota/Kabupaten yang tersebar di seluruh Provinsi Jawa Timur.

Genggongan Mangslup menjadi wakil Kabupaten Pacitan untuk bersaing dengan Kota/Kabupaten lain dalam menyajikan karya tari (Genggongan Mangslup Wakil Pacitan). Tari ini terinspirasi dari Upacara Adat di TPI Tawang, Desa Sidomulyo, Kecamatan Ngadirojo, Pacitan. Awal terjadinya upacara ini ,bermula dari tangisan sang Gadhung Mlati yang menginginkan di gelarnya hiburan untuk mengobati hatinya yang gundah gulana karena ditinggal pergi sang kekasih pujaan hatinya. Raja Rogo Bahu belum berkenan mengadakan hiburan karena keadaan daerah yang masih serba kekurangan dan masyarakat yang masih belum mampu dalam hal ekonomi. Namun Gadhung melati tidak mau tahu keadaan seperti itu, maunya diadakan hiburan untuk mengobati hatinya,malah –malah dia berbuat ulah dengan cara ngedan dan membuat huru hara dengan cara masuk ke jasad seseorang (mangslup) dan berbuat gila .

Karena kejadian ini maka Raja Rogo bahu merasa iba dan akhirnya menyuruh Wono caki agar menggelar hiburan tayuban dengan  tata cara negri Glandang Plawangan. Pada acara tayuban pun ada upacara adat yang harus dijalankan diantaranya ,sesajen lengkap ,membakar kemenyan di tempat penyimpanan pakaian para penguasa sumber air (kedongan Tengah), disediakan peraga yang memperagakan para penguasa sumber air, dimana para peraga harus masih keturunan masyarakat Tawang , para peraga itu antara lain Mangku negara, Rogo Bahu, Wonocaki, Gadhung Mlathi.

Untuk membuka  acara Gelar Tayub maka harus didahului oleh para penguasa sumber air,baru kemudian dilanjutkan oleh masyarakat. Dalam acara ini biasanya Gadhung mlathi suka membikin ulah apabila dia mempunyai keinginan terhadap pakaian yang dipakai seseorang  maka dia akan mengganggu orang tersebut.

Para penguasa sumber air inipun mempunyai gendhing-gendhing klangenan/kesukaan, diantaranya, Mangku Negara dengan gendhing Cakra Negara, Raga Bahu dengan Gendhing Samirah, Gadhung Mlathi dengan gendhing Godril dan Ijo-ijo, Wonocaki dengan gendhing Jangkrik Genggong. Biasanya Wonocaki tampil paling akhir karena biasanya punya tarian yang atraktif dan gecul sehingga menarik .karena gending inilah maka orang menamakan upacara adat ini dengan nama “GENGGONGAN”


Tari Genggongan Mangslup digarap oleh penata tari Edi Suwito, S.Pd dengan didampingi sang istri sebagai penata rias dan busana, Adi Peni, S.Pd. Selain itu, tari garapan ini juga menggandeng musisi senior di tanah Lorok, M. Kasim, sebagai penata musik. Tari Genggongan Mangslup sendiri ditarikan oleh delapan penari wanita yang diiiringi oleh 11 pengrawit, 1 swarawati dan 2 wiraswara.

Meski tak mampu meraih kejuaraan, tari ini tetap mencuri perhatian masyarakat dengan kostum yang telah didesain megah dan mencolok. Tari Runtik Lamongan tampil sebagai Penyaji Terbaik FKT Jatim 2015. Adi Peni, S.Pd. menanggapi hasil ini dengan bijak, "Perkembangan karya tari di Jawa Timur sudah luar biasa. Sudah tidak dapat diprediksi semudah dahulu. Tahun lalu kami masih dapat menyabet kejuaraan (baca: Hasil FKT 2014), tahun ini hampa. Ke depan, harus menjadi cambuk dan evaluasi agar lebih pas di hati juri dan penikmat seni. (PK)